28. Latihan Rahasia – II

1190 Words
28. Latihan Rahasia – II “Seperti yang sudah Ayah katakan bahwa ada api yang menyala-nyala di dalam tubuh Ayah. Itu adalah energi luar biasa yang menopang kehidupan kita. Setiap makhluk hidup memiliki energinya masing-masing. Tapi untuk kaum kita, energi itu jauh lebih besar daripada manusia, tumbuhan, atau hewan. Ada beberapa kasus di mana manusia biasa, pohon berusia tua, hewan-hewan tidak terduga juga memiliki energi sebesar kaum kita. Tapi Ayah hanya akan meyakinkan bahwa kekuataan kita jauh jauh jauh lebih dahsyat daripada yang bisa dibayangkan,” terang ayahnya. Maka, di sinilah mereka. Atap rumah. Tengah malam. Tidak ada orang yang menyadari keberadaan mereka di sana karena ayahnya sudah lebih dulu menciptakan selubungan tidak terlihat mata biasa untuk menghalangi pandangan. Naraya enggan menjadikan kamarnya sebagai lokasi temu dan ayahnya juga tidak ingin jauh-jauh dari rumah itu. Oke, anggap saja memilih atap rumah ini sebagai win-win solution. “Tunggu, tunggu, ayah pernah menyebut kalau ada energi kehidupan di dalam diri Ayah yang semakin lemah dari hari ke hari, untuk bertahan hidup, ayah menggunakan energi dari luar. Tapi… apakah yang Ayah maksud dengan mengambil energi makhluk hidup lain. Dan satu lagi hal yang mengganjalku. Ayah juga menggunakan energi di dalam diri Ayah untuk merawat alam ini, jadi… bukankah menggunakan energi dalam diri Ayah adalah perbuatan sia-sia. Pada akhirnya itu akan mengancam nyawaa Ayah sendiri bukan?” Iswara mendadak bingung memberikan penjelasan. Maka ia meminta Naraya mengambil kertas dan pensil. Lalu mulai memberikan gambaran singkat tentang bagaimana energi dalam tubuhnya bekerja. Ia menggambar sebentuk tubuh orang, ditambah dengan aksen ekor. Oke, itu pasti ayahnya. Lalu sebuah api kecil digambar di tengah-tengah tubuh. “Ini adalah energi dalam diri Ayah. Energi ini dulunya cukup untuk melindungi diri Ayah sendiri, tetapi sekarang terbagi ke dalam kau dan ibumu.” Ayahnya menggambar lagi dua tubuh manusia, yang satu untuk ibunya karena memiliki rambut panjang, yang satu adalah Naraya karena digambar tanpa rambut dan lebih pendek daripada gambar orang sebelumnya. “Fungsi dari energi yang Ayah berikan pada kalian adalah untuk menopang kehidupan. Kalian berdua sampai saat ini tidak menggunakannya untuk hal-hal seperti yang Ayah lakukan. Jadi energi yang Ayah berikan pada kalian utuh, sementara kalian juga memiliki energi sendiri dalam tubuh kalian. Maka tidak apa-apa jika energi ini tidak digunakan sama sekali.” Ayahnya menggambar api kecil di dalam tubuh gambar dua orang itu, lalu menggambar lagi bulatan lain yang diidentifikasi sebagai energi kehidupan asli tubuh mereka. “Berbeda dengan manusia, kaum kita memiliki kemampuan untuk menarik energi dari makhluk lain dan menggunakannya untuk diri sendiri. Tak hanya sekadar menarik atau mengambil, kita juga bisa mengendalikannya. Itulah konsep yang sering Ayah lakukan untuk mengendalikan para hewan-hewan gunung. Ayah tidak perlu menguras energi mereka dan menggunakannya untuk Ayah sendiri. Ayah hanya meminjamnya atau menjadi perantara. Dan lagi, energi yang Ayah gunakan itu tidak semuanya habis untuk satu atau dua pekerjaan, terkadang ada pula energi yang dilepaskan. Misalnya ketika tanaman melakukan fotosintesis, mereka melepaskan energi. Terkadang ada juga yang memang ingin berbagi. Sungai-sungai sebagai contohnya, sejak dulu air memang dikaitkan sebagai energi baik, dari sana pula sebagian bisa Ayah simpan.” Naraya mencoba memahami sekaligus dibingungkan. “Jadi… karena itu energi dari luar, maka tidak bisa memperbaiki energi dari dalam diri Ayah sudah terbagi itu, ya? Lantas… semisalnya energi yang terbagi padaku dan Ibu kembali pada Ayah… bisakah energi kehidupan Ayah kembali?” Iswara menundukkan kepala, segaris senyum sendu memberikan pertanda buruk. “Ya… anggap saja energi kehidupan yang Ayah berikan padamu sudah tidak terlalu berguna lagi. Kau punya energi kehidupan yang besar, melepaskan energi