Tak seperti pagi biasanya dimana Andra selalu terbangun sejak langit masih cukup gelap. Pagi ini pria itu bahkan masih bergelung dibawah selimut hingga berkas-berkas sinar mentari mulai menyelinap melalui kisi-kisi jendela. Kelopak matanya mengerjab, menyesuaikan intensitas cahaya yang menghampiri retina sembali memutar kembali memori tentang kejadian semalam. Tiba-tiba saja kedua netranya membola dan Andra pun terperanjat hingga terduduk di atas ranjang. “Alice!” serunya dengan cepat. Atensinya menyapu setiap sudut kamar mencari keberadaan si bule. Seingatnya, semalam ia membawa wanita itu keatas ranjangnya dan mereka menghabiskan malam panjang bersama. Namun, tak sedikit pun jejak Alice yang tampak. Sebuah helaan napas panjang disertai raut wajah mendung segera menghampiri Andra. “Apa

