Sebentar Manis, Sebentar Abai

1104 Words
Setelah mengikatkan syal ke leherku, Malik berjalan begitu saja, seolah-olah tak peduli kalau aku nanti tersesat. Hai, apa dia tidak takut kehilangan gadis secantik aku? Bagaimana kalau ada penculik? Dasar laki-laki tidak peka. Dia bahkan tak menoleh ke belakang. Baru saja terpesona oleh perlakuan manisnya, sekarang aku harus menarik kembali rasa kagum itu. Tadinya berharap setelah Malik mengikat syal di leherku, dia akan merengkuh bahuku seperti adegan di drama korea. Aku akan tersenyum dan tidak lagi merasa kedinginan. Akan tetapi, semua malah jauh dari ekspetasi Astaga! Sadar, Ayana! Apaan, sih? Baru juga diperhatikan kayak gitu udah salting aja. Suara di kepala mengingatkanku. Jangan sampai jatuh ke dalam pesona lelaki dingin itu, apalagi jatuh cinta. Aku menggeleng cepat untuk menghalau imajinasi yang udah meracuni otakku. Gegara kebanyakan DRAKOR ini, jadinya isi kepalaku halu semua. "Oi, mau sampai kapan bengong di sana?" Aku menoleh ke arah Malik yang berdiri jauh di depanku. Wajahnya terlihat kesal menungguku. Aku nyengir menyadari terlalu jauh melamun sehingga tak menyadari Malik sudah berdiri di dekat pengambilan barang barang. Ditambah lagi orang-orang yang melihat ke arah kami. Mungkin bahasa yang berbeda membuat mereka penasaran. "Udah dibilangin jangan norak. Baru nyampe di bandara udah pangling, apalagi sampai di hotel nanti. Awas pingsan!" Ya ampun! Ingin kugosok mulut si beruang kutub ini pakai cabe setan level iprit. Omongan, kok, tidak ada manis-manisnya. Nyelekit banget, aura panasnya aja sampai ke kuping. "Eh, biasa aja kali aku mengagumi keindahan. Tandanya aku menghargai karya orang lain. Lah, kamu bisanya ngomel aja, pantas si Vio ka--" Aku menutup mulut cepat ketika menyadari mengucap kata-kata yang tidak seharusnya dikeluarkan. Sorot mata Malik berubah, seketika iris hitam itu menajam, seperti ada amarah yamg dia tahan. Aku memasang wajah memelas sebagai permintaan maaf. Memang, kebiasaan mulutku lebih cepat daripada otak berpikir. "Maaf, aku enggak bermaksud--" Alih-alih mendengarkan, Malik meraih travel bag-nya lalu berjalan ke pintu keluar. Dia bahkan mengabaikan koperku yang masih berada di atas rel. Gegas aku menarik benda itu, lalu menyusul Malik. Langkahku lebar mengejar Malik yang hendak masuk ke mobil sedan yang sudah menunggu kami di depan gerbang kedatangan. Seorang laki-laki tersenyum ramah, lalu mengambil alih koperku untuk diletakkan ke dalam bagasi. Aku sedikit ragu masuk ke dalam mobil karena paras Malik yang kurang bersahabat. Daripada disemprot, lebih baik aku duduk di sebelah sopir saja. "Apa yang Anda lakukan, Nona?" Si lelaki tadi terkejut melihatku membuka pintu dan duduk di sampingnya. Aku tersenyum mendengar lelaki itu bicara bahasa Indonesia meski terdengar kaku dan masih berdialek bahasa asing. Setidaknya aku tak perlu kebingungan saat menjawab pertanyaannya. "Enak di sini, adem," jawabku asal-asalan. Sang sopir yang perawakannya mirip Jason Statham menoleh ke arah Malik yang mendengkus keras. Mungkin dia menertawakan alasanku. Bodo amat, daripada duduk di sampingnya, mending di sini sekalian bisa lihat salju yang turun melalui kaca mobil. Sepertinya kedatangam kami bertepatan dengan musim dingin. Pantas saja udara membuatku menggigil, seperti berada di dalam lemari pendingin saja. Sepanjang jalan aku melihat jalanan di dihias dengan lampu-lampu cantik. Orang-orang berlalu lalang mengenakan jas yang sangat tebal. Persis seperti film-film yang aku tonton. Melewati toko-toko aku melihat tulisan Merry Chrismast. Ternyata perayaan natal di luar negeri yang masyarakatnya dominan kristiani, sangat meriah, membuatku rindu pada Ayah. Setiap lebaran kami selalu sholat Ied bersama di Masjid, setelah itu menyantap lontong sayur yang aku masak. Rasanya bahagia sekali meski kerinduan kepada Ibu selalu menggoda. Saking asyiknya menikmati perjalanan, mobil yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan hotel yang menjulang tinggi. Di bagian depan aku bisa membaca tulisan, Waldorf Astoria Amsterdam. Aku harus mengatupkan mulut rapat agar tidak melongo melihat bagian lobi hotel. Pencahayaan yang diatur sedemikian rupa sehingga terkesan elegan, klasik, dan mewah. Ada beberapa loteng yang sengaja dibuat seperti cerobong dan ditutupi atap transparant, membentuk kubah dengan ukiran-ukiran ciamik di beberapa bagian plafon. Saat masuk ke bangunan ini ada perasaan nyaman, seolah-olah menawarkan ketenangan untuk penyewanya. Sambutan staffnya juga luar biasa. Dimulai dari sekuriti yang membukakan pintu hotel dan menunduk hormat, resepsionis yang tersenyum ramah, juga bell boy yang mengantarkan kami ke kamar. Lagi-lagi aku dibuat terperangah ketika pintu di buka, mataku disajikan ruangan besar dengan satu set meja makan berada di tengah-tengah. Kaca-kaca besar yang menghadap ke kanal, membuatku bisa melihat aliran air yang mulai membentuk lapisan es tipis di permukaannya. Aku mengikuti bell boy yang menjelaskan setiap detail ruangan. Ada dapur mini lengkap dengan peralatan dapur. Televisi yang diletakkan berhadapan dengan sofa, satu kamar besar, dan kamar mandi yang dilengkapi fasilitas mewah. Ini bukan kamar hotel, tetapi seperti rumah di dalam hotel. Setelah selesai mengajak kami tur kamar, Malik memberinya uang tip sebelum bell boy tadi keluar. Kini tinggal aku berdua dengan Malik di sini. Lelaki itu sepertinya benar-benar marah padaku. Sejak di mobil tak sepatah kata keluar dari bibirnya. Sekarang juga, dia duduk di sofa sambil membuka laptop. Ini bukan liburan namanya, karena dia masih saja berkutat dengan pekerjaan. Merasa diabaikan, aku memilih masuk ke dalam kamar. Tubuhku terasa sangat lelah setelah penerbangan yang sangat lama. Lagi pula dari tadi aku bersin-bersin, sepertinya bakalan kena flu. Sebaiknya berendam air hangat saja. Pergantian udara membuat tubuhku panas dingin. Aku tak ingin sakit dan menyusahkan Malik. Bukan peduli padanya, aku tidak mau menjadi beban. Sepertinya membawaku ke Belanda bukan patuh kepada Mama, melainkan karena dia memang memiliki pertemuan bisnis di sini. Malik benar-benar mengabaikanku. Lain kali aku harus menjaga mulut agar tak asal bicara. Kalau dipikir-pikir, dia tak sejahat yang terlihat. Ada sisi baik dan kekanakan saat hatinya dinaungi kebahagiaan. Akan tetapi, dia akan segera berubah dingin dan terlihat kejam jika menangani sesuatu, entah bisnis atau orang-orang yang menentangnya. Terlalu memikirkan banyak hal, air hangat di dalam bathup sudah berubah menjadi dingin. Aku menutupi tubuh dengan kimono handuk, lalu berjalan keluar kamar. Memilih kaos dan celana panjang tak bisa menghalau dingin yang membuat tubuhku menggigil. Sepertinya flu datang lebih cepat dari yang kukira. Aku mencari sweater untuk melapisi tubuh agar hawa dingin tidak terlalu menusuk tubuhku, tetapi saat membongkar koper, isinya kebanyakan pakaian-pakaian seksi. Aku meringis ketika memegang satu lingerie hitam yang tidak layak disebut pelapis, karena semua bahannya sangat terawang. Aku terduduk lemas di atas ranjang. Harusnya tadi mengawasi Mama saat memasukkan pakaian ke dalam koper. Mama benar-benar bersemangat, seolah-olah sepulang liburan kami sudah membawa cucu untuknya. Ah, Mama ... kenapa juga pakaiannya mesti kayak gini. Masa aku harus pakai di depan Malik? Aku geli membayangkan memakai pakaian yang bahkan tak bisa menutupi area sensitifku. Aku mendesah pelan ketika mendengar suara dari dalam perut. Sepertinya cacing-cacing di perut sudah berdemo karena sejak kemarin belum kuisi nasi. Berjalan keluar kamar berharap menemukan Malik. Akan tetapi, tak ada sosoknya tak tampak.. Astaga ... apa aku harus kelaparan sampai menunggu dia pulang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD