19. Ayah – II

1123 Words
19. Ayah – II Mengapa dalam beberapa hari ini, ia menjadi lebih sering pingsan daripada sebelumnya? Dan lagi, ketika membuka mata selalu dihadapkan pada situasi membingungkan. Saat ini, tepat ketika membuka mata, Naraya dihadapkan langsung pada sebuah pendopo usang yang menjadi sarang bagi laba-laba dan burung walet. Kendati tubuhnya diserang rasa pegal ketika mencoba duduk, ia memaksakan diri. Pendopo itu seolah ditempatkan di lokasi tidak strategis karena berada di pinggiran tebing berbatu. Diperparah dengan suasana gelap, hari telah sepenuhnya berubah malam. Telinganya menangkap suara bergumam dari belakang. Ia cukup terkejut ketika menyadari keberadaan tiga pria yang mengenakan jubah hitam sedang komat-kamit seolah membaca mantra. Tidak cukup menjadi anak siluman, sekarang ia akan dijadikan tumbal persembahan. Bagus sekali. Sungguh nasib ‘baik’ memang mengalir deras dalam darahnya dan keluarganya pula. Sebelum ia sempat menegur mereka untuk menanyakan situasi aneh apa yang sedang ia alami, suara-suara gelisah hewan-hewan terdengar secara tiba-tiba. Ketiga pria itu menghentikan komat-kamit mereka yang khidmat, lantas beralih pada Naraya yang kebingungan. Sugi menatap Naraya lamat-lamat, lalu berkata, “Jangan takut. Kami hanya ingin mempertemukanmu dengan ayah yang selama ini disembunyikan keberadaannya. Dia bukan sosok yang jahat walaupun berwujud monyet yang lebih besar daripada waktu itu.” Naraya termangu, ia menyadari jika posisinya sekarang tidak memungkinkan untuk meninggalkan pendopo ini. Dengan kakinya yang terikat pada tiang pendopo, memperlambat kemungkinan ia kabur. Terlebih lagi mereka membebat tali tersebut cukup kencang. Sebuah guncangan keras mengejutkan mereka, hewan-hewan malam berteriak makin gelisah dan ketakutan. Sementara itu, Naraya menyadari bahwa ketiga pria itu sudah tidak ada di sana. Kemungkinan besar mereka meninggalkan Naraya setelah mendengar guncangan besar itu. Guncangan itu kembali datang, memacu detak jantung Naraya hingga di titik napasnya tersengal dan mulai berkeringat. Ia teringat kembali ketika menonton film-film bergenre thriller atau suspense yang pernah ditontonnya dulu. Tidak disangka kini ia dihadapkan langsung pada situasi nyaris sama di mana para karakternya mengalami situasi menegangkan seperti ini. Bahkan ia tidak bisa lagi berpegangan pada tali yang mengekang kakinya. Tangan yang gemetaran tidak bisa lagi mencoba melepaskan kekangan itu. “Hentikan apa yang sedang kamu lakukan itu.” Sebuah suara datang menghentikan aktivitas sia-sia Naraya. Ia mungkin dihadapkan pada monyet berukuran besar atau makhluk lain yang serupa itu, tetapi yang ia dapati adalah pria yang memiliki rambut lebih banyak daripada pria pada umumnya. Sebuah ekor meliuk-liuk di belakang tubuh pria itu. Rol ingatan Naraya kembali berputar. Sosok pria yang pernah ia lihat di jendela rumahnya waktu itu. Seketika, ia kehilangan kata-kata. “Aku sebenarnya sudah berjanji pada ibumu agar tidak menemuimu lagi atau paling tidak melihat kalian dari jarak yang jauh. Tapi karena orang-orang itu sudah berbuat demikian, aku harus bagaimana lagi. Oke, aku sudah menunjukkan wujud asliku padamu, maka sekarang kembali lagi padamu yang memilih, apakah kau bersedia menerima kenyataan bahwa aku adalah ayahmu atau kau memilih pergi. Itu saja. pada akhirnya juga kau tetap tidak bisa menerima fakta ini bukan. Yang sudah disembunyikan rapat-rapat ibumu utnuk waktu yang lama.” Naraya masih bergeming di tempat. Otaknya berusaha memproses kejadian yang tengah ia alami. Pria di hadapannya ini memiliki tubuh tinggi, kemungkinan nyaris dua meter. Bertubuh gagah seperti karakter-karakter dalam komik atau gim. Perawakannya yang tinggi dan gagah tidak begitu mengejutkan, tetapi ekor yang meliuk-liuk dan bergerak-gerak dengan lucu itu membuat Naraya geli. Wajahnya memberikan kesan tegas, ada jambang yang menutupi garis-garis rahangnya, dan bulu itu berwarna hitam pudar, cenderung menuju warna abu-abu yang mengingatkan Naraya akan warna monyet-monyet di sekitaran tempat tinggalnya. Pertumbuhan rambutnya pastilah berlebih dan pria ini juga memiliki aura kuat. Ia hanya mengenakan selembar jarit bermotif batik sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan tidak mengenakan apa pun, ada rambut-rambut lebat yang menutupi sebagian leher dan dadanya, dengan itu mungkin sudah cukup menjaga tubuhnya tetap hangat. “Sudah puas menatapnya. Kamu mau melihat di mana-mana saja letak kemiripan kita, ‘kan? Kamu mungkin lebih tinggi di antara anak kebanyakan, tapi kamu masih akan bertambah tinggi lagi. Bisa saja kamu mencapai tinggi ini kalau rajin olahraga. Tapi sepertinya kamu bukan tipe yang rajin olahraga.” Pria itu kembali memancing pembicaraan, tetapi Naraya lebih banyak diam. “Ah… sepertinya mereka sia-sia saja karena sudah membawamu ke sini. Kau berada jauh, Ayah tidak bisa bicara dengamu karena ada ibumu di sana. Kau berada dekat sekali dengan Ayah… kau sendiri tidak mau bicara dengan Ayah. Persis sekali dengan ibumu. Ayah tidak ingin melakukan hal yang sia-sia. Semakin tua usia Ayah, semakin mudah lelah. Ada baiknya kau kembali saja selagi masih ada mereka di luar sana. Ayah akan membantumu melepaskan ikatan ini. Mereka akan Ayah marahi, jangan khawatir.” Pria itu menaiki pendopo panggung, meninggalkan bunyi berderit pada setiap langkah. Ia sempat bercanda tentang berat badannya dan pendopo panggung ini yang sudah reyot. Sebenarnya sudah harus diganti tetapi tidak ada siapa pun yang bisa menggantinya. “Ini adalah kunjungan mereka setelah belasan tahun, wajar saja pendopo tua ini berderit. Salah-salah bisa roboh karena berat badanku sendiri. Haha, kau pasti seperti ibumu yang ringan. Ayah bahkan bisa mengangkatmu dengan satu tangan saja.” “Kenapa…?” Itu adalah tanggapan pertama yang keluar dari bibir Naraya setelah sekian lama sosok di hadapannya berusaha mengajak mengobrol. Satu kata yang menyimpan banyak arti. Apa yang berusaha ia sampaikan dan tanyakan dengan satu kata itu? “Kenapa apa? Itu adalah tanggapan paling dingin yang pertama kali Ayah dapat darimu. Khas sekali seperti ibumu yang selalu menyikapi Ayah dengan perlakuan dingin.” “Kenapa kau adalah ayahku? Kenapa… kenapa aku… aku… sampai mengalami hal-hal tidak masuk akal macam ini? Apakah aku gila? Kenapa… kenapa aku harus jadi anakmu? Mengapa aku harus memiliki Ayah yang sama sekali tidak mempedulikan keluarganya sendiri?” Air mata Naraya tumpah setumpahnya. Seolah stok air matanya yang selama ini tertahan ditumpahkan dalam satu waktu, saat itu pula. “Ini cerita yang panjang dari sisi Ayah. Kau tentu tidak ingin berlama-lama di sini, ‘kan? Ayah bisa merasakan kebencian itu dari sorot matamu kepada Ayah. Ibumu pasti sudah menanamkan perasaan itu padamu sejak lama. Ayah juga tidak bisa menyalahkannya karena ia mengalami situasi sulit saat masih muda. Kalau kau ingin mendengarkan cerita Ayah, oke. Mari kita pindah ke tempat yang lebih pantas daripada padepokan reyot ini.” Pria itu telah melepas kekangan di kaki Naraya, dilihatnya ikatan pada pergelangan kaki Naraya meninggalkan bekas. Ah… dia benar-benar akan memarahi ketiga pria tadi. “Bagaimana? Kau ingin mendengarkan cerita dari sudut pandang Ayah atau tidak? Kemungkinan, tidak akan ada lagi kesempatan seperti ini. Ibumu pasti akan memisahkan lagi kita berdua dan Ayah sendiri juga harus menjaga jarak darimu. Itu sudah jadi janji Ayah dan Ayah sudah berkali-kali melanggarnya. Sekarang keputusan berada di tanganmu. Bagaimana?” Naraya terbengong-bengong sebentar, ia mengangguk pada akhirnya. Entah mengapa, kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Mereka berpindah ke tempat yang luar biasa, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD