SELAMAT MEMBACA
***
Arjuna sedang bersama Aruna dan Armaya menonton televisi di ruang tengah.
Lebih tepatnya, Arjuna menjaga Aruna dan Armaya yang sedang berebut acara televisi dan tidak ada yang mau mengalah.
"Iklan Arma, ganti dulu yang tadi." Ucap Aruna pada Armaya. Namun, bukannya menurut Armaya justru menyembunyikan remote televisinya di belakang tubuhnya.
"Cuma sebentar Mbak iklannya." Jawab Armaya. Dia tidak mau mengganti acara komedi yang sedang dia tonton dengan sinetron kesukaan kakak perempuannya itu. Terlalu membosankan menurutnya.
"Ganti dulu dong!!" ucap Aruna dengan kesal.
"Arma ... Ganti dulu itu acaranya. Sini remotenya..."
Arma sama sekali tidak memperdulikan kekesalan Aruna. Dia pura-pura tuli dengan ucapan Aruna.
Bughh...
Akhirnya bantal sofa yang sejak tadi di peluk oleh Aruna melayang ke wajah Armaya.
Armaya langsung menatap Aruna dengan kesal.
"Makanya ganti dulu!" Aruna menatap marah pada Armaya.
"Ini, tonton sendiri!!"
Armaya melempar remote di tangannya dengan kasar. Setelahnya dia pergi begitu saja. Tidak peduli dengan kemarahan Armaya, Aruna dengan santai melanjutkan acara menontonnya.
"Kalau minta itu coba yang sabar, jangan kasar." Arjuna yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Habisnya Arma Bang. Dia duluan yang mulai, bikin jengkel." Aruna tidak mau di salahkan. Dia mulai membela dirinya.
"Kan bisa lebih sabar Runa. Sama adik sendiri, kok begitu."
Aruna memilih diam, mendengar ucapan Arjuna.
"Mbak Runa kan memang begitu Bang. Mana sayang sama adiknya, tidak mau mengalah juga." Armaya langsung menyahut. Dia datang dari dapur membawa segelas jus di tangannya. Lalu kembali duduk, bedanya tadi dia duduk di sebelah Aruna. Sekarang dia memilih tempat duduk yang jauh dari kakaknya itu.
"Minta Arma," Aruna mengulurkan tangannya. Meminta jus yang terlihat enak di tangan adiknya.
Armaya hanya menjulurkan lidahnya, sambil melengos.
"Arma, minta sedikit kenapa. Mbak haus." Ucap Aruna lagi.
Namun, lagi-lagi Armaya hanya mengabaikan ucapan Aruna.
"Arma!!"
"Sana ambil sendiri!!!" ucap Armaya dengan kesal. Enak saja, dia sudah di lempar bantal dan sekarang meminta jusnya. Siapa yang peduli.
"Kaki Mbak sakit Arma. Minta tolong ambilkan sana."
"Ora sudi," (Tidak mau)
Arjuna yang melihat perdebatan antara kakak beradik dihadapannya yang bahkan tidak akan selesai sampai besok itu memilih mengalah.
"Jangan biasakan bicara kasar Arma." Tegur Arjuna pada Armaya.
Setelah itu dia pergi kedapur.
"Mampus. Di marahi Bang Juna."
Tak lama kemudian, Arjuna kembali dengan segelas jus yang sama dengan milik Armaya. Dia memberikannya pada Aruna.
"Ini minum, jangan ribut." Ucap Arjuna.
Aruna pun menerima jus pemberian Arjuna dengan senang hati. Matanya melirik pada Armaya, seolah-olah mengejek adiknya itu.
"Memang cuma Bang Juna yang baik, sama sayang sama aku." Ucap Aruna sambil melirik kearah Armaya.
"Iya, tapi sayangnya Mbak yang tidak peka."
Armaya langsung pergi dari ruang tengah setelah mengatakan itu. Meninggalkan Arjuna dan Aruna berdua disana.
Arjuna hanya bisa menatap kepergian Armaya dalam diam. Sedangkan Aruna yang tidak faham dengan maksud ucapan adiknya, bahkan tidak memperdulikannya.
***
Armaya sejak tadi berdiri di depan jendela. Tangannya bersedekap, matanya menatap tajam dua manusia yang sedang bercengkrama di teras rumah.
Matanya tidak lepas sedikitpun dari dua manusia itu. Di sana, di teras rumah, ada Aruna yang tengah berbincang dengan Arif. Laki-laki itu datang menjenguk pacarnya yang baru saja tertimpa musibah.
Sekilas tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan, namun Armaya benar-benar kesal dengan kakak perempuannya. Ketidakpekaannya benar-benar membuatnya gemas. Katakan dia adalah pendukung Arjuna garis keras, sejak tadi matanya menatap penuh permusuhan pada teman dekat kakaknya itu.
Bahkan jika bisa, ingin rasanya Armaya mengusir laki-laki itu dan mengatakan jangan datang lagi.
Berkali-kali, Armaya membuang nafasnya dengan kasar. Membuat Sarni yang sedang lewat di dekatnya merasa heran.
"Kenapa berdiri di situ terus?" tanya Sarni. Dia sudah berkali-kali lewat di sana dan putranya masih berada di tempat yang sama sedikitpun tidak beranjak pergi.
"Coba Ibu lihat itu, suruh pulang aja kenapa!" Armaya menunjuk Aruna dan Arif dari jendela. Sarni sekarang faham, ternyata sejak tadi putranya berubah menjadi satpam dadakan.
"Tidak sopan Arma. Itu temannya Mbak Runa. Dia kan datang menjenguk Mbak mu." Jawab Sarni.
"Dia itu pacarnya Mbak Bu. Ibu bolehkan Mbak pacaran? Mending cepat suruh pulang. Ngapain juga disini lama-lama. Dia datang juga tidak membuat perubahan apa-apa. Tidak langsung membuat Mbak sembuh. Mending usir saja." Armaya masih bersikeras meminta ibunya mengusir pacar kakaknya itu.
"Mereka tidak aneh-aneh. Anggap saja cuma teman, teman menjenguk temannya. Sudah biarkan saja, nanti juga kalau bosan pulang sendiri. Mending kamu bantuin bapak nyiram tanaman dari pada ngintipin Mbak disini." Setelah mengatan itu, Sarni langsung pergi meninggalkan Armaya yang masih kesal.
Melihat ibunya yang tidak mendukungnya itu, Armaya tidak tinggal diam. Setelah kepergian ibunya Armaya langsung keluar, biarkan dia dikatakan tidak sopan. Dia ingin mengusir teman laki-laki kakaknya untuk pulang. Sebelum abangnya pulang dan melihat hal tidak menyenangkan tersebut. Meski tidak bisa membantu secara terang-terangan, Armaya akan menunjukkan dukungannya secara diam-diam.
Armaya mendatangi Aruna dan Arif dengan wajah datarnya.
"Mbak disuruh Ibu masuk. Sudah sore, suruh mandi. Temannya kalau tidak menginap suruh pulang," Setelah mengatakan itu Armaya langsung masuk begitu saja.
Entah faham atau tidak dengan usirannya, Armaya tidak peduli. Jika nanti masih belum pulang, maka dia akan usir secara terang-terangan.
Sambil menunggu Aruna masuk, Armaya menonton televisi di ruang tengah.
"Arma apa-apaan sih. Kok tidak sopan begitu sama tamu. Itu tamunya Mbak lho, dia langsung pulang pas kamu bicara begitu." Aruna masuk dan langsung menegur adiknya. Setelah mendengar ucapan Armaya yang jelas-jelas pengusiran itu, Arif langsung pamit pulang. Aruna tentu saja tidak enak hati, pada Arif. Dia datang baik-baik untuk menjenguknya tapi justru di perlakukan dengan tidak sopan oleh adiknya.
"Ya bagus kalau pulang. Lagian ngapain lama-lama disini. Tidak ada gunanya." Jawab Armaya dengan santainya.
Aruna langsung menatap adiknya dengan bingung. Apa yang terjadi, kenapa sikap Armaya begitu menyebalkan.
"Kamu itu kenapa. Apa salah temannya Mbak. Dia baik Arma, tidak pantas kamu usir begitu." Ucap Aruna lagi.
"Dia pacar Mbak kan. Ngapain Mbak bawa kesini. Untuk apa?" Armaya justru balik bertanya. Kali ini nada suaranya terdengar sedikit kasar.
"Dia cuma jengukin Mbak. Salahnya dimana?" Aruna tak habis fikir dengan ucapan Armaya yang terlihat sangat tidak suka pada Arif.
"Salahnya Mbak bawa dia kesini. Salahnya Mbak itu pacaran sama dia. Dan salahnya lagi Mbak itu tidak peka sedikitpun." Armaya menunjuk Aruna dengan jari telunjukkan. Wajahnya terlihat sekali jika dia sedang emosi.
Aruna mulai terpancing emosi. Dia tidak tau apa-apa dan mendapatkan kemarahan dari adiknya.
"Kamu itu bicara apa sih Arma. Kamu itu kenapa, kamu belum kenal sama dia. Coba kenalan dulu, dia baik orangnya." Ucap Aruna tidak kalah emosinya.
"Tidak usah. Aku juga tidak mau kenalan sama pacarnya Mbak. Untuk apa? Jangan pernah bawa pacarnya Mbak kesini lagi, ini terakhir kalinya!!" ucap Armaya dengan penuh penekanan.
"Apa hak kamu melarang seperti itu!?" tanya Aruna dengan menantang.
"Mbak itu bodoh. Tidak peka, Mbak egois. Mbak tega, cuma mikirin diri sendiri. Asal Mbak tau aja, Bang Juna..."
"Armaya..." Belum sempat Armaya menyelesaikan ucapannya, sebuah suara sudah menghentikannya.
Aruna dan Armaya langsung menoleh saat mendengar panggilan Arjuna. Arjuna sudah berdiri di depan pintu dan tengah menatap kearah mereka berdua. Aruna yang tidak tau apa-apa hanya diam. Sedangkan Armaya yang faham dengan gelengan pelan abangnya hanya bisa membuang muka dengan kesal.
"Mbak itu kapan pekanya?" Setelah mengatakan itu, Armaya langsung pergi begitu saja dari sana.
"Kalian bertengkar lagi?" tanya Arjuna pada Aruna.
"Arma yang duluan Bang. Sikapnya tidak jelas. Tiba-tiba marah tanpa alasan. Bikin orang ikut emosi." Aruna menjelaskan apa yang terjadi pada Arjuna.
Arjuna hanya menggeleng pelan. Tanpa Aruna sadari Arjuna membuang nafasnya dengan lega. Beruntung dia datang pada waktu yang tepat. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.
"Sudah sore sana mandi. Awas lukanya jangan sampai kena sabun."
"Iya Bang."
Setelah itu, Arjuna berjalan menuju kamarnya. Dia juga ingin bersih-bersih dan beristirahat dan kepenatan bekerja. Ingatkan dia untuk mengurus Armaya setelah ini.
***
DI TULIS: Wng, 6 Sep 2022
DI PUBLISH: Wng, 3 Nov 2023