Part 04

1585 Words
Part 04 Seperti hari-hari biasa, Rina menunggu putranya di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya. Karena waktu pulang les putranya kurang lima menit lagi, Rina berniat membeli es untuk mengurangi rasa hausnya. Rina memarkirkan motornya lalu berjalan ke arah warung terdekat, sesampainya di sana, Rina memesan es kesukaannya yang memang sudah menjadi langganannya. "Es yang biasanya ya, Bu." "Iya, tunggu sebentar," jawab penjual tersebut sembari menyunggingkan senyuman. Sedangkan Rina hanya mengangguk lalu duduk di bangku sembari memerhatikan jalanan, di mana banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sampai saat Rina menyadari salah satu kendaraan yang tengah berjalan lirih itu adalah mobil suaminya, di saat itu lah ia merasa heran. Sebenarnya tidak ada yang akan Rina lakukan, meskipun ia tahu suaminya berada tidak jauh dari tempatnya. Ia juga tak berniat memanggilnya apalagi sampai menghampirinya, karena ia tahu suaminya itu tidak akan menyukainya. Namun ada hal yang membuatnya merasa heran kenapa suaminya masih berada di jalan, sedangkan seharusnya dia berada di kantor sekarang. Walaupun hari ini adalah hari sabtu, yang seharusnya adalah hari libur, namun tidak dengan perusahaan tempat di mana Ali bekerja sebagai direktur tersebut. Di hari seperti sekarang ini, lelaki itu justru semakin sibuk dan bahkan sampai tidak pulang. Namun yang membuat Rina heran kali ini, kenapa suaminya itu justru berada di luar kantor sekarang. "Apa Mas Ali sedang ada meeting di luar kantor ya?" gumam Rina terdengar tak yakin, karena setahunya perusaahan tempat suaminya bekerja itu adalah perusahaan besar, di mana banyak fasilitas yang bisa digunakan apalagi cuma untuk acara pertemuan. "Apa mungkin di mobil itu cuma Pak Sopir ya? Dan Mas Ali enggak ikut? Kayanya sih iya." Rina berusaha berpikir masuk akal, karena ia sendiri bukan tipe wanita yang mudah curiga, selain itu juga ia merasa tak memiliki hak untuk mengurusi urusan suaminya. "Bu, ini esnya ya?" Mendengar suara penjual es, Rina tersadar dari lamunan dan langsung mendirikan tubuhnya untuk menerima pesanannya. "Iya, Bu. Ini uangnya ya? Terima kasih." Rina menyunggingkan senyum dengan sopan lalu menerima esnya setelah memberikan selembaran uang berwarna ungu. Tak ingin terus-terusan berada di sana dan memikirkan suaminya, Rina memutuskan kembali ke motornya untuk menunggu putranya. Di dalam hati ia selalu menegaskan pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu kepo dengan urusan Ali, meskipun sebenarnya sebagai seorang istri ia juga ingin menanyakan banyak hal dan berbagi kisah atau masalah yang dihadapi keduanya. Namun sekali lagi Rina juga harus ingat, bila suaminya itu mau menikahinya karena terpaksa dan cukup mustahil bila mereka bisa menjalani rumah tangga selayaknya orang-orang pada umumnya. "Mama," panggil seorang bocah setelah beberapa menit Rina duduk di kursi motornya sembari menikmati es miliknya. "Sayang, kamu sudah pulang. Mau es enggak? Tapi jangan banyak-banyak ya, nanti kamu sakit." Rina menyodorkan es miliknya, karena ia tahu putranya itu tengah merasa kehausan. "Enggak usah, Ma. Aku tadi sudah minum air dari tas bekal kok." "Oh gitu? Ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang ya?" "Iya, Ma. Tapi tadi kata guru, aku harus beli barang-barang ini." Rian memberikan kertas catatan ke arah Rina yang langsung menerimanya dan membacanya. "Mau buat keterampilan lagi ya?" tebak Rina yang langsung diangguki oleh putranya. "Iya, Ma. Buat besok Senin." "Kalau ini sih barang-barangnya cuma ada di mall, Sayang. Bagaimana kalau besok kita ke mall? Kan besok kamu libur hari Minggu." "Kenapa enggak sekarang aja, Ma?" "Kalau sekarang sudah panas, kasihan kamu nanti di jalan, kan kita cuma naik motor." "Oh begitu?" Rian mengangguk mengerti. "Iya. Besok pagi kita berangkat, jadi pulangnya enggak terlalu siang biar kamu juga enggak kepanasan." "Iya, Ma." "Pintarnya anak Mama." Rina mengusap kepala putranya yang merasa bangga dengan pengertiannya. Sedangkan Rian hanya tersenyum tulus, lalu naik di motor tepat di depan mamanya. "Sekarang kita pulang terus Mama buat makan siang untuk kamu." "Oke, Ma." *** Hari ini adalah hari Minggu, hari libur semua orang tak terkecuali Ali, suami Rina. Meskipun begitu lelaki itu sedang tidak bersamanya dan juga putranya, Rina sendiri bahkan tidak tahu lelaki itu ada di mana sekarang, karena tadi malam dia tidak pulang. Sebenarnya bukan hal baru bila suaminya itu sering menginap di luar, karena sebelum ini pun lelaki itu sudah sering melakukannya dan bahkan sampai tidak pulang ke rumah selama berhari-hari. Sedangkan Rina tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali diam, karena saat ia sekali saja menanyakannya, di saat itu lah suaminya akan marah besar hingga tega menganiayanya. Sebagai seorang istri yang selalu diperlakukan buruk tentu saja Rina merasa lelah, namun ia tidak mungkin menyerah begitu saja bila mengingat mertuanya yang begitu baik dengan keluarganya. Itu lah kenapa sampai sekarang Rina memilih untuk terus bertahan, karena pada dasarnya ia tak memiliki alasan kuat untuk menyerah meskipun sudah banyak luka yang terukir di tubuhnya. Di sebuah parkiran mall, Rina memarkirkan motornya setelah menurunkan Rian, putranya. Seperti pada janjinya, saat ini Rina mengantarkan putranya itu ke mall untuk membelikannya barang-barang yang akan dibawahnya besok ke sekolah. "Ayo, Sayang. Kita masuk," ujar Rina sembari menggandeng tangan putranya yang saat ini tengah tersenyum ke arahnya lalu mengangguki ajakannya. "Iya, Ma." Kini keduanya masuk ke dalam mall lalu berjalan ke tempat tujuan mereka, yaitu toko yang menyediakan banyak bahan-bahan prakarya yang tentunya sangat lengkap, yang menjadi alasan kenapa Rina memilih beli di sana. Sesampainya di sana, Rina langsung memeriksa kertas yang berisikan daftar barang-barang yang harus ia beli. Sedangkan saat ini putranya hanya membuntutinya dari belakang, sembari sesekali memerhatikan barang-barang yang terpajang. Meskipun usianya masih lima tahun, namun Rian tidak seperti anak-anak pada umumnya yang aktif melakukan banyak hal, bocah berkulit putih itu justru lebih terlihat diam dan bersikap tenang. "Kamu suka yang warna apa kertasnya?" tanya Rina sembari menunjukkan beberapa kertas dengan warna yang berbeda ke arah Rian. "Aku suka biru, Ma." "Ya sudah kita beli yang ini ya?" "Iya, Ma." Keduanya kembali fokus dengan barang-barang yang dicarinya, setelah semua dirasa sudah lengkap, Rina menggandeng tangan Rian ke arah kasir. Ia dan putranya itu menunggu di sana lalu membayar barang yang mereka beli, setelah selesai Rina kembali menggandeng tangan putranya itu keluar toko. "Ma," panggil Rian setelah mereka sudah berada di luar di kelilingi orang-orang yang berlalu lalang. "Iya, kenapa? Kamu mau es krim ya?" tawar Rina yang tentu saja sudah paham dengan kesukaan putranya saat mereka berada di mall, putranya itu akan meminta es krim langganannya, yang tempatnya berada di lantai paling atas. "Itu Papa kan, Ma?" Rian sempat menggeleng pelan saat Rina menawarkannya es krim, namun tak lama ia bertanya sembari