1– Satu Panggilan

1432 Words
"Kadang, pulang bukan tentang tempat. Tapi tentang keberanian untuk menatap luka yang belum mengering." --- Langit sore kala itu kelabu, tapi tak lama hujan tipis turun perlahan. Tiap tetesan bagai gema kenangan yang lama tertahan, samar, dan sulit untuk dihapuskan. Shen Li terdiam, menatap titik-titik air di kaca, pikirannya mengembara diselingi kegelisahan yang mulai merayap masuk. Kereta berhenti di stasiun kecil yang begitu akrab sekaligus asing. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, cukup lama untuk membuat sesuatu perubahan, tapi tidak untuk mengaburkan sisa kenangan di setiap sudut kota. Shen Li turun bersama penumpang lain, tidak ada yang mengenali sosoknya di balik masker hitam dan topi putih. Bahwa penyanyi kegemaran mereka hadir di antara kerumunan orang biasa. Jauh dari hingar-bingar konser, Shen Li menarik koper kecil bergerak meninggalkan stasiun seorang diri. Aroma tanah basah seketika menyerbu, hangat dan menyengat, seperti menyentuh kembali kenangan. Udara kampung halamannya masih sama seperti dulu, sedikit lembap dengan aroma bunga kamboja dari halaman rumah-rumah tua. Dadanya terasa sesak. Suasana yang dulu membuatnya ingin pergi kini justru menegaskan satu hal, ia tak bisa selamanya lari. --- Di ujung jalan, rumah itu masih sama. Berdiri kokoh meski telah termakan usia. Pagar putih mulai mengelupas catnya, bunga melati di sudut halaman, dan suara lonceng angin bergetar lembut tertiup angin sore. Di balik jendela, tirai tipis bergerak perlahan. Rumah ibunya. Shen Li menatap lama. Ada kecemasan aneh dalam hatinya, bukan karena takut tidak diterima, hanya saja ia tak tahu harus bersikap di depan ibunya. Menarik napas panjang, Shen Li mulai menekan bel perlahan. Tidak ada jawaban. Sunyi, tidak ada tanda-tanda seseorang akan mendekat. Sekali lagi dan masih tidak ada. Shen Li ragu dan mulai memikirkan ulang. Apakah rencananya ini akan gagal di awal? Apakah semua perjalanan ini akan berakhir sia-sia? Sebelum pikirannya mengembara kian jauh, suara langkah kaki menginterupsi dari dalam. Tak lama pintu pun terbuka, wajah yang sudah lama tak ia lihat kini muncul di balik pintu. Nyonya Zhang Hua. Wanita paruh baya yang tampak lebih tua beberapa tahun dari usianya. Shen Li menatap gugup mata cekung sang ibu, lingkar hitam menghiasi bawah mata, guratan lelah menggantikan senyum hangat yang dulu sering Shen Li lihat. Tatapan itu berhenti sejenak di wajah Shen Li, lalu beralih, seperti berusaha menghindar. “Kau pulang juga akhirnya.” Suara nyonya Zhang terdengar datar, tapi terselip keragu-raguan. Seperti belum bisa menerima sepenuhnya. “Ma,” panggil Shen Li pelan, menunduk sedikit. Ada hormat, rindu, dan juga penyesalan. Tapi ia menahan diri tidak ingin terburu-buru. Nyonya Zhang hanya mengangguk ringan, memberi izin. Tidak ada pelukan ataupun kata-kata hangat. Hanya ada keheningan tebal. Shen Li tidak terkejut, ia telah mengantisipasi hal ini sebelumnya. Kendati demikian, Shen Li tetap merasakan gelombang emosi yang naik dan tertahan di kerongkongan. Ia melangkah masuk. Menghirup aroma rumahnya, tanah basah, kayu tua, bunga melati, dan beberapa aroma yang hanya dimiliki rumah orangtuanya. Semua hal itu memanggil kenangan yang telah lama terkubur. Ia tersadar, rumah ini masih tetap sama bahkan setelah sekian lama. Hanya dirinyalah yang telah berubah. Nyonya Zhang bergerak menuju dapur, mengeluarkan set teko teh tanpa berkata-kata. Shen Li diam-diam mengikuti. Tangan mereka berdua dekat, tapi tidak saling menyentuh. Suara sendok menabrak gelas terdengar lebih keras dari yang seharusnya. “Aku pulang,” kata Shen Li, sedikit lebih tegas, mencoba mengikis jarak. Nyonya Zhang hanya menoleh, menatap sekilas ke arah Shen Li, lalu kembali fokus ke teko teh. Tidak ada kata yang terucap. Namun dari tatapan itu, meski dingin, tersisa perhatian yang tak terucap. --- Ketika tirai malam telah diturunkan, Shen Li duduk di kamar lamanya. Menatap lurus pada dinding dengan cat putih gading, lebih tepatnya pada deretan potret lamanya ketika di sekolah menengah, pandangannya bergeser pada gantungan not musik kecil di dekat jendela. Semuanya masih sama. Shen Li bergerak menyentuh permukaannya yang mulai berdebu, membangkitkan memori yang hangat tapi pahit. Gantungan itu hadiah dari Xuan Zhan. Nama itu masih terasa asing, tapi akrab. Seolah baru kemarin ia mendengar suaranya memanggil lembut. “A Li, jangan jalan terlalu cepat.” Dan seolah baru kemarin juga, semuanya berakhir di bawah langit kelabu dengan segudang kalimat yang tak sempat diutarakan. Ia memejamkan mata, menghembuskan napas pelan. Suara hujan di luar jendela justru membuat kenangan itu kian jelas. Lucu, pikirnya. Bagaimana waktu bisa tetap berjalan sejauh ini, tapi satu nama tetap membekas di dalam hati tanpa menyisakan ruang bagi dirinya. --- Ketika hari esok menyapa, Shen Li telah berada di rumah sakit terdekat. Berdiri di depan kaca rias sederhana. Tanpa topeng, ia menatap pantulan dirinya sendiri, wajah yang dikenalnya, namun terasa asing. “Lili, kau yakin tak masalah tampil di sini?” tanya Han Yun Fei, selaku manajernya. Shen Li menoleh, menanggapi dengan senyum hangat. “Tak apa, Jie jie. Aku hanya ingin cepat selesai. Dan terima kasih sudah ada di sini.” Ia merapikan rambutnya sedikit, menyesuaikan lengan jasnya. Profesional, tetapi tidak dingin. Hanya terlihat lebih menyendiri. Han Yun Fei mengangguk, menepuk bahu Shen Li ringan. “Kau selalu siap, Lili. Aku tahu itu. Hanya jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.” Shen Li tersenyum lagi, lebih tulus. “Aku tahu. Aku akan berusaha.” Saat manajernya pergi, Shen Li menatap cermin sekali lagi. Meski nantinya tertutup topeng, ia ingin setiap nada dan lirik yang dinyanyikan tetap tulus untuk dirinya, dan mereka yang selalu mendukungnya. Ruangan acara amal itu kecil tapi ada kehangatan, penuh suara alat musik yang pelan, dan aroma antiseptik tebal di langit-langit rumah sakit. Shen Li melangkah masuk sambil mengenakan topeng separuh wajah. Dunia di hadapannya seketika kabur sebagian, sisanya lagi tertutup oleh kenangan. Ia duduk di depan mikrofon, lampu redup menyorot panggung kecil. Nada pertama 'Hujan di Pagi Hari' mengalun pelan, lembut, dan menyayat hati. Setiap lirik seperti serpihan masa lalu yang tak pernah hilang. Tepuk tangan terdengar samar ketika lagu berakhir. Shen Li menunduk sopan, hendak turun. Namun langkahnya justru terhenti ketika melihat seseorang masuk. Lelaki jangkung berjas putih, membawa map pasien. Dia berhenti di ambang pintu. Tatapannya jatuh pada dirinya, seketika waktu terasa berhenti berputar. Tatapan mereka saling bertubrukan. Jantung Shen Li berdetak lebih cepat. Ia segera menunduk, berusaha menciptakan jarak. Tapi bahkan lewat topeng sekalipun, dokter muda itu dapat mengenali sosoknya. Ia berjalan pelan, hati-hati, seolah takut mimpinya akan lenyap. “A Li?” panggilnya hampir berbisik. Shen Li menggenggam mikrofon lebih erat. Bukan karena takut, melainkan karena satu panggilan itu membuat enam tahun terasa seperti semalam. Ia menatapnya sebentar, kemudian tersenyum tipis. “Maaf, Dokter. Anda salah orang.” Langkahnya tenang, tapi hatinya bergetar. Ketika mereka berjalan bersisian, nama dalam kartu identitas sang dokter sekali lagi mengguncang dirinya. Xuan Zhan, dokter muda itu, terpaku. Matanya mengikuti setiap gerakan. Mendengar suara itu, meskipun samar, terdengar familiar dan memanggil sesuatu yang logika tak bisa jelaskan. Kadang, kebenaran hanya butuh satu tatapan untuk mengingat segalanya. --- Shen Li berjalan perlahan menuju belakang panggung, menjaga napas dan suasana hatinya. Hujan semalam menyisakan udara lembab di sekitar rumah sakit. Dan di sudut ruangan, Xuan Zhan masih berdiri diam. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan, namun tatapannya tidak pernah pergi. Dari belakang panggung kecil, Han Yun Fei muncul dengan langkah ringan, senyum lembut menenangkan. “Lili, apa istirahatmu sudah cukup? Semua orang sudah menunggu.” Shen Li menoleh sebentar, menyesuaikan topeng, napas tetap teratur. Senyum tipis muncul sopan, tapi tegas. “Ya, aku akan segera kembali,” ucapnya pelan. Ia menepuk mikrofon sekali, memastikan instrumen siap. Manajernya mundur beberapa langkah, tatapannya tetap penuh perhatian. Ia tahu Shen Li memilih profesionalisme di atas segala hal, tapi matanya menyimpan kekhawatiran yang lembut. Shen Li mengangguk. Kali ini semua terkendali. Namun jarinya meremas kabel mikrofon, halus, dan lebih gugup dari sebelumnya. Xuan Zhan tetap di tempat, mencondongkan tubuh. Map bergeser dari tangan. Matanya yang senantiasa teduh selalu mengikuti Shen Li, seakan takut kehilangan sosok itu sekali lagi. Shen Li menatap jendela yang berembun. Bayangan mereka memantul, dua hati yang saling mengenal, namun memilih diam. Ia menarik napas panjang, menegakkan bahu, lalu melangkah kembali ke panggung. Ketika Shen Li menunduk pada mikrofon, hujan di luar mengetuk kaca, pelan, berirama, seperti memanggil sesuatu yang belum siap ia dengar. Di kejauhan, ia menangkap bayangan putih Xuan Zhan masih berdiri, tak bergerak, seolah menunggu keberanian dari masa lalu. Untuk sepersekian detik, Shen Li menoleh. Bukan untuk memandang, hanya memastikan dirinya masih mampu berjalan lurus. Tetapi ia melihat, sepotong tatapan yang pernah dia kenal yang dulu membuat hatinya bersandar tanpa ia sadari. Menarik napas, menegakkan bahu, dan kembali menatap panggung yang harus ia hadapi. Namun di antara denting hujan dan lampu redup, satu kesadaran muncul pelan. Beberapa pertemuan tidak terjadi tanpa alasan. Dan meski ia ingin berpaling, hatinya tahu, ini bukan terakhir kalinya ia melihat Xuan Zhan. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD