9. Drama

1186 Words
Marry saat ini bersantai di kafe kopi dengan santai. Di sebelah kirinya terdapat tas AQM-304, sampai saat ini tidak ada penghuni kafe yang menyadari bahwa salah satu dari mereka adalah anggota Mafia pembunuh, pengedar sekaligus bandar n*****a. Marry sama sekali tidak menutupi wajahnya, karena tentu saja tidak ada yang mengenalinya, kecuali mungkin pria penyerang misterius yang waktu itu. Sampai saat ini, hati Marry sama sekali tidak terima bahwa pria itu selamat dari tangannya. Ketika masih asik bersantai dengan segelas kopi cappuccino miliknya, kedamaiannya terusik saat pintu kafe terbuka dan dua orang anggota polisi masuk. Kedua anggota polisi itu mendatangi kasir, berbicara sesuatu. Karena jarak Marry dan letak kasir cukup jauh, alhasil dia tidak dapat mendengar apa pun. Namun, samar-samar Marry mendengar salah satu kata yang ada di kalimat polisi tersebut. “******* buronan ****** menangkap ****** kemungkinan *****” Marry tersenyum tipis, lalu dia menaruh gelas kopinya kembali di meja dan mengambil masker hitam di wajahnya. Marry menyentuh bahu kanannya yang retak kemarin, nasib s**l benar-benar selalu menghampirinya. Baiklah … Maafkan diriku, Ivana, bukan aku sendiri yang ingin melanggar nasihatmu, namun keadaan lah yang memaksaku. Lebih baik luka tulang retak ini bertambah parah dari pada dia harus jatuh ke tangkapan pihak kepolisian. Marry meraih tas AQM-304, lalu merogoh kantung jaketnya untuk mengambil kaca mata hitam. Mungkin dari semua penghuni kafe, kini dirinya lah yang memiliki penampilan paling mencolok di mata polisi. Tetapi, apakah itu penting? Lebih baik seperti ini dari pada dia tidak memakai penutup apa pun di wajahnya, pada saat nanti jika ketahuan, bukankah sama saja akan terjadi keributan? Situasinya juga akan menjadi rumit karena petugas kepolisian telah melihat wajahnya. Tak lama kemudian, dua petugas kepolisian itu berdiri di pintu masuk serta keluar kafe, bersiap mengecek satu persatu penghuni kafe yang hendak keluar. Marry menghela napas, mengapa mereka harus mengetahui keberadaannya? Bukankah Diandra telah mengurus masalah kemarin? Ini benar-benar merepotkan, padahal dia masih harus sibuk dengan Sawamura. Tetapi … berdiam diri di kafe ini terlalu lama juga tidak baik, segera pergi dari sini adalah pilihan terbaik, karena Marry juga tidak mengetahui kapan salah satu anggota Sawamura muncul. Marry terdiam sejenak, lalu tak lama dia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju toilet dengan senyum licik di balik maskernya. Setelah masuk ke dalam toilet, Marry membuka tas AQM-304 dan mengambil dua bungkus plastik n*****a tersebut, lalu memasukkannya ke dalam bajunya. Kini penampilan Marry terlihat seperti wanita muda yang hamil, jika ada Diandra dan Ivana di sini, mungkin ini akan menjadi bahan bercandaan mereka selama satu bulan. Marry berjalan keluar dari toilet menuju pintu keluar, sesuai dugaan dia langsung diberhentikan oleh polisi. “Bisa tolong buka kacamata dan masker anda, nyonya?” tanya salah satu petugas kepolisian. Marry yang mendengar ini langsung menggeleng tegas, tangan kanannya mengusap perutnya, seolah tengah mengandung sungguhan. “Tidak.” Kedua anggota polisi itu mengerutkan keningnya, lalu menghela napas. Petugas kepolisian yang tadi bertanya, kini berusaha menjelaskan. “Nyonya, kami adalah petugas kepolisian yang sedang mencari buronan, kami tidak memiliki maksud lain kepada anda. Jadi, anda hanya harus membuka masker serta kaca mata hitam anda, setelah itu anda bisa memakainya kembali.” Marry menggelengkan kepalanya lagi. “Tidak, aku ini sedang mengandung, entah mengapa hatiku menolak keras untuk melepas kaca mata serta masker ini. Pak, apakah anda berdua tidak tahu bahwa seorang wanita yang sedang mengandung tidak suka dipaksa? Bagaimana jika aku benar-benar tidak mau menuruti keinginan kalian? Apa yang kalian inginkan, hah? Ibuku sebelum mninggal berpesan agar jangan terlalu patuh dengan ucapan seorang pria, apakah sekarang kau mnegerti, pak? Jika kau masih terus memaksa, aku akan mengadukanmu kepada Presiden, lalu menuntutmu dengan tuduhan