menunjuk ke arah seseorang. "Papa? Mana?" tanya Rina penasaran sembari menatap ke arah yang putranya tunjuk. "Itu, Ma, yang sama Tante berbaju merah." Rian mencoba mendeskripsikannya, yang untungnya mudah untuk Rina menemukannya. Dan ternyata benar apa yang putranya lihat itu, bila ada papanya di sana namun sedang bersama dengan seorang wanita. Kedua sejoli itu tampak mesra selayaknya sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta, sedangkan di tangan sang wanita terdapat banyak paper bag sebuah toko mewah. Melihat semua itu tentu saja Rina merasa tak percaya, hatinya hancur mengetahui suaminya tak setia. "Itu memang Papa kan, Ma?" tanya Rian lagi, menyadarkan Rina dari pemikiran buruknya, ia sempat lupa bila putranya itu berada di sana dan tentu saja melihat kelakuan papanya. "Bukan kok, Sayang. Kayanya kamu cuma salah lihat. Bagaimana kalau kita ke lantai atas? Kita beli es krim di sana." Rina berusaha menutupi tatapan Rian ke arah papanya dengan mengarahkan putranya itu ke arah lain. "Masa sih, Ma? Tapi kok mirip Papa ya?" "Bukan, Sayang. Kamu mau es krim enggak? Kalau enggak, kita pulang loh." "Mau, Ma. Aku mau es krim." Rian mengangguk cepat penuh semangat yang seketika disenyumi oleh Rina, yang diam-diam merasa lega namun tidak dengan pikirannya yang merasa resah. *** Di ruang tamu, Rina menunggu Ali pulang sembari menonton televisi, sedangkan saat ini putranya sudah terlelap di kamarnya. Rina sengaja menunggu suaminya itu karena ia ingin menanyakan masalah tadi siang, tepatnya tentang ia yang melihatnya bersama dengan seorang wanita. Rina sendiri sadar, sebagai seorang istri ia tidak pernah dianggap ada oleh Ali dan mungkin keberadaan hanya sebatas status di depan semua orang. Ia juga sering mendapatkan perlakuan buruk, penghinaan, dan bahkan harga dirinya juga direndahkan. Namun bukan berarti Rina harus diam saja saat melihat suaminya bersama dengan wanita lain, setidaknya ia harus meminta penjelasannya. Itu lah kenapa Rina berada di ruang tamunya sekarang, ia ingin tahu kenapa suaminya bisa bersama dengan wanita itu dan bahkan tampak mesra bersamanya. Meskipun Rina sangat yakin bila mereka menjalin hubungan, namun ia ingin mendengar semuanya dari mulut suaminya langsung. Cukup lama menunggu, akhirnya suara mobil berada di halaman rumah kini terdengar, menandakan seseorang tengah memarkirkan kendaraan di sana. Rina yang sudah paham tentu saja tahu siapa yang datang, dengan cepat ia mendirikan tubuhnya lalu berjalan ke arah pintu rumah untuk membukanya. Saat pintu terbuka, wajah suaminya tampak dingin saat menatapnya dan hal itu sudah biasa Rina terima. Namun Rina tak akan memedulikannya, karena masih ada hal penting yang harus ia tanyakan. "Mas," panggil Rina sembari berjalan di belakang Ali setelah menutup pintu rumah. "Apa?" jawab Ali tanpa minat, bahkan sorot matanya tampak kesal Sekarang. "Aku mau tanya, tadi kamu di mana?" Mendengar pertanyaan Rina, Ali menghentikan langkah kakinya lalu menatap dingin ke arahnya. "Untuk apa kamu bertanya aku tadi di mana?" tanya Ali dingin yang sempat membuat Rina ingin mengurungkan niatnya. "Aku cuma tanya, Mas. Kamu hanya perlu menjawabnya, apa itu susah?" "Seharusnya kamu ingat, apapun yang aku lakukan semua itu bukan urusan kamu. Jadi jangan sok ikut campur!" Ali menjawab serius lalu kembali melangkah kakinya. "Aku tadi lihat kamu dengan wanita lain di mall, siapa dia?" tanya Rina dengan keraguan, yang lagi-lagi menghentikan langkah kaki Ali, yang justru menatapnya dengan mata tenangnya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD