5 – Revisi

1214 Words
“Beberapa orang tidak pernah benar-benar pergi, mereka hanya menunggu untuk muncul kembali.” --- Langit sore menggantung kelabu, seolah menahan tangis. Koridor rumah sakit kian sunyi, hanya gema langkah Shen Li yang terdengar memantul di antara dinding. Aroma antiseptik membaur dengan aroma basah membuat hati kedinginan, tapi aroma samar dari teh herbal mengingatkan bahwa hidup terus berjalan, bahkan ketika pikiran terpaku pada satu titik. “Sudah lama tak bertemu.” Nada itu rendah, tenang, tapi meremas halus. Shen Li menoleh perlahan. Shen Qi Ming berdiri di ujung koridor. Posturnya tegak, jas putih terlampir di bahu, setiap gerakannya memancarkan keyakinan yang sama seperti dulu. Dingin, berjarak, dan tatapan yang selalu meremehkan lawan bicara. “Aku tidak menyangka bisa bertemu di sini,” ucap Shen Li, suaranya sedikit bergetar. Shen Qi Ming tersenyum tipis. “Aku juga tidak. Rupanya, takdir memang gemar bercanda.” Ia melangkah mendekat. “Ibumu dirawat. Sayang sekali." Jeda sejenak, tapi bukan untuk bersimpati. "Penyakit datang tepat ketika seseorang mulai menikmati hidupnya, ya?” Ucapan itu meluncur pelan, tidak tajam. Namun sarat akan cibiran. Shen Li tercubit. Ia menegakkan bahu, mengatur napas dan membalas, “Ming Ge… kalau kau datang hanya untuk mengolok-olok ku, aku tak akan meladenimu.” Shen Qi Ming tertawa pendek. “Kenapa? Apa kau takut? Atau mungkin sibuk mempertahankan citra?” Matanya menelusuri wajah Shen Li, berhenti di matanya yang sayu. “Kau terlihat berbeda, lebih tenang, rapi. Tapi tetap Shen Li yang tidak tahu cara menjaga orang-orang terdekatnya.” Udara di sekitar mereka menegang. Napas Shen Li terasa berat, bayangan masa lalu menelusup perlahan. Hari dimana semuanya berakar, Xuan Zhan yang hancur, tatapan penghakiman, serta semua tuduhan yang dilayangkan padanya. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Aku tidak akan membahas masa lalu di sini. Tidak sekarang,” katanya pelan tapi tegas. Shen Qi Ming memiringkan kepala, merendahkan suara. “Merasa bersalah? Pada Ah Zhan, mungkin?” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Ia pasti tidak tahu yang terjadi antara kau dan Yan Feng. Sikapmu yang selalu bertingkah layaknya orang yang bersih itu sungguh memuakkan." Langkah Shen Qi Ming bergeser setapak ke depan. Cukup dekat hingga Shen Li bisa mencium aroma parfum kayu maskulin dari pemuda itu. “Kau tahu betapa hancurnya Ah Zhan waktu itu? Betapa ia mempercayaimu sepenuh hati, hanya untuk tahu kau—” “Cukup!” Suara Shen Li lirih tapi tegas, ada sedikit amarah bercampur lelah. Shen Qi Ming berhenti, lalu tersenyum merasa menang. Ia menatap Shen Li dari atas ke bawah. “Masih sama, hanya saja kini lebih pandai menyembunyikan diri.” “Aku tidak menyembunyikan apa pun.” Nada Shen Li datar, tapi jari-jarinya mengepal erat di sisi tubuh, sendi-sendi menegang menahan gemetar. “Lucu,” lanjut Shen Qi Ming. “Semua orang dulu mengira kau manis dan polos. Padahal—” Mata Shen Li bergetar, suaranya sedikit pecah. “Kau tidak tahu apa pun.” “Oh, aku tahu banyak.” Langkah Shen Qi Ming semakin dekat, bayangannya menutupi sebagian cahaya lampu. “Entah kau berusaha melupakan atau berpura-pura, tapi orang seperti Ah Zhan tak pantas terseret dua kali dalam luka yang sama.” Tepat saat itu langkah lain terdengar di ujung koridor. Tenang dan sedikit menekan. “Apa yang kau lakukan, Shen Qi Ming?” Suara itu rendah dan dalam. Shen Li dan Shen Qi Ming serentak menoleh. Xuan Zhan berdiri di ujung lorong. Jas dokter tersampir di lengan, wajahnya dingin, tapi mata itu menyala tenang. Setiap langkah disertai gema lembut penanda batas di antara mereka. Shen Qi Ming tertawa pendek, kemudian senyum sinis. “Hanya berbincang. Kau terlalu cepat melindunginya, seperti dulu.” “Ini bukan percakapan biasa,” jawab Xuan Zhan datar tapi terselip ancaman halus. “Kau memperlakukan pasien seperti ini di tempat kerja?” “Pasien?” Shen Qi Ming mendengus. “Dia bukan siapa-siapa di sini, Ah Zhan. Hanya gadis yang pernah membuatmu kehilangan akal sehat.” Shen Li menunduk, matanya basah, bibir gemetar kecil. Xuan Zhan berdiri sedikit di depannya, menutupi tubuhnya yang kecil. “Cukup, Qi Ming.” Shen Qi Ming tidak mundur. Tertawa getir. “Cukup? Kau masih membelanya bahkan setelah semua yang dia lakukan? Kau tahu berapa lama kau terpuruk? Aku saksi dari semua itu, Ah Zhan. Dan dia penyebabnya!” “Diam!” Suara Xuan Zhan memecah udara. Nadanya terselip amarah tertahan. Keheningan sejenak. Shen Qi Ming pun terdiam, rahangnya mengeras, tapi tatapannya dingin. “Lihat kau sekarang, Ah Zhan. Masih bodoh seperti dulu. Tidak bisa membedakan siapa yang pantas dipercaya.” Tatapannya beralih ke Shen Li. “Dan kau masih pandai bersandiwara. Dunia terlalu baik padamu, Shen Li.” Kata-kata itu jatuh seperti hujan batu. Shen Li menunduk, bukan takut hanya kejenuhan panjang. “Cukup,” katanya lirih. “Aku tidak akan membenarkan apa pun padamu, Ming Ge. Aku lelah berdebat. Apalagi bukan untuk memahami.” Ia berbalik, melangkah pelan melewati Xuan Zhan. Tangannya sempat menyentuh sisi lengan pemuda itu singkat, seperti permintaan untuk berhenti dalam diam. Xuan Zhan menatap punggung Shen Li yang menjauh, kemudian menoleh pada Shen Qi Ming. “Kalau kau masih menganggap dirimu sahabatku, jangan pernah bicara seperti itu lagi di padanya.” Suaranya tetap tenang, tapi tatapannya tetap menyorot tajam. “Tidak ada satu pun dari kita yang tahu kebenaran sepenuhnya. Termasuk kau.” Shen Qi Ming membalas tatapan itu. Rahangnya kian mengeras, lalu ia berpaling dengan sesuatu yang masih tertahan. Xuan Zhan menghembuskan napas panjang, amarahnya hampir meluap. Ia memutuskan menyusul kepergian Shen Li. Di luar, hujan jatuh perlahan. Koridor pun kembali diselimuti kesunyian. Shen Li berhenti di ujung, menunduk. Jantungnya masih berdebar kencang. Xuan Zhan berhenti beberapa langkah di belakang. Suaranya keluar pelan, nyaris seperti bisikan, “Kau baik-baik saja?” Pertanyaan sederhana itu diucapkan dengan hati-hati, namun terasa tulus sekaligus hangat. Atmosfer di antara mereka bergetar lembut. Shen Li hanya mengangguk pelan tanpa menoleh sebagai balasan. Dalam keheningan, keduanya tahu. Masa lalu belumpernah beranjak dari hidup mereka. Tapi mereka tidak lagi menghindar. Hujan perlahan reda. Tetesannya menempel di kaca jendela. Shen Li tetap berdiri, menunduk, ada kelegaan samar, tapi juga rasa berat yang sulit dilepaskan. Xuan Zhan tetap menjaga jarak. Ia tidak menuntut, hanya memberi ruang tapi tetap hadir. Sekali-sekali, ia menoleh, memastikan ia baik-baik saja. “Kalau kau mau, kita bisa berjalan sebentar ke taman rumah sakit. Hujan sudah hampir berhenti,” ucapnya pelan. Shen Li menoleh sebentar, ia tersenyum tipis. “Mungkin… iya,” jawabnya ragu. Meskipun begitu, mereka tetap melangkah perlahan ke pintu keluar. Untuk sekian lama, Shen Li merasa meski luka masih ada, tetap ada kesempatan untuk bernapas dan kemudian bergerak maju. Di belakangnya, Xuan Zhan tetap menjaga jarak, geraknya sarat perhatian. Keheningan mereka bukan lagi berat, tapi sarat dengan kemungkinan. Bahwa beberapa luka bisa perlahan sembuh, dan beberapa orang tak benar-benar pergi dan dapat hadir di saat yang tepat. Pintu terbuka perlahan. Shen Li tidak segera melangkah keluar. Sebaliknya, ia berdiri sejenak, membiarkan angin malam sisa hujan membelai wajahnya. Hawa dingin menusuk, tapi justru emosi negatif seolah tersapu, pikiran jauh lebih jernih. Ia memejamkan mata, menarik napas perlahan, berharap hari esok tenang seperti malam ini. Namun jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergetar lembut. Ketidakpastian yang samar, seolah masa lalu sedang merayap kembali, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan. Dan saat itu, Shen Li merasakan harapan kecil, lembut, tapi nyata. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD