Bisma tepekur di kamarnya, memikirkan apa yang telah ia lakukan pada Cassie, gadis yang menjadi istrinya, yang mungkin hanya untuk dua tahun dari sekarang. Ia ingin mempertimbangkan ulang surat kontrak yang ia buat, tetapi ini masih berhubungan dengan seseorang di masa lalunya. Angannya kembali melayang pada waktu perpisahan dengan mantan istrinya, Rindi. Perpisahan yang menyakitkan baginya, tetapi memang itu yang diharapkan. Bukan olehnya, melainkan oleh keluarga besarnya. Ia menepis ingatan tentang masa lalu itu. Terlalu pahit baginya. Ia kemudian menoleh pada ponselnya yang berdering di atas nakas. Nama sang ibu tertera di sana. Gegas ia terima panggilan itu tanpa menunggu lama. “Bisma, gimana acaranya kamu sama Cassie?” tanya sang mama dari seberang. Bisma keluar dari kamarnya, kem

