“Kenapa dia harus memintaku pergi ke kampus, sih? Andai saja Fabian tahu kalau aku sedang dalam pelarian. Bagaimana kalau aku ketemu Tristan?” batin Elisa cemas sambil menunggu ojek di depan pintu perusahaan.
Tak lama kemudian ojek pun datang. Meski wanita itu gentar, tapi ia tetap harus pergi ke kampus untuk membelikan makanan pesanan atasannya.
“Mau ke mana, Mbak?” tanya tukang ojek pada Elisa.
“Ke Universitas Jayanegara, Bang.” Dengan takut-takut, Elisa segera naik ke motor ojek setelah sebelumnya mengenakan helm sambil berdoa dalam hati agar tidak bertemu dengan suaminya.
Lima belas menit kemudian, Elisa pun sampai di kawasan universitas. Namun, baru saja ia ingin memberhentikan ojek yang dinaikinya, kedua mata wanita itu mendapati Tristan berada di sana. Ya, pria yang merupakan suaminya tampak sedang berbincang-bincang dengan pemilik warung yang ada di depan kampus.
“Turun di sini aja, Bang! Di depan warung mie ayam itu,” pinta Elisa spontan sebelum tukang ojek membawanya tepat ke depan gerbang universitas.
“Baik, Mbak.”
Elisa segera membayar ongkos ojek lalu segera berlari menyelinap ke warung mie ayam, bersembunyi sejenak di sana, menunggu sampai suaminya pergi.
“Kenapa dia ke kampus? Apa dia mencariku sampai ke sini? Gawat! Bagaimana kalau dia menemukanku?” batin Elisa takut.
Wanita mungil itu terus mengintip, tak berani keluar dari warung, hingga ia terpaksa membeli sebotol minuman agar bisa berlama-lama di warung tersebut, memastikan kalau Tristan sudah pergi dari dari kampusnya.
“Pergilah! Segeralah pergi, jangan kembali lagi!” harap Elisa dalam hati.
Keinginan Elisa pun terwujud. Laki-laki bertubuh tegap itu melajukan mobilnya pergi meninggalkan area kampus, membuat Elisa mengurut d**a.
“Syukurlah, akhirnya dia pergi juga!” batin Elisa lega.
Tanpa membuang waktu lagi karena Fabian pasti sudah menunggu makanannya, wanita bertubuh langsing itu segera pergi ke kantin pak Maman.
***
Setibanya di perusahaan seusai membeli bakso dan ketoprak untuk Fabian, Elisa segera bergegas naik ke lantai dua puluh menemui atasannya. Namun, bukan pujian yang wanita mungil itu dapatkan, malah cacian yang ia terima kala Fabian membentaknya tepat ketika Elisa masuk ke ruanganan Fabian.
“Kurang lama perginya. Sore aja sekalian. Aku sudah nggak lapar lagi sekarang,” hardik Fabian garang.
“Maaf, Pak. Tadi lumayan macet,” kilah Elisa menutupi kejadian yang sebenarnya.
“Aku hanya minta kamu membelinya dalam waktu tiga puluh menit, kan? Ini sudah setengah jam lebih,” bentak Fabian lagi.
“Maafkan saya, Pak. Saya sudah berusaha.” Elisa menundukkan kepalanya, meminta maaf berulang-ulang pada Fabian.
Hatinya benar-benar kesal karena tidak bisa menjalankan perintah Fabian dengan sempurna.
“Ini gara-gara Tristan. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan terlambat kembali ke kantor,” omel Elisa dalam hati.
“Kamu mau kupecat, hah? Di hari pertama bekerja saja kamu sudah tidak becus melakukan apa yang aku minta,” bentak Fabian meluapkan emosinya.
Hatinya puas bisa memarahi mantannya tersebut. Untung Elisa datang terlambat, sehingga Fabian punya alasan untuk mengomeli sang mantan.
“Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk melaksanakan semua tugas-tugas yang Anda perintahkan untuk saya, Pak.” Elisa terus meminta maaf, berharap Fabian memberikan kesempatan padanya untuk tetap bekerja di perusahaannya.
CEO tampan itu mendapat ide jahat lainnya untuk membuat Elisa susah. “Oke, tapi aku tidak mau makan bakso dan ketoprak itu lagi. Itu pasti sudah dingin. Sekarang belikan aku makanan lain!"
Elisa merasa keberatan. “Tapi, Pak—”
“Nggak usah pakai tapi-tapi. Jangan kurang ajar sama atasan, ya!” bentak Fabian emosi.
“Maaf, Pak.”
Fabian menahan senyumnya seraya memutar otaknya ke mana lagi harus meminta wanita itu pergi membeli apa yang ia inginkan, semata-mata untuk menyiksa Elisa agar kelelahan.
Sebenarnya keterlambatan sepuluh menit tidak masalah baginya. Hanya saja Fabian benar-benar ingin meluapkan semua emosi yang sudah ia pendam selama dua tahun di mana pria itu tersiksa batin karena patah hati. CEO tampan itu akan membalaskan semua sakit hati karena Elisa sepuasnya.
“Aku ingin roti bakar di pasar tradisional.”
“Di mana, Pak?” Elisa mengonfirmasi karena belum mendapat gambaran di mana ia harus membeli roti.
“Roti bakar di tempat kita biasa beli waktu itu. Mana mungkin kamu nggak tahu. Aku tidak akan mungkin menyuruh membeli sesuatu yang tidak kamu tahu tempatnya,” omel Fabian.
Elisa mengingat kembali masa-masa indahnya berpacaran dengan Fabian. Seketika rasa sedih mencuat ke permukaan. Namun, Elisa segera memutus perasaan sedihnya tersebut lalu mengingat lagi posisi warung yang menjual roti bakar tempat langganan mereka dulu.
“Sudah ingat, kan? Nggak mungkin baru dua tahun langsung lupa,” sindir Fabian sinis.
“Saya ingat, Pak.”
“Sekarang juga belikan apa yang aku mau! Ingat, roti bakarnya masih harus panas. Aku tidak mau makan makanan yang dingin.” Fabian menegaskan.
“Siap, Pak.”
Elisa menunduk hormat lalu meninggalkan ruangan Fabian sambil menggerutu kesal dalam hati. “Sial, aku kena batunya! Kenapa aku harus bekerja di perusahaan mantanku sendiri, sih? Sudah pasti dia akan menyiksaku. Bukannya dulu dia juga suka makanan dingin? Lagi pula mana ada ketoprak yang panas.”
Namun, semua omelan itu hanya bisa terucap di dalam hati karena biar bagaimanapun Elisa membutuhkan pekerjaan itu. Ia tidak akan bisa makan bulan depan jika tidak bekerja di perusahaan Fabian. Melamar di perusahaan lain belum tentu bisa diterima. Lagi pula perusahaan yang ada di area di dekat penginapannya hanya perusahaan sang mantan.
“Semangat, Elisa! Kamu tidak boleh menyerah. Kamu harus menunjukkan kalau kamu mampu melakukan apa saja yang diperintahkan oleh atasanmu. Kamu tidak boleh lemah. Ingat, kamu tidak punya siapa-siapa lagi,” batin Elisa menyemangati dirinya sendiri.
Sambil menghela nafas panjang, Elisa kembali menunggu ojek di depan perusahaan.
***
Malam harinya, Elisa menghela napas lelah ketika baru saja sampai di penginapan yang berdekatan dengan perusahaan tempatnya bekerja. Sungguh wanita mungil itu tidak menyangka dunia terasa sangat kecil. Kenapa juga ia bisa sampai bekerja di perusahaan mantan kekasihnya yang sudah ia tinggalkan demi laki-laki lain?
Hari ini, Elisa benar-benar lelah karena Fabian memberinya tugas-tugas yang sulit. Jelas sekali jika pria itu ingin membalas rasa sakit hati yang pernah ia torehkan dua tahun lalu. Namun, Elisa harus bertahan karena hanya di sanalah ia bisa bekerja dan menghemat sisa uang yang ada di dompetnya karena jarak perusahaan Fabian sangat dekat dari penginapannya saat ini.
“Kenapa aku tidak pernah mengetahui kalau Fabian adalah anak orang kaya? Kalau aku tahu dia kaya, aku tidak akan mungkin mau menikah dengan Tristan,” sesal Elisa dalam hati.
Elisa naik ke tempat tidur, meluruskan kakinya yang terasa begitu pegal. Bagaimana tidak, hari ini ia teramat tersiksa diminta Fabian naik ke lantai dua puluh untuk mengerjakan tugas-tugas tidak masuk akal yang membuatnya lelah.
Rasanya tidak sanggup lagi untuk melangkahkan kaki ke kamar mandi. Elisa ingin segera tidur sekarang juga karena besok pagi-pagi harus kembali bekerja. Penyesalan demi penyesalan karena meninggalkan sang mantan demi menikah dengan Tristan kini menyiksa batinnya.
“Kenapa aku terburu-buru mengambil keputusan menerima pinangan Tristan? Kenapa aku tidak berterus terang pada Fabian soal kesulitanku membiayai penyakit jantung ayah? Kenapa aku malah meninggalkannya dan menikahi seorang pengusaha kaya yang hanya bisa menyiksaku?" batin Elisa pilu.
Gara-gara Tristan, Elisa terpaksa harus berhenti kuliah di semester akhir sehingga tidak bisa mendapatkan ijazah sarjananya dan fokus menjadi ibu rumah tangga, sekaligus merawat sang ayah yang pada akhirnya juga meregang nyawa.
Hidup sungguh tidak adil baginya di mana Elisa sudah kehilangan kedua orang tuanya. Sialnya ia mendapatkan suami yang begitu kejam, suami gila yang seorang pun tidak akan mungkin tahu karena sosok Tristan di mata umum adalah sosok yang begitu baik, bahkan mertuanya pun tidak mengetahui kelainan yang diderita oleh anaknya sendiri.
“Semoga saja dia tidak pernah bisa menemukanku. Jangan sampai aku bertemu dengannya lagi,” batin Elisa sambil mulai memejamkan mata, berusaha menghilangkan kecemasannya karena hari ini hampir tertangkap oleh Tristan.
Kalau saja ia tidak jeli dan tidak melihat Tristan lebih dulu di sekitar kampusnya, tentu Elisa tak akan sempat untuk bersembunyi. Wanita cantik itu berharap suaminya tidