“Kakak, beneran homo?” tanya Vannesa, saat kami sudah tiba di rumahnya. Aku dan Vannesa ada di halaman depan rumahnya, sementara Vinka, dia sudah tiba lebih dulu. Anak itu membawa motor, jadilah sampai lebih cepat. Tante Riska dan Una sedang pergi, katanya di rumah hanya ada Sarah. “Engga sih,” jawabku. “Tadi, tuh. Spontan aja. Bingung habis mau alasan apa.” “Kenapa nolak orang harus selalu pakai alasan?” tanyanya. “Yaaa...” aku memaki otakku yang seksi ini dalam hati, kenapa lambat banget ini otak mikir. “Gimana, ya? Namanya manusia kan punya perasaan, takutnya kalau kita terlalu jujur dia sakit hati.” “Kakak tahu nggak kenapa aku suka kakak?” Dia bertanya. “Enggak tahu.” “Karena aku udah pernah sekali terluka oleh laki-laki yang tidak serius dan tidak tulus sama aku. Makanya aku

