Tantangan Edgar

1293 Words
Edgar menyapu kulit lembut Celline sepanjang punggungnya. Jari-jemarinya menari indah, menciptakan kenikmatan bagi Lynelle. Lelaki itu menghujani leher Lynelle dengan ciuman demi ciuman. Nafas hangatnya menerpa pori-pori Lynelle, membuat kulitnya menjerit penuh antisipasi. Tangan Edgar kuat, besar, tetapi entah kenapa bisa sangat lembut. Ketika tangan itu menyusuri bagian-bagian Lynelle yang pribadi, hanya teriakan pasrah yang mampu Lynelle berikan. Lampu kamar tampak remang-remang. Cahaya bulan menyusup pelan dari balik jendela. Di ranjang ini, Lynelle dan Edgar, mengaitkan diri dalam percintaan dan penyatuan. Mata indah Lynelle mengerjap, menatap wajah Edgar yang terasa sempurna. Gurat-gurat yang ada di sisi-sisi wajahnya sangat khas, menguatkan karakternya. Rahangnya yang kokoh, menunjukkan sisi dominannya. Sejenak, tanpa berpikir panjang, Lynelle mengangkat tangannya untuk menbelai wajah ini. Edgar menggeram lembut dan menangkap jari-jemari Lynelle. Dia mengecup ujung-ujung jari jemari Lynelle, mencecapnya perlahan. "Masih selembut seperti pertama kali aku menyentuhnya!" komentar Edgar, membelai jari lentik Lynelle. Edgar adalah orang yang mudah bosan. Baginya, sumber keindahan wanita terletak pada pertama kali sentuhan. Setelah dua atau paling banyak tiga kali dia menyentuh wanita yang sama, gairahnya padam. Digantikan oleh gairah lain yang lebih besar. Gairah untuk menyakiti, menyiksa, dan menguasainya dengan brutal. Hingga akhirnya sang wanita luluh lantak dalam kehancuran. Namun, selama sepuluh hari ini ia bersama Lynelle, meskipun gairah abnormalnya masih ada, Lynelle bukanlah target yang ia kehendaki. Kulit Lynelle masih memiliki daya tarik, sayang untuk dihancurkan secepat ini. Edgar sendiri juga dipenuhi tanda tanya. Kenapa ia bisa bertahan lebih dari sepuluh hari mengambil wanita yang sama? Apakah ada sesuatu dari diri Lynelle yang tak dimiliki wanita lainnya? Atau itu karena latar belakang Lynelle yang cukup mengesankan sebagai putri angkat Marta? Entah mana yang benar, Edgar tak ingin terlalu mengidentifikasi suasana hatinya sendiri. Cepat atau lambat, toh nanti akan ada saatnya Lynelle mengalami nasib yang sama seperti wanita lainnya. Pada dasarnya, seorang wanita tak lebih dari kombinasi kulit dan daging. Sesuatu yang akan mudah hancur dan dipelintir Sesuatu yang terlalu rapuh dan mudah dirusak. "Kau juga masih sedominan pertama kali ketika kau menguasaiku." Lynelle menyentuh d**a Edgar yang keras, di mana di sana ditumbuhi rambut lembut kecokelatan. Ujung jemari Lynelle menjelajahi pelan, semakin ke bawah, penuh dengan rasa ketertarikan. Meskipun Edgar memiliki kekurangan dalam penglihatan, tetapi dalam masalah ranjang, dia lelaki yang sangat hebat. Mungkin, inderanya yang lain semakin kuat sehingga setiap sentuhan yang ia berikan lebih intens dan total dari pada lelaki mana pun juga. "Kau suka permainanku?" bisik Edgar, persis di telinga Lynelle. Wanita itu memejamkan mata, merinding saat nafas Edgar menyapu ujung telinganya yang sensitif. "Edgar," panggil Lynelle, suaranya penuh makna. "Ya?" "Pertahankan aku lebih lama dari pada wanita lainnya!" Lynelle melontarkan sebuah permintaan. Mungkin, Lynelle terlalu lancang dengan menaruh keberaniannya pada hal-hal yang tak seharusnya. Edgar adalah lelaki yang hanya mendengarkan keinginannya sendiri. Dia tak terlalu suka ketika orang lain mulai mengeluarkan permintaan atau pun mencoba menyuruhnya melakukan ini itu. Memangnya, siapa Lynelle sehingga mampu meminta apa pun sesukanya? Lynelle sudah bersiap-siap menerima kemarahan Edgar. Dia memejamkan matanya, mengutuk dirinya sendiri karena terlalu berani. Terkadang, Lynelle lupa dia sedang berada di kandang macan dan bersua dengan sang macan itu sendiri. "Kenapa kau pikir aku akan mendengarkan permintaanmu?" tanya Edgar, nada suaranya datar. Lynelle tak bisa mendeteksi apakah itu wujud kemarahan atau ketidakpedulian. "Hanya berharap aku bisa memiliki sebuah tempat tertentu di hatimu. Tetapi, itu semua terserah padamu. Toh, aku hanya wanita jalangmu yang kau sewa. Pada akhirnya, bukankah aku sama saja dengan yang lain? Terbuang dan disingkirkan!" Lynelle mencari alasan yang cukup masuk akal. Dia harus bertahan cukup lama di sisi Edgar untuk melancarkan misinya. Sepuluh hari berada di rumah Edgar, itu belum cukup untuk menaklukkan lelaki itu dan menghabisinya. Bukan hanya para bodyguard dan security saja yang memiliki kewaspadaan tinggi, tetapi Edgar pun tak jauh berbeda. Meskipun dia bisa nekad menghabisi lelaki itu saat mereka bersama, itu dengan asumsi Edgar mengendurkan kewaspadaannya dan bisa ia habisi, tetapi Lynelle tak yakin dia akan bisa melarikan diri dari semua pengawal dan kemanan Edgar. Sama saja dia menghadapi jalan buntu. Terlebih lagi, Edgar dam Felton telah mengetahui tujuannya. Lynelle harus mengatur strategi dan tak bisa bertindak gegabah. Dia yakin, sejak detik ini perhatian Edgar pasti akan sepenuhnya difokuskan untuk Lynelle. Siapa yang tahu kapan Lynelle akan bertindak? Lynelle dipenuhi kebimbangan. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang jelas, satu hal sudah pasti. Apa pun yang terjadi, Lynelle harus memperpanjang waktunya di sini dan mencari celah. Sedikit apa pun celah itu. "Apakah maksudmu kau mulai memiliki kekaguman tersendiri untukku, Sweety?" tanya Edgar, mengusap lembut bibir wanitanya. Dia mencium bibir Lynelle perlahan, menikmati rasa istimewa dari wanita ini. Sejenak, pikiran waras Lynelle hilang. Dia mendongak, menyambut ciuman Edgar yang bergerak lembut. Perlahan, Lynelle membuka bibirnya, mengundang Edgar untuk menjelajahi lebih jauh lagi. Tak ingin menyia-nyiakan ini, Edgar mengambil apa yang ditawarkan Lynelle. Dia semakin menggila, menyesap bibir Lynelle, mendorong lidahnya bereksplorasi lebih dalam. Geraman rendah terdengar dari mereka berdua. "Ya. Ya. Sepertinya aku mulai bergantung sepenuhnya pada sentuhanmu!" Lynelle menjawab dengan terengah-engah saat mereka menghentikan ciumannya. Apa yang Lynelle katakan bukan sepenuhnya kebohongan. Sentuhan Edgar memang memberi pengaruh yang sangat besar. Semua sendi-sendi Lynelle terasa lemas, seperti jelly. Untuk sejenak, Lynelle merasa dialah yang dijadikan objek oleh Edgar. Selama ini, ketika Lynelle memutuskan menerima langkah Marta memasukkan dirinya dalam dunia prostitusi, ia bersumpah tak akan membiarkan kendalinya runtuh. Memang dia melayani banyak lelaki hidung belang dengan latar belakang mengesankan. Tetapi, di atas ranjang, Lynell-lah sang pemegang kendali. Dia yang mengarahkan permainan, memanjakan kliennya dengan sempurna. Agaknya, tidak begitu dengan Edgar. Dengan lelaki ini, sejak pertama kali ia ditarik ke ranjang, Lynelle tak diijinkan memegang kendali. Di sinilah ia ditaklukkam secara penuh. Di sinilah ia dikuasai tanpa ampun. Dia hanya menjadi objek, tak lebih. "Maka, buat aku tetap menginginkanmu, Sayang! Pertahankan agar minatku tetap pada dirimu. Berjuanglah mendapatkan sentuhanku selama yang kau mampu!" tantang Edgar, apa adanya. Edgar tahu niat Lynelle meminta bertahan lebih lama di sisinya. Untuk apa lagi jika bukan untuk mencari celah menghabisinya? Tetapi sejauh ini, Edgar tidak perlu khawatir. Jika hanya mengatasi Lynelle, dia masih mampu. Lynelle seperti kucing liar di atas ranjang, seseorang yang memiliki semangat dan gairah tinggi, tetapi masih mampu Edgar kendalikan. Minat Edgar masih sangat tinggi pada wanita ini. Dia hanya ingin melihat sejauh mana Lynelle bisa mempertahankan keinginannya. Sepertinya, bermain-main dengan wanita ini cukup menyenangkan. "Kau menantangku?" bisik Lynelle, mencium rahang Edgar yang terasa kasar. Kulit lelaki ini sungguh menggoda. Memberikan Lynelle tantangan tersendiri untuk menaklukkannya. "Ya. Wanita sepertimu, patut diberi tantangan!" Edgar berkata serius, merengkuh Lindsey dalam pelukan hangat. Senyum Edgar tampak sinis. Musuhnya, wanitanya, sekaligus tantangannya, kini mulai bermain-main dengannya. Akhir seperti apa yang akan mereka dapatkan? "Besok malam, Eduardo akan membawakanku beberapa perempuan. Aku ingin kau memilihkan wanita untukku. Jika kau tahu seleraku, kau seharusnya bisa memberikan aku yang terbaik. Dengan begini, mungkin minatku padamu akan tetap berlangsung lama, karena kau memiliki kegunaan untukku!" kata Edgar, kata-katanya setajam pisau. Lynelle membeku sesaat. Dia baru saja meminta Edgar untuk mempertahankannya, dan sekarang Edgar memintanya memilih wanita untuknya? Sungguh sangat sadis. Edgar menggunakan cara yang paling licik untuk menurunkan harga diri Lynelle. Namun kemudian, senyum samar tampak menggantung indah di bibir Lynelle. Dia mulai bisa meraba ke mana arah permainan Edgar. Jika ia ingin bertahan lebih lama lagi di sisi Edgar dan mencari celah menghabisi lelaki ini, maka tak ada pilihan lain selain bermain penuh intrik. Mari kita tunjukkan sejauh mana kemampuan Lynelle sesungguhnya. "Baiklah. Aku bisa mengatur haremmu! Selama aku bisa memiliki kegunaan untukmu, kenapa tidak?" kata Lynelle, suaranya mantap. Demi kehidupan dan demi surga. Lynelle tak akan menyia-nyiakan perasaannya untuk terluka dan tersinggung oleh setiap tindakan Edgar. Jika Edgar bisa memiliki hati yang sekeras batu, kenapa Lynelle tidak bisa memiliki hati sedingin kutup? …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD