Sejak hari itu, Alice hampir tak pernah bisa menghabiskan istirahat makan siangnya dengan bebas, padahal ingin sekali rasanya bersosialisasi dan berkenalan dengan karyawan lain. Namun, ada saja pekerjaan yang Andra berikan dan sebagian besar berada di luar kantor.
Sebenarnya Alice tidak terlalu keberatan, karena ia bisa sekalian melihat-lihat kota Jakarta dan sekitarnya tanpa perlu membuat agenda khusus untuk berkeliling. Hanya saja, sikap Andra yang dingin serta ketus kerap kali membuat wanita asli Spanyol itu berang sekaligus gemas. Jika tidak ingat pria itu adalah bos sekaligus sepupu kakak iparnya, mungkin Alice sudah akan mengurung Andra didalam barel anggur dan menggelindingkannya dari atas bukit di perkebunan milik ayahnya.
Akhir pekan ini, seperti kesepakatan awal, Alice akan pindah dari rumah besar keluarga kakaknya untuk belajar menjadi lebih mandiri. Juna yang pada dasarnya banyak bicara pun menyampaikan pesan dan wajangannya seperti sedang memberikan kuliah pada Alice.
“Kakak sudah pesan sama penjaga apartemen buat lapor kalau kamu sampai bawa cowok masuk ke unit. Awas ya, jangan genit-genit!” Pesan Juna serius dan tak ingin dibantah.
“Tidak masalah, Kak,” sahut Alice dengan mengacungkan jari yang membentuk simbol oke. “Hotel masih banyak,” lanjutnya lirih dan tanpa dosa.
Arjuna menggeram kesal. “Allliiicceee! Jangan macam-macam!”
“Iya, iya. Selama disini aku tidak akan macam-macam. Hanya akan fokus magang, puas?”
Si kakak sulung yang usianya terpaut hingga enam belas tahun itu pun menghela napasnya panjang. Sebelah lengan Arjuna terulur dan mengusap surai coklat terang adiknya.
“Kamu hidup di lingkungan yang masih menjunjung budaya konservatif, berusahalah untuk menghargai tanah yang kamu pijak, Dek,” ujar Arjuna mengingatkan.
“Si,” balas Alice dengan mengangguk beberapa kali.
“Jangan mengulangi kesalahan Gustav, Dek. Kakak tidak berharap ada Gama-Gama yang lain di keluarga kita,” jelas Arjuna menyebutkan adiknya yang nomor dua dan juga keponakan yang tak lain adalah putra Gustav.
Seulas senyum tulus terbit dari wajah jelita Alice. Wanita muda itu juga langsung memeluk si sulung dan meyakinkan jika ia akan baik-baik saja.
“Aku tahu, Kak. Aku juga tidak ingin hal seperti itu terjadi,” ujar Alice menenangkan. “Aku memang mudah akrab dan genit pada pria, tapi aku juga sangat pemilih. Setidaknya aku harus mengenal orang itu luar dalam sebelum mengizinkannya menyentuhku. Tiga bulan rasanya masih belum cukup untuk membuatku percaya.”
“Jangan kecewakan kami!” Pesan Arjuna sekali lagi.
“Tentu saja,” balas Alice yakin.
“Baik-baik disini. Kalau ada waktu senggang, sering-seringlah mampir ke rumah dan ajak main Angela,” pesan Ara setelah suami dan adik iparnya itu melepas pelukan mereka.
“Yah, padahal aku juga ingin berlibur selama disini,” canda Alice jahil.
“Nanti di akhir magangmu kita liburan bersama,” balas Arjuna memberi solusi, “Mau kemana? Bali? Lombok? Derawan? Belitung? Bilang saja!”
“Oke! Aku pikirkan dulu.”
=====
Tak seperti kawula muda lainnya, akhir pekan seorang Andra sangat monoton. Jika tidak menerima kunjungan dari kedua orang tuanya yang berdomisili di Solo, maka ia akan ditugaskan untuk mengunjungi keluarga tunangannya dengan alasan pendekatan. Malas dan tak berminat sebenarnya, tetapi Andra tak pernah bisa menolak permintaan orang tuanya. Kedua orang itu selalu saja punya cara untuk mengikat Andra agar menurut.
Seperti siang ini, dengan dikawal oleh kedua orang tuanya, Andra terjebak dalam suasana makan siang yang menjenuhkan serta canggung bersama kedua calon mertuanya. Sementara sang tunangan lagi-lagi tidak hadir karena masih berada di luar negeri menyelesaikan pendidikannya.
Terkadang, pria itu merasa iri pada kakak perempuannya yang kini tinggal di Kanada. Meskipun wanita itu tidak diakui secara resmi sebagai anggota keluarga Sagara, tetapi ia bisa bebas melakukan apapun yang diinginkannya.
“Makin ganteng aja ini si bos, Danisha bisa makin kesemsem kalau lihat kamu, Le,” seloroh Damar, calon ayah mertuanya.
“Terima kasih, Om,” balas Andra ala kadarnya dan diakhiri dengan senyum kaku.
“Loh, kok Om lagi sih?” protes Damar tidak suka.
“Eh? Oh iya, maaf, Pa,” sahut Andra kikuk dan tak berniat memberikan penjelasan.
“Harusnya kalian langsung menikah saja waktu itu daripada cuma tunangan, ‘kan mau gak mau pasti terbiasa kalau sudah resmi jadi keluarga,” balas Kirana, istri Damar.
Sekali lagi Andra tersenyum paksa dan sangat singkat. Berada diantara orang-orang ini membuat pasokan oksigen yang mengalir dalam darahnya menjadi semakin menipis. Bahkan tak jarang hal itu meningkatkan kadar kecemasan Andra yang lagi-lagi harus ia tutupi. Setiap tindak-tanduknya seperti selalu diawasi dan ini benar-benar tidak nyaman untuknya.
“Danisha ‘kan sebentar lagi lulus, Jeng. Kita sebaiknya mulai mencari hari baik saja supaya nanti setelah Danisha pulang, mereka bisa segera menikah,” usul Dyah, mama Andra dengan semangat.
“Wah, bener juga, Jeng. Daripada anak saya itu mengulur-ulur lagi,” sambut Kirana setuju.
“Dia kalau sudah belajar, memang suka lupa daratan, Mbak Yu. Jangan saja nanti tiba-tiba minta lanjut doktoral dulu, kasihan Andra kalau kelamaan nunggu nanti bisa karatan dia,” seloroh Damar yang membuat orang-orang disekitarnya terkekeh, kecuali Andra yang justru mengaminkan.
"Jangan cari pelampiasan di luar ya, Le! Kalau kangen kamu bisa nyusulin Danisha ke New York, kalau senggang," pesan Kirana.
"Andra udah cinta mati sama Danisha, Jeng. Mana mungkin berani main di luar?" sahut Dyah seraya terkekeh dan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Andra agar pria itu bereaksi.
"Iya, Ma," ujar Andra singkat.
“Oh ya, liburan ini Danisha gak pulang?” tanya Riswan, papa Andra.
“Belum, beberapa minggu lagi katanya. Masih ada ujian semester yang belum selesai,” jelas Kirana.
“Nanti kalau Danisha sudah di rumah, kita segera bikin acara kumpul-kumpul buatmendiskusikan hari baik ini, gimana?” Riswan memberikan idenya.
“Harus itu,” sahut Damar antusias. “Atau kita liburan saja rame-rame? Biar Andra sama Danisha bisa kangen-kangenan? Andra punya waktu luang ‘kan?”
“Buat Danisha, Andra pasti bisa, Mas. Bahkan kalau lagi repot sekali pun juga bakalan ditinggal, demi Danisha gitu loh,” kekeh Dyah.
Andra tak menanggapi. Ia hanya menatap Dyah dengan sudut bibir yang sedikit terangkat dan dianggap sebagai sebuah persetujuan. Sebuah penolakan keras hanya mampu tersimpan di dalam otak Andra. Terlalu rapi dan entah sampai kapan akan berada disana.
Setelah acara makan siang penuh rasa tertekan itu, Andra berpisah dari mereka. Orang tuanya akan segera kembali ke Solo sementara Andra butuh melepaskan emosinya. Namun, Andra bukanlah tipe pria yang akan mengekpresikan dirinya dalam hal negatif.
Andra adalah pencinta terbang, karena hal itu membuatnya merasakan kebebasan meski sementara. Terpaan angin serta pemandangan lepas dihadapannya mampu menjadi terapi yang menenangkan untuknya. Itulah yang membuat Andra mengambil sertifikasi paralayang sejak remaja.
Namun, saat akan berangkat ke Bogor, dimana ia biasanya melakukan paralayang, cuaca sedang kurang baik. Saat ini memang sedang musim pancaroba yang terlambat datang akibat perubahan iklim. Mendung gelap tampak menggantung di wilayah kota penyangga ibukota tersebut, sehingga Andra mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kediamannya saja.
=====
Apartemen yang ditinggali oleh Alice berada tak jauh dari kantor Sagara Grup. Kedua tempat itu bahkan bisa diakses hanya dengan berjalan kaki. Beberapa tempat di ibukota telah memiliki pedestrian yang layak, salah satunya adalah di kompleks apartemen hingga kantor. Meskipun polusi dan terik matahari tak bisa dihindari, tetapi berjalan kaki di wilayah ini masih bisa dikategorikan nyaman.
Sekitar pukul lima sore, Alice yang merasa perutnya mulai melakukan protes pun mulai bersiap-siap pergi. Tepat di sebelah gedungnya terdapat sebuah mall dan ia akan pergi ke supermarket untuk berbelanja. Meskipun banyak gerai atau retoran yang menawarkan beragam jenis makanan, tetapi lidah Barcelona Alice kerap kali merindukan makanan dari tanah kelahirannya tersebut. Maka dari itu ia akan membeli bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membuat makanannya sendiri.
“Basil, parsley, bay leaves, mint. Sebaiknya aku menanam mereka di balkon supaya tidak sering-sering beli,” gumam Alice saat memilih bumbu-bumbu.
Tak lupa ia juga membeli beberapa jenis makanan laut, daging, dan juga buah-buahan. Sementara untuk sayuran ia hanya mengambil selada, itupun dalam jumlah kecil, karena Alice tidak suka sayuran.
“Apa tidak ada wine disini? Hanya ada bir dan kadar alkoholnya sangat rendah,” gerutu wanita itu saat ia berada di rak yang memajang minuman, “Ah, aku lupa kalau alkohol tidak bisa dijual dengan bebas disini. Sebaiknya aku ke klub saja.”
Wanita itu mengangguk yakin, lalu meninggalkan rak tersebut. Memiliki perkebunan anggur dan pabrik wine di Barcelona membuat Alice sudah akrab dengan minuman beralkohol itu sejak kecil. Meskipun demikian, ia baru diizinkan mengkonsumsinya setelah berusia legal, yakni delapan belas tahun.
Setelah memastikan semua yang ia butuhkan berada di dalam keranjang, Alice segera menuju kasir dan membayarnya. Sebelum kembali ke apartemen, wanita itu menyempatkan diri untuk mampir ke restoran. Perutnya sudah terlalu lapar jika harus memasak terlebih dahulu. Bahan-bahan makanan yang baru dibelinya bisa ia gunakan besok.
Sembari menunggu pesanan, Alice menghubungi teman barunya. Ia mengajak teman itu untuk pergi ke klub malam ini. Selain ingin membeli alkohol untuk disimpannya di apartemen, Alice juga ingin bersosialisasi sekaligus menambah koleksi kenalannya. Lagipula ini adalah malam minggu, sah-sah saja jika ia ingin bersenang-senang, begitu pikirnya.
=====
Pukul sembilan malam Alice telah siap dengan penampilannya yang menawan. Rambut coklat terangnya ia biarkan tergerai dengan menambahkan aksen bergelombang yang elegan. Sapuan make up agak tebal dengan poin utama pada bagian mata serta bibir tidak membuat Alice tampak norak. Ia justru terlihat menggoda dengan bibir merah serta smokey eyenya.
Pada bagian busana, Alice mengenakan LBD dengan tali spaghetti pada bagian pundak yang ia tutup dengan jaket denim crop top. Agar kaki panjangnya tampak lebih indah, Alice mengenakan sepatu dengan hak setinggi lima belas sentimeter. Sepatu ini akan membuat keberadaannya semakin mudah ditemukan meski di keramaian.
“Tommy!” pekik Alice begitu melihat teman barunya itu sudah menunggu di depan lobby.
“Wow, kamu terlihat mengangumkan,” puji Tommy seraya merangkul pinggang Alice.
“Sungguh? Terima kasih,” kekeh wanita itu, “Langsung berangkat?”
“Ya, beberapa temanku sudah menunggu di klub. Kita akan bersenang-senang malam ini,” sahut Tommy bersemangat.
Pria itu lalu membukakan pintu mobilnya untuk Alice yang kini tersenyum berterima kasih. Namun, saat hendak masuk ke dalam mobil, netra Alice tak sengaja melihat sebuah mobil berwarna merah yang terparkir tak jauh dari lobi. Mobil itu sepertinya tidak asing, tetapi Alice juga tidak bisa memastikannya. Wanita itu segera mengabaikannya dan meminta Tommy untuk segera pergi. Ini akan menjadi kali pertama Alice merasakan hingar bingar dunia malam di kota ini.