Hari yang terang, berubah gelap. Tidak ada canda tawa. Tidak ada suara menenangkan Ibu nya. Tidak ada rayuan dan gurauan dari Ayah nya yang akan membuat Ibu nya merona malu atau kesal.
Tidak ada.
Semua itu hanya karena satu alasan. Kecelakaan beruntun yang melibatkan keduanya saat Joyceline masih kecil.
Dan saat ini, Joy berdiri di pusara kedua orangtua nya. Dia menatap sendu kedua tempat peristirahatan orang tua nya. Tapi sedetik kemudian, dia merasakan sakit di belakang kepalanya.
Kepalanya dihantam dengan benda berat dan membuat kesadaran nya menghilang seketika.
✳✴✳✴✳
Mimpi buruk.
Cukup untuk membuat Joyceline tersentak dan meringis kesakitan. Kedua mata nya di tutup oleh sebuah kain hitam.
'Oh, bukan mimpi buruk. Tapi ini juga hari yang buruk.' pikir Joyceline
Hari ini, hari dimana dia diculik. Entah sudah berapa jam dirinya ada di tempat ini. Sendirian, dengan tangan dan kaki yang terikat. Jangan lupakan matanya yang tertutup.
'Apa ini karena aku tidak mematuhi perintah Lily? Tapi aku 'kan hanya ingin mengangkat telfon.' rutuk Joy dalam pikiran nya
Tak lama kemudian, terdengar pintu ruangan yang terbuka. Joyceline memasang telinga nya rapat rapat, berusaha agar bisa mendengar suara si penculik.
"Sial! Keluarganya kaya tapi mereka tidak ingin memberi uang pada kita!" umpatnya
Joyceline memejamkan matanya, 'Harusnya sudah aku duga. Nenek sihir dan anak nya pasti tidak ingin mengeluarkan harta milikku yang sedang mereka nikmati secara cuma cuma.' kesal Joy
"Dia artis. Minta tebusan pada agensi yang menaungi semua kegiatan nya. Lima ratus juta tidak ada apa apanya di bandingkan nyawa artis kesayangan mereka." perintah suara lain
"Lagipula keluarga yang kau sebutkan tadi, bukan keluarkan aslinya. Orang tua nya sudah mati saat dia masih kecil. Kemungkinan orang yang kau ajak bicara di telfon adalah Bibi nya." lanjut suara tadi
Dalam diam, Joyceline membenarkan. Jika yang mengangkat telfon nya tadi adalah orang tuanya, kedua nya tidak akan segan untuk memberikan sejumlah uang yang mereka pinta.
'Apa aku akan mati disini? Lily tidak mungkin mengira jika aku sudah pulang, kan? Dia tidak mendadak bodoh, kan?' cemas Joyceline
"Bos, sejak tadi... Kenapa mobil itu terus menerus lewat ke tempat ini?"
"Mobil? Mobil apa maksudmu?!"
"Mobil berwarna hitam itu. Beberapa kali, aku melihat mobil nya bergerak melintasi rumah ini. Apa jangan jangan itu mobil polisi?!"
Perlahan secercah harapan bersarang di d**a Joyceline. Dalam diam, dia ingin menangis terharu karena mengetahui jika Lily tidak mendadak bodoh dan mengetahui jika dirinya menjatuhkan ponselnya saat di culik tadi.
"Bos, ada seseorang mendekat! Dia memakai pakaian serba hitam!" seru sebuah suara yang terdengar cempreng
"Sial!! Double sial jika kita tertangkap sebelum mendapatkan uang tebusan!" umpat suara pertama tadi
"Amankan perempuan itu. Jangan biarkan ada orang lain yang mengetahui keberadaan nya!" perintah suara kedua
Lalu sesaat setelahnya, Joyceline dapat merasakan jika tubuhnya terangkat. Tidak ingin menjauh dari secercah harapan tadi, Joy bergerak mengayunkan kaki nya yang terikat pada tubuh pria yang mengangkatnya.
Joy merasakan tubuhnya terhempas di tanah dan kepalanya kembali terbentur lantai.
'Seseorang, tolong cepatlah datang! Aku belum mau mati, aku belum siap!' harap Joy
Benar saja, tak lama kemudian pintu terdengar di ketuk dengan keras. Suara si boss kemudian terdengar mendekat pada Joyceline, dia juga memerintahkan para bawahan nya untuk membukakan pintu dan menyambut siapapun yang datang.
Seolah pedang yang bermata dua, Joy merasakan jika ada sesuatu yang dingin yang menempel di dahinya.
Ujung senapan.
'Aku belum mau mati...' ratap Joy. Dapat dia rasakan jika tubuhnya yang hanya memakai dress pendek gemetar pelan. Hawa dingin sekaligus ketakutan mulai hinggap pada Joyceline.
Joy mulai mencoba tersenyum, jika mati, setidaknya dia harus terlihat cantik dan penuh keikhlasan.
'Jika aku mati tertembak, aku akan datang pada mereka yang sudah membunuhku. Akan aku cekik mereka!' tekad Joyceline dengan sungguh sungguh
Tapi nihil, sebagaimana pun Joyceline bersiap dan mencoba menguatkan dirinya untuk bersiap pada hal apapun yang akan terjadi, tubuhnya yang gemetaran tidak bisa menampik rasa ngeri yang membayanginya.
Lalu suara tembakan terdengar.
Joyceline sudah mempersiapkan diri untuk berbaring dengan cantik, tapi nyatanya dia tidak merasakan apapun. Malah ringisan dan erangan kesakitan si boss yang terdengar.
Suara itu terdengar jelas di telinga Joyceline.
Tak lama setelahnya, suara tubuh yang ambruk terdengar.
'Syukurlah, aku tidak jadi mati.' pikir Joyceline. Dia termenung menatap kegelapan yang berada di hadapan matanya. Karena penutup mata nya belum dibuka.
Lalu terdengar suara derap langkah dari banyak orang. Joyceline mengenali langkah itu dari sepatu polisi. Terkadang film yang di bintangi nya melibatkan profesi tertentu seperti Polisi atau Tentara. Dan suara langkah itu... Sama seperti derap langkah sepatu seorang Polisi.
"DIA ADA DISINI!" terdengar suara teriakan dari seseorang. Bersamaan dengan terlepasnya ikatan dilengan dan kaki Joyceline.
"Kau baik baik saja?" tanya seseorang yang dapat Joyceline rasakan jika orang itu ada di hadapan nya.
Joyceline mengangguk. Dia menunggu seseorang untuk membuka lakban yang menutup mulut dan membuka kain yang menutup mata nya.
Dapat dia rasakan jika di depannya, sosok yang membukakan ikatan di tangan dan kaki nya itu bergerak melingkari tubuh Joy. Aroma parfum yang maskulin tercium jelas oleh Joyceline.
Ikatan di mata Joyceline terbuka. Dia mengerjapkan matanya dengan gerakan pelan sebelum akhirnya membuka matanya lebar lebar. Tatapan nya beradu dengan netra tajam seseorang yang sejak tadi berada di hadapan nya.
Wajah dengan sorot tajam itu tersenyum, "Kau baik baik saja?" tanya nya
Joyceline mengangguk. Tingkahnya yang biasanya pecicilan, mendadak kalem. Terlebih ketika mengenal sosok berseragam yang ada di hadapan nya.
David Legiond.
"Ayo, kita keluar." ajak David sambil menyodorkan tangannya pada Joyceline. Dia membantunya untuk berjalan setelah melihat memar dan lebam di tangan dan kaki Joyceline, bekas ikatan itu.
Joyceline meraih tangan David dan mengedarkan tatapan ke sekelilingnya. Dia di sekap oleh beberapa pria di dalam sebuah rumah kecil. Joy juga menoleh ke belakang, dia melihat bercak darah menempel di lantai dan dinding.
"Jangan dilihat. Itu karena dia tidak mau menyerahkan mu secara baik baik. Lagipula kami hanya menembak kaki nya, agar dia tidak bisa kabur." jelas David sambil membawa Joyceline keluar dari rumah itu
Joy berjalan keluar, dia menatap hutan dan kegelapan yang mengelilinginya. Jangan lupakan beberapa mobil polisi yang berbaris di halaman rumah itu. Sirine mereka menyalak keras, memecah keheningan malam.
"Duduk disini, kau bisa menenangkan diri. Aku akan pergi untuk mengurus beberapa hal. Jangan khawatir, kau aman sekarang." ujar David sambil tersenyum pada Joy yang masih terdiam
Joy duduk di dalam mobil berwarna hitam. Pintu mobil itu dibiarkan terbuka, membuat Joy bisa melihat semua aktifitas para polisi yang berlalu lalang disana.
David, polisi yang membantu nya tadi terlihat memberikan beberapa instruksi pada tim nya yang sedang memotret bagian dalam rumah. Joyceline yang sedang memperhatikan nya mendadak tersentak kecil setelah melihat David kembali berjalan menghampiri nya.
"Joyceline Olivia?" tanya David
Joyceline tersenyum tipis, "Itu aku. Terimakasih karena telah menyelamatkanku." gumamnya pada David
David menghela nafasnya. Dia meraih selimut tipis yang ada di dalam bagasi mobilnya sebelum akhirnya menyelimuti tubuh Joyceline dengan selimut itu.
"Kami membutuhkan kesaksianmu di kantor polisi. Aku harap kau bisa menjelaskan semuanya, agar proses hukum bisa di laksanakan sebaik mungkin." ujar David perlahan, mencoba membuat Joyceline mengerti dengan permintaan nya.
"Iya. Aku usahakan untuk pergi kesana." sahut Joyceline
David mengangguk dan mengedarkan tatapan nya ke arah lain. Semua pasukan nya saat ini tengah mengamankan banyak barang bukti dan TKP.
"Inspektur, para tersangka kini telah diamankan. Aku dan Harry akan membawa tersangka ke kantor polisi." lapor Adam
David mengangguk, "Baik."
"Oh, Adam? Apa pihak keluarga nya sudah di hubungi?" tanya David pada Adam
Adam melirik sekilas David sebelum akhirnya melambaikan tangan nya, meminta David untuk menjauh sejenak dan menghampirinya.
"Ini aneh. Sudah berhari hari sejak Aktris itu diculik, tapi keluarga nya tidak melapor sama sekali." bisik Adam
"Mungkin keluarga nya tahu jika akan ada perwakilan pihak agensi nya yang mengurus hal ini." sahut David
"Tidak, bukan begitu maksudku. Tapi apakah ini tidak aneh? Maksudku, mereka kan seharusnya menanyakan perkembangan kasus ini setidaknya satu kali? Tapi ini tidak ada sama sekali. Aku yakin jika keluarga nya ada sangkut pautnya dengan hal ini." sangkal Adam
David menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sikap sok tahu Deputi nya itu. Tapi dalam diam, David juga menanyakan hal itu. Dia mengetahui jika Joyceline adalah anak dari pengusaha ternama. Belum lagi dia adalah seorang aktris, agak mustahil jika pengawalan nya selemah ini.
"ASTAGA CELINE!"
Perhatian David teralihkan ketika mendengar suara histeris seorang perempuan. Dia menatap perempuan muda yang berlari keluar dari mobilnya menghampiri Joyceline.
"Pergilah, aku akan mengurus keadaan disini. Seperti nya sebentar lagi akan banyak wartawan berkeliaran." perintah David pada Adam. Adam memberi hormat pada David dan berbalik pergi, kembali menggiring para tahanan itu untuk masuk ke dalam mobil polisi.
David melihat mobil polisi yang di kendarai oleh Adam hingga menghilang dari lokasi. Kemudian dia berbalik dan kembali menghampiri Joyceline yang kini tengah menangis sambil memeluk perempuan yang baru datang tadi.
"Sudah ku bilang untuk menunggu! Aku hanya membeli minuman sebentar!" omel perempuan itu pada Joyceline. Dia terlihat seperti seorang Ibu yang memarahi anaknya.
"Kau baik baik saja, kan? Tidak ada yang terluka?" tanya nya pada Joy dengan perasaan cemas
"Aku baik baik saja." jawab Joyceline pelan
"Mereka tidak melukaiku, mereka sempat meminta tebusan pada Paman dan Bibiku," Joy menghela nafasnya. Dia kembali melanjutkan ucapan nya dengan gumaman pelan, "Tapi mereka tidak memberikannya."
"APA?! Dasar menyebalkan! Mereka pikir mereka siapa?! Mereka juga hidup di bawah harta mendiang Ayah dan Ibu mu, kan?!" kesal Lilyanna
Joy memegang lengan Lily, berusaha menahan perempuan itu agar tidak membuat keributan lain karena para Polisi sudah mulai menatap mereka dengan tatapan bingung. Lily tertegun melihat seulas senyuman di wajah Joy.
"Tak apa. Aku bisa membalas mereka, ingat? Aku adalah Joyceline. Dan tidak ada orang lain yang bisa menindasku." ucap Joy dengan seulas senyuman sombong. Senyuman itu terlihat janggal di mata Lily karena perempuan itu sudah menangis sebelumnya.
"Mengerikan. Kau seperti psikopat." komentar Lily
Joyceline baru saja akan membalas komentar Lily ketika dia melihat seorang Inspektur Polisi berjalan mendekatinya. David Legiond.
"Sudah lebih baik?" tanya David dengan seulas senyuman nya
Joy mengangguk, perlahan dia mulai turun dari mobil yang pintu nya terbuka sejak tadi.
"Aku akan pulang. Terimakasih atas bantuan mu. Aku tidak yakin apa yang akan terjadi padaku, seandainya para Polisi tidak datang membantu ku." ujar Joyceline
David mengangguk, "Ini sudah menjadi tugas kami." sahutnya singkat
Dia menaikan satu alisnya ketika melihat Joy berjalan bersama teman perempuan nya, Lily menuju mobil yang tadi di kendarai oleh perempuan itu.
"Tunggu!" seru David. Dia berlari menghampiri keduanya dan menatap cemas wajah pucat Joyceline.
"Kalian hanya berdua? Tidak ada orang lain lagi?" tanya David
"Iya. Aku manajer Joyceline. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa taekwondo. Kemarin Celine mengalami penculikan karena dia tidak mau mendengarkan ku." jawab Lily sambil agak memelototkan matanya pada Joy
David tertawa kecil, "Tapi hari sudah malam. Agak berbahaya. Belum lagi karena kita tidak tahu apakah para penjahat ini punya kawanan di tempat lain. Aku takut jika kawanan mereka masih tersebar di wilayah ini dan akan melakukan sesuatu yang jahat pada kalian."
"Begini saja, kau bisa pulang diantar temanku, Adam. Sementara aku akan mengantar Joyceline dengan mobilku. Bagaimana?" saran David
Lily menatap Joyceline. Dia menimbang banyak hal di dalam kepalanya sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Aku tidak mau Celine di culik untuk yang kedua kali nya." ucap Lily
David tersenyum, "Sebentar ya."
Setelahnya dia berbalik pergi, menghampiri Adam yang baru saja selesai memborgol ulang tangan para tahanan itu di dalam mobil polisi. David terlihat mengatakan beberapa hal pada Adam, Adam mengangguk dan membalas ucapan David dengan seulas senyuman tipis.
"Hm, polisi yang baik." gumam Joyceline
Tak lama kemudian, David kembali berjalan menghampiri Joyceline.
"Ayo, kita menuju mobilku." ajak David
"Aku duluan, ya." pamit Joy pada Lily
"Pergilah, hati hati." sahut Lily
Joy berjalan perlahan mendekati mobil David. Pria itu dengan sigap, segera membukakan pintu untuk Joy. Setelah memastikan jika Joy sudah nyaman di kursi nya, David menutup pintu mobil dan berjalan mengitari mobil untuk memasuki pintu satunya.
Tak lama kemudian, mobil beranjak pergi meninggalkan TKP. Dan tanpa sadar, ini lah awal dari segala nya. Awal dimana Joy mungkin akan menemukan kebahagiaan nya atau justru... Sebagai awal dari semua musibah yang akan menimpa nya.
:: Author Note ::
Bismillah, semoga rame (❁ᴗ͈ˬᴗ͈)◞