Sepasang anak manusia yang tengah berjalan beriringan itu secara langsung menjadi perhatian pengunjung pusat perbelanjaan petang ini. Satu pria yang cukup tinggi untuk ukuran warga lokal dan satu lagi seorang bule yang selalu menarik perhatian.
Alice dengan percaya dirinya yang tinggi sama sekali tidak keberatan untuk terus diperhatikan, berbeda dengan Andra yang lebih banyak menunduk dan tampak enggan memperlihatkan wajahnya. Pria itu bahkan sampai memakai topi yang mempu menutupi pandangannya agar tidak dikenali. Bagaimanapun mall ini masih berada di satu wilayah dengan kantor dan apartemen mereka. Status Andra yang telah bertunangan membuatnya tak ingin menambah masalah jika sampai ketahuan sedang jalan bersama wanita lain. Apalagi sejak dari apartemen tadi Alice sama sekali tidak melepas genggaman tangannya dari lengan Andra.
“Langsung ke tujuan utama saja. Kamu mau beli apa?” tanya Andra bertujuan mempersingkat waktu.
“Hey, mumpung sudah disini, kita keliling-keliling dulu,” sanggah Alice.
“No, Al! Aku tidak bisa terlalu lama di tempat ramai,” Andra tidak setuju dan terus menundukkan wajah.
“Ayolah, Andra,” wanita itu merengek.
“Jangan membuatku semakin terlibat masalah,” tegas Andra.
Alice menghentikan langkahnya dan ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan memelas. “Kamu tidak mau ada yang membuat gosip kamu berselingkuh dari tunanganmu?”
Andra mengangguk pelan. Alice pun tak lagi tampak bersemangat dan segera melepaskan kaitan lengan mereka.
“Ya sudah, kamu pulang saja. Aku bisa sendiri. Maaf sudah mengganggumu,” ujar Alice seraya beranjak meninggalkan Andra.
“Alicia!”
Andra bergerak cepat dan berhasil menahan bahu Alice serta menghentikan langkah wanita bule itu.
“Aku sudah setuju untuk menemanimu, tidak apa-apa asal identitasku aman,” ujar Andra.
“Yakin tidak apa-apa?” tanya Alice sangsi dan dibalas anggukan Andra.
Namun, Alice masih cukup ragu mengingat Andra adalah sosok yang cukup dikenal publik meskipun tidak sampai setenar kakaknya. Wanita itu tampak celingak-celinguk selama beberapa saat, lalu ia menarik lengan Andra ke sebuah toko tak jauh dari tempat keduanya berdiri.
“Orang-orang tidak akan mengenalimu kalau pakai ini,” ujar Alice sambil mengacungkan kantong masker. “Aku bayar dulu.”
Andra diam-diam tersenyum simpul saat Alice tengah berada di depan kasir. Ia suka saat Alice memperhatikannya seperti ini. Padahal biasanya Andra akan selalu cuek pada siapa pun yang berinteraksi dengannya.
=====
“Apa Arjuna dan Ara yang memberitahumu kalau aku sudah punya tunangan?” tanya Andra saat ia dan Alice berada di toko aksesoris.
Alice akan membeli beberapa model ikat rambut setelah seminggu ini sering ditegur Andra perihal tatanan rambutnya.
“Ya. Berkali-kali mereka mengingatkanku untuk tidak menggodamu,” jawab Alice yang sedang memilih ikat rambut lucu dihadapannya. “Sepertinya mereka masih ingat jika dulu aku pernah menyukaimu.”
“Kamu menyukaiku?” tanya Andra kaget.
Kedua bola matanya membesar dengan kelopak yang beberapa kali berkedip seperti mencari sebuah jawaban. Sementara jantungnya berdetak lebih cepat setelah mendengar pengakuan Alice yang blak-blakan.
“Tidak tahu?” Alice balik bertanya yang disambut gelengan pelan Andra. “Ck, padahal setiap ada kesempatan aku selalu mendekatimu. Tapi lupakan saja! Dalam bahasa Indonesia, itu seperti cinta monyet. Bukan sesuatu yang serius.”
Andra mengangguk beberapa kali membenarkan, tetapi ada rasa tidak terima dalam hatinya jika Alice melupakan perasaannya saat itu. Momen awal perkenalan keduanya delapan tahun lalu masih sangat membekas dalam ingatannya. Andra bahkan ingat bagaimana Alice meringis kesakitan setelah tersandung kaki Dyah dan menumpahkan es buah keatas bajunya. Itu adalah momen yang sangat berkesan untuk Andra.
“Bagus yang mana?” tanya Alice sambil menunjukkan dua jenis ikat rambut yang hampir serupa, tetapi dengan warna yang berbeda.
“Ambil saja keduanya,” jawab Andra ringan.
“Hey, mana bisa begitu? Saat dihadapkan pada dua pilihan, harus bisa memilih salah satunya, tidak bisa memilih keduanya karena itu egois,” tegur Alice.
“Kamu saja tidak bisa memilih,” dengus Andra.
“Makanya aku minta bantuanmu,” sahut Alice membela diri. “Jadi yang mana?” tanyanya lagi dengan mununjukkan ikat rambut polos ditangan kanan dan motif polkadot di tangan kiri.
“Polos,” sahut Andra asal.
“Oke, aku beli keduanya!”
Andra membuka sedikit mulutnya dengan kedua netra yang membelalak. Setelah tadi ceramah dan mengatakan egois jika memilih keduanya, Alice justru berakhir membungkus kedua ikat rambut tersebut. Dasar wanita.
“Ayo!” ajak Alice setelah menyelesaikan pembayaran.
Andra menggelengkan kepala dan terus mengikuti Alice.
Keduanya berjalan beriringan melewati toko demi toko hingga akhirnya kaki Alice berhenti di toko sepatu. Mumpung sedang bersama dengan si tuan protes, Alice akan memilih sepatu sesuai dengan kriteria Andra, agar saat di kantor pria itu tidak terus-terusan mengomelinya perihal sepatu.
Ada beberapa pasang yang sudah Andra pilihkan yang sayangnya pilihan itu malah membuat Alice cemberut. Modelnya memang cantik, tetapi itu tidak bisa membuat kaki jenjangnya terlihat lebih menonjol karena semuanya bermodel flat shoes. Andra dengan keantiannya pada sepatu hak tinggi.
“Kenapa hanya aku yang tidak boleh pakai sepatu hak tinggi? Padahal kulihat kak Wildan juga memakai sepatu yang sama. Ada masalah denganku?” tanya Alice bernada protes dan kesal.
“Ya, kamu jadi lebih tinggi dariku,” jawab Andra singkat seraya memberikan tiga pasang sepatu pada petugas untuk dibungkus.
“Hey, aku belum setuju membelinya!” kesal Alice sambil berkacak pinggang.
“Anggap saja aku memberikannya untukmu sebagai hadiah,” balas Andra sambil mengulurkan kartu kreditnya.
“Ck, hadiah? Dalam rangka apa?”
“Dalam rangka untuk menutup mulutmu supaya kamu tidak terlalu banyak bicara!”
Alice memutar kedua bola matanya malas. “Terima kasih untuk itu, tapi apa kamu tahu cara lain untuk membungkam mulutku dengan lebih cepat?”
Andra menatap Alice dengan netra menyipit. Ia semakin was-was saat dilihatnya Alice sedang menaik-turunkan kedua alisnya.
“Bagai-mana?” tanya Andra ragu.
Alice kemudian tersenyum menawan yang kembali mengganggu kesehatan jantung Andra. Jari telunjuk wanita itu menunjuk pada bibirnya yang sedikit mengerucut. “Kiss me!”
Sudah Andra duga Alice akan melakukannya. Wanita itu tidak pernah berubah sejak dulu. Terlalu genit dan selalu memiliki cara untuk menggoda lawan bicaranya. Andra pun segera melengos agar tidak semakin terjebak pada pesona Alice seraya menerima barang belanjaan serta kartu kreditnya dari kasir.
“Bukannya kamu bilang tidak akan menggodaku?”
Alice yang baru menyadari hal itu segera menepuk jidatnya ringan tanda menyesal. “Ups, maaf! Kebiasaan susah dihilangkan,” ujarnya.
Keduanya kembali menyusuri setiap sudut pusat perbelanjaan dengan tenang, tanpa perlu khawatir Andra akan ketahuan. Posisi mereka saat ini sedang jalan beriringan, tangan kiri Andra menenteng paper bag hasil belanjaan, sementara lengan kanannya kembali digamit oleh Alice. Sekilas mereka tampak seperti pasangan yang sedang berkencan di akhir pekan ini.
Sebenarnya tujuan Alice sudah selesai dan Andra mengajaknya untuk segera kembali ke apartemen. Namun, Alice sudah lebih dulu membawa pria itu memasuki sebuah restoran untuk makan malam. Sekali lagi Andra pasrah dan mengikuti kemana pun Alice pergi.
Keduanya memiliki tipe diet yang sangat berkebalikan. Andra adalah seorang vegetarian, sedangkan Alice menyukai segala jenis daging. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
Setelah makan malam, lagi-lagi Alice enggan untuk segera pulang. Waktu baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan wanita muda itu kembali menarik lengan Andra menuju bioskop. Ia ingin menikmati hari minggu ini sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan dan gerutuan Andra besok. Setidaknya hari ini ia bisa bersenang-senang sampai puas.
Andra yang tipe anak rumahan sesungguhnya tidak suka berada di keramaian terlalu lama. Namun, untuk pertama kalinya ia menikmati momen berkeliling pusat perbelanjaan yang cukup ramai ini. Ia tak perlu khawatir menjadi pusat perhatian berkat usaha Alice yang membuat penampilannya tersamarkan. Meskipun wanita muda itu banyak sekali maunya, tetapi anehnya Andra sama sekali tidak keberatan, hanya sesekali gerutuan yang membuatnya kembali dikatai mirip squidward oleh Alice. Berjalan-jalan dan menikmati hari libur dengan wanita itu tanpa terbebani nama keluarganya ternyata sama sekali tidak buruk.
“Jangan membuatku terlalu terbiasa dengan keberadaanmu, Chica. Kamu hanya sementara disini dan hidupku sudah diatur dengan sempurna. Tapi, sedikit menikmati momen ini tidak apa-apa, ‘kan?”