“Andra mana, Mas? Panggilin Andra!” Suara rintihan dengan kalimat yang selalu sama setiap kali wanita paruh baya itu sanggup membuka matanya. Kondisinya begitu lemah hingga tak bisa beranjak dari atas ranjang, tetapi masih saja belum mau dirawat di rumah sakit dengan alasan menunggu putra tunggalnya yang membujuk. Dyah tidak peduli meskipun kondisinya terus memburuk, selama Andra belum ada disampingnya dan merawatnya, ia akan terus pada pendiriannya. Hal itu membuat Riswan sang suami semakin frustrasi. Wajah tuanya tampak semakin kusut, bahkan rambutnya yang dihiasi uban itu juga selalu menjadi pelampiasan kegusarannya. Ia benar-benar sangat marah dan kecewa pada Andra yang lagi-lagi pergi begitu saja, seolah tanpa menoleh ke belakang. Tiga hari sudah ia mencari putranya kemana-mana. M