itu tidak akan memperburuk kondisi tubuhmu. Kau bahkan sudah jauh lebih baik tanpanya. Tapi ibumu lain lagi… ketika melahirkanmu dulu ia sudah di ambang kematian. Sampai sekarang pun energi kehidupan Ayah yang menopangnya. Energi kehidupan dan energi biasa adalah dua hal yang berbeda. Itulah kenapa Ayah bilang bahwa energi kehidupan yang tersisa dalam diri Ayah adalah bara api, sedangkan energi lain yang Ayah dapatkan dari luar adalah angin. Angin memang membantu memperbesar api, tapi jika baranya sudah padam, maka ia akan mati. Itu juga berlaku untuk ibumu.” “Jadi sampai sekarang pun Ibu….” “Iya. Ia bahkan terhitung masih sekarat sampai sekarang. Tidak seperti dirimu. Maka dari itu, Ayah bertahan dengan menggunakan energi dari luar untuk mengatur alam ini. Energi yang mereka lepaskan hanya Ayah putar, energi dalam tubuh Ayah sudah tidak bisa membantu mereka lebih banyak karena energi-energi itu sebagian untuk menjaga agar bara di dalam tubuh Ayah tidak padam. Maka… kau bisa lihat jika kondisi gunung ini cukup memprihatinkan.” Naraya tercenung cukup lama. Hal-hal yang baru saja ia ketahui seharusnya sudah bisa mengubah hati ibu kepada ayah, tetapi keduanya masih terjebak dalam labirin kesalahpahaman itu. “Ayah bisa mengambil lagi energi kehidupan punya Ayah dariku. Aku tidak membutuhkannya lagi, ‘kan?” Iswara terkekeh. “Ya… Ayah ingin sekali mengambilnya. Tapi tidak dalam waktu dekat. Anggap saja sebagai tabungan. Lain kali saja. Untuk saat ini sebaiknya kau belajar tentang bagaimana menggunakan energimu sendiri.” “Menggunakannya tidak akan membahayakan nyawaku bukan?” tanya Naraya sangsi. “Tentu saja tidak. Kau kan menggunakannya untuk dirimu sendiri. Beda dengan Ayah yang menggunakannya untuk tiga tubuh. Apa kau mau merasakan energimu? Selalu ada cara mudah untuk menyalakannya,” tawar ayahnya. Naraya mengangguk. Ia menurut saja ketika tangannya diambil sang ayah, pria itu memusatkan pandangannya pada telapak tangan Naraya. Lalu dengan satu tekanan kecil yang memberikan sensasi sengatan kencang pada tubuhnya, Naraya seolah bisa melihat bagaimana darahnya mengalir, jantungnya berdetak, dan pencernaannya berjalan. Lalu, sebelum pandangannya dipenuhi warna putih, ia merasakan kehangatan pada telapak tangannya. Hangat sekali seolah ada cahaya lampu kecil di sana. “Lihatlah, itu adalah energi kecilmu. Warnanya masih putih karena kau sama sekali belum menemukan warna padanya,” terang Iswara. “Warna?” tanya Naraya tidak paham. “Ya… semua orang tentu memiliki warna masing-masing. Kau juga akan punya nanti. Ayah sudah mengibaratkan punya Ayah sebagai api, ‘kan? Itu karena warna energi Ayah merah yang membara. Kau akan melihat warnamu nanti jika sudah berlatih keras. Bersiap-siaplah untuk itu.” “Apa aku akan dilemparkan lagi ke jurang berbatu cadas itu?” tanya Naraya agak bercanda. “Ya… jika itu diperlukan… kenapa tidak?” Ayahnya malah menjadikan candaan itu sebagai hal sungguhan. Ekspresi takutnya tidak kentara, hanya memucat. “Ya… siapa tahu bukan? Selalu saja ada kemungkinan yang terjadi. Maka… jangan kaget jika nantinya kita akan melakukan pelatihan yang agak ekstrem.” Iswara melepaskan tangan Naraya lantas mengembalikan lagi kertas dan pensil. “Kita sudahi sampai di sini dulu. Kau besok masih sekolah dan Ayah masih harus mengecek kondisi tanah yang sebentar lagi akan longsor. Ayah harus berpikir ekstra keras untuk menemukan jalan mencegah longsor itu. Kembali dan beristirahatlah.” Namun Naraya bergeming. “Uhm, bisa bantu aku masuk kembali ke dalam? Aku sebenarnya agak takut dengan ketinggian.” Iswara tertawa, sungguh ironis sebagai anak seorang siluman monyet yang doyan naik turun pohon dan gunung, Naraya malah takut pada ketinggian. Sesi belajar malam itu berakhir dengan menggendong Naraya dan berpisah dengan lambaian tangan lemah. Naraya memang masih menyisakan sedikit rasa benci pada ayahnya atas hal yang dulu terjadi, tetapi ia harus belajar memaafkan dan menghapus rasa itu. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD