“Bb-bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Alice terbata. Kedua mata wanita itu membola seiring dengan degup jantungnya yang meningkat akibat rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Ia juga memundurkan tubuhnya untuk menambah jarak antara dirinya dan juga Andra. Tatapan Andra melemah bersamaan dengan bahunya yang merosot. “Ternyata benar. Aku hanya menebak,” gumamnya yang semakin membuat Alice merasa canggung. “Bagaimana bisa dia menyakitimu seperti ini? Orang itu tak pantas menyebut dirinya pria dengan perilakunya ini!” “Kamu bilang tidak akan bertanya,” ketus Alice. “Apa ini yang pertama?” tanya Andra lagi, mengabaikan protes Alice. Namun, wanita itu memalingkan wajahnya, enggan menanggapi. “Sepertinya bukan,” Andra menjawab pertanyaannya sendiri seraya tersenyum getir. Pria itu meraih bah

