Dugaan Leon

1088 Words
"Selamat siang, Mas. Apa benar ini blok Malorca?" tanya seorang kurir ekspedisi pada Leon. "Bukan, Mas. Ini blok Zaragosa. Kan ada plang-nya tuh di ujung. Blok Malorca ada di sebelah sana, masih dua blok lagi dari sini." Leon berusaha menjawab dengan sopan, padahal hatinya kesal bukan main, karena salah duga. Dikirain yang datang Amanda, eh, ternyata kurir nyasar. Setelah menutup pagar, Leon bergegas masuk ke kamarnya, mengambil sebuah buku, lalu membacanya dengan santai. Lama kelamaan, ia mengantuk. Namun, baru saja hendak hendak memejamkan matanya, terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Leon segera keluar dari kamarnya. "Bye ... bye, Mas Rio. Makasih ya, dah diajak jalan-jalan, ditraktir macem-macem juga," pamit Amanda pada Rio, setelah turun dari boncengan. Rio membuka helmnya, lalu menjawab, "Minggu depan ke pantai, yuk. Refreshing lah, lihat ombak. Jenuh kan di rumah melulu?" Leon merasa tersindir dengan ucapan Rio. Namun, ia menahan diri untuk tidak membalas komentarnya. Ia hanya memandang sinis pada pemuda itu. "Oke, siap!" jawab Amanda. Setelah berpamitan pada Leon, Rio pun berlalu. Amanda membuka pagar, sambil menjinjing sebuah plastik hitam. "Bawa apaan, sih itu? Oleh-oleh buat aku?" tanya Leon sok pede. "Ini strawberry. Sama sisa camilan waktu nongkrong di Ketep tadi." "Betah amat sih nongkrong berjam-jam dengan orang asing?" "Hah, orang asing? Gak salah tuh? Mas Rio sih bukan orang asing, orang lama malah. Kan dah kenal sejak dulu. Justru Mas Leon-lah yang sebenarnya orang asing, bukannya Mas Rio." Amanda menjawab dengan nada sinis. "Lagi pula, Mas Leon sendiri kan yang bilang kemarin, kalau Amanda boleh menerima kunjungan dari teman-teman Manda, juga diperbolehkan pergi dengan mereka?" lanjut Amanda dengan menggebu-gebu. Leon menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya, sih. Tapi kenapa yang datang Rio melulu sih? Modus deh dia kayaknya. Kamu jadi orang jangan sok kepolosan gitu deh, Manda." "Apa maksud ucapan Mas Leon?" Amanda memicingkan matanya ke arah Leon. "Dia suka sama kamu, Manda! Masak sih kek gitu aja gak paham?" ujar Leon dengan nada sinis. Amanda terhenyak. Terus terang saja, ia tak pernah berpikir sejauh itu selama ini. Sejak dulu, ia memang menyukai Rio. Mengobrol dengannya selalu menyenangkan. Pun dia selalu memperlakukan Amanda dengan sopan, sejak dulu hingga sekarang. Ucapan Leon barusan malah membuat batinnya bertanya-tanya, benarkan ucapan Leon tersebut? Benarkan jika selama ini Rio ternyata menyukainya? Tanpa membalas ucapan Leon, Amanda beranjak dari teras dan masuk ke dalam. Kantong plastik berisi strawberry ia taruh di atas meja makan, siapa tau Leon ingin mencicipi. Tak berapa lama kemudian, Amanda keluar dari kamarnya. Nampak Leon tengah memunguti jemuran di depan garasi. Setelah itu, Leon mengangkat jemuran aluminum itu, lalu menyandarkannya di dinding garasi. Memang rumah Leon ini terbilang kecil. Garasi berukuran 3x6 meter itu pun sudah penuh sesak dengan mobil dan dua motor. Kadang-kadang jika jemuran tak kering, Manda harus menaruh jemuran di teras, berdesakan dengan kursi teras, tempat Leon biasa nongkrong dan merokok. Amanda berjalan perlahan mendekati Leon. Ia meraih keranjang pakaian yang sudah penuh itu, lalu menyiapkan meja setrika, hendak menyeterika. "Kalau capek, besok aja nyetrikanya," ujar Leon. "Gak ah. Sekarang aja, mumpung senggang. Besok Manda sibuk kuliah soalnya." Leon mengendikkan bahunya. "Terserah, kamu, sih. Aku kan hanya ngasih usul." Jadilah siang menjelang sore itu Amanda menyeterika dengan ditunggui Leon. "Mas Leon gak ada kerjaan apa? Grogi tahu ditungguin gitu," protes Amanda, karena sejak tadi Leon tak beranjak juga dari kursinya, asyik memperhatikan pekerjaan Amanda. "Susah juga ya, nyeterika baju." "Terlihat susah karena Mas Leon gak ada niat belajar sih. Aslinya sih gampang aja. Emang sebelum ada Manda, baju Mas Leon diseterikain siapa?" "Laundry lah. Siapa lagi?" "Boros kalik, laundry melulu." "Yah, gimana lagi. Terpaksa," jawab Leon diplomatis. "Manda, entar jam lima, anterin aku ke toko kaset, ya." "Mau nyari kaset apaan? Didi Kempot?" ledek Amanda. "Sembarangan!" semprot Leon, sambil menjambak pelan rambut Amanda. Amanda hanya terkekeh. "Gak usah malu ngakuin, deh. Mas Leon kan emang dah uzur. Seleranya pasti seputar Didi Kempot sama Waljinah lah." "Ngeledek ya, kamu! Nih, lihat playlist di ponselku. Ada nama Didi Kempot gak di situ?" Leon menyodorkan ponselnya dengan gondok. Amanda membaca nama-nama penyanyi dan judul lagu yang ada di playlist Leon, tapi tak satu pun yang ia kenal. "Amanda gak kenal semua penyanyi yang ada di ponsel Mas Leon. Kita kan gak sekufu, Mas." "Gak sekufu?" Leon tergelak. "Iya lah, kamu mana ngerti Metallica, Iron Maiden, Dream Theater, Helloween, Pantera, Twisted Sister, dan sejenisnya. Lha wong seleramu dangdut Pantura. Bukak sitik, jos!" Giliran Amanda yang menjambak rambut Leon. "Sembarangan! Enak aja kalau ngomong. Manda ndengerinnya Billie Eilish, Alan Walker, Sia, Jessie J sama Maroon Five, tauk!" "Dah stop! Gak perlu diterusin. Aku gak kenal itu semua. Selera musik kita beda jauh ternyata. Kamu juga, nontonnya channel kartun melulu. Loony Tunes lah, SpongeBob lah, Mr. Bean lah. Pusing aku lihatnya." "Pusing ya gak usah ikut nonton, ribet amat jadi orang. Manda kadang nonton film juga sih, gak kartun melulu. Tapi Manda sukanya film drama atau komedi, bukannya yang action, horor, atau thriller gitu. Manda tuh suka hal-hal yang simpel. Nonton film yang berat-berat, kadang malah bikin mikir. Kan males jadinya. Gitu, Mas." Keduanya pun larut dalam sebuah obrolan seru, sampai tak sadar, jika baju seterikaan Amanda sudah habis. Kelar sudah tugas Amanda sore ini. Amanda segera mengangkat tumpukan baju yang sudah rapi itu, lalu menaruhnya di lemari mereka masing-masing. Leon membantu pekerjaan Amanda, dengan membereskan meja seterika, dan menyenderkannya di tempat semula. "Capek, Manda? Nih, minum dulu." Leon menyodorkan segelas air es pada Amanda. "Makasih, Mas. Tumben baik banget," jawab Amanda polos. Mendengar komentar Amanda, Leon pun tersenyum kecut. "Jangan lupa, ya, entar jam lima." "Iya, Mas, noted. Habis ini Manda mau istirahat dulu. Habis itu mandi, ngashar, terus berangkat kita. Oke?" kilah Amanda. Leon menggangguk puas. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya. Sementara itu di kamarnya, Amanda tengah berbaring. Lelah sekali ia hari ini. Sambil berbaring, ia memikirkan kata-kata Leon tadi. Benarkah jika Rio menyukainya lebih dari sekedar teman biasa? Ah, mana mungkin. Rio kan kerja di bank. Pasti lingkup pertemanannya sangat luas lah. Pasti ia punya banyak teman wanita yang cantik-cantik. Apa lagi, selain mapan, Rio juga tampan, baik hati, dan sopan. Pasti banyak wanita cantik di luar sana, yang rela mengantre untuk menjadikan Rio sebagai pasangan sahnya. Amanda yakin sekali, jika Rio hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Ia mengajak Amanda jalan-jalan, pastilah hanya karena iba. Rio pasti merasa kasihan padanya, karena dinikahi oleh pria yang tidak mencintainya. Begitulah pikiran Amanda saat ini. Padahal, tidak demikian dengan Rio. Sore ini, ia nampak tengah memandangi menu galeri di ponselnya. Senyumnya mengembang menekuri puluhan foto Amanda, gadis yang belakangan ini selalu menghiasi mimpinya ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD