Kuntilanak itu semakin mendekat. Senti demi senti tangannya terus maju dan berusaha menggapai kami. Kami semakin merapatkan badan ke pintu. Malang... Lia tidak sempat memundurkan kakinya ke belakang. Tangannya di cengkram erat oleh kuntilanak. Dia menjerit dan meronta di iringi dengan tawa kuntilanak yang menakutkan. Kuntilanak itu menyeret Lia secara kasar. Kami berusaha menggapai lengan satunya. Tapi lengan itu begitu licin bagai belut. Setiap kali kami menangkapnya maka akan terlepas dengan tersendirinya karena licinnya tangan Lia. Jeritan dan rontaan Lia perlahan semakin jauh dan menghilang. Entah kemana kuntilanak itu membawa Lia. Kami terduduk lemas setelah kemunculan kuntilanak itu. Pintu yang dari tadi begitu sulit untuk di buka, tiba-tiba dengan begitu mudahnya dapat di buka. T