pemaksaan, k*******n, serta pelecehan.” Dua anggota polisi itu semakin mengerutkan kening mereka dalam, di dalam pikiran mereka adalah … apakah semua wanita yang sedang hamil suka sekali bebricara berlebihan dan menyebalkan? “Nyonya, kami tidak bermaksud buruk, hanya saja-“ belum selesai petugas kepolisian itu berbicara, Marry sudah menaruh jari telunjuknya di bibir. “Shutt … jangan berdebat dengan wanita, tuan. Jika aku mengatakan tidak mau, ya tidak mau. Bahkan jika jabatanmu berubah menjadi lebih tinggi, aku akan masih mengatakannya dengan tegas, bahwa aku tidak mau!” Marrya mendengus di akhir kalimatnya sambil mengibas rambutnya ke belakang. Dua petugas kepolisian itu pun semakin merasa jengkel, namun mereka masih tetap menahannya. Lalu, rekan petugas kepolisian yang satunya bertanya,”Kandungan anda sudah mencapai berapa bulan, nyonya?” Marry menaikkan alis kirinya, lalu menunduk untuk melihat perutnya. “Tiga setengah bulan, ada apa?” jawab Marry ketus, kini aura serta cara bicaranya persis sekali dengan wanita hamil yang sensitif. Tiba-tiba salah satu dari dua anggota itu tertawa, membuat Marry mengerutkan keningnya. "Mengapa anda tertawa, pak? Apakah anda menertawakan kandunganku?” Petugas kepolisian yang tertawa itu menggelengkan kepalanya, setelah itu sedikit membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Marry. “Mengapa harus menyamar menjadi wanita hamil? Kau buron yang menyebabkan banyak kecelakaan di jalan raya kemarin ‘kan? Jika ingin menyamar, sempurnakan dulu bentuk kandunganmu, apa-apaan bentuknya itu? Seperti kandungan yang memiliki kelainan.” Marry yang mendengar ini tidak menengang atau menunjukkan ekspresi emosi apa pun, matanya hanya melirik petugas kepolisian itu datar. Marry berjalan mundur, lalu matanya menatap lurus petugas kepolisian tersebut. Tanpa aba-aba, Marry mengangkat tas AQM-304 yang sudah kosong, lalu memukul wajah petugas kepolisian itu dengan sangat keras sampai kehilangan keseimbangan. Seluruh orang yang tidak sengaja melihat ini terkejut bukan main, dan orang yang tadinya tidak peduli, kini ikut menonton. Petugas kepolisian yang satunya lagi tak luput dari rasa terkejut, lalu dia berjalan maju menghampiri Marry dan bertanya,”Nyonya, mengapa anda memukul rekan saya seenaknya?” kemudian dai beralih membantu rekannya bangkit dan berdiri tegak kembali. Marry hanya diam dan menatap kedua petugas kepolisian itu datar dari balik kaca mata hitamnya. Marry tersenyum tipis, lalu menajwab,”Jika anda ingin mengatakan apa yang saya lakukan barusan adalah tindakan yang sangat tidak sopan, lalu bagaimana dengan apa yang dikatakan pria petugas kepolisian ini?” jari telunjuk kanan Marry menunjuk petugas kepolisian yang tadi wajahnya dia pukul keras menggunakan tas AQM-304. “Memangnya apa yang teman saya katakana?” tanya petugas kepolisian yang tadi menegur Marry, matanya menatap tidak senang ke arah Marry. Marry menghela napas, kemudian menggelengkan kepalanya pelan sambil berkata,”Aku tidak tahu bagaiamana caranya kalian berdua bisa lolos dalam seleksi hingga saat ini menjadi petugas kepolisian, khsusnya rekanmu yang baru saja aku pukul. Selain memiliki otak yang cerdas dan kekuatan fisik yang bagus, seorang anggota kepolisian juga memiliki tatakrama serta lidah yang sopan. Ck, saya sangat marah dan kecewa, bagaimana mungkin seorang petugas kepolisian yang katanya adalah ‘pelindung rakyat’ justru malah melukai perasaan rakyat? Dengan tidak sopannya dia mengtakan bahwa kandungan saya memiliki kelainan hanya karena bentuknya seperti ini. Apakah kalian pikir saya tidak tahu bahwa bentuk kandungan saya seperti ini? Mengapa sebelum bicara anda tidak berpikir dua kali terlebih dahulu untuk menyaring kata-kata kotor serta menyakitkan? Apa anda pikir saya tidak sedih dengan bentuk kandungan saya saat ini, kalian benar-benar sampah!” Para penghuni kafe yang mendengar ini terkejut, tanpa menunggu waktu lama, mereka pun termakan dengan ucapan dramatis Marry dan mulai memarahi dua petugas kepolisian tersebut. Marry tersenyum samar dari balik masker hitamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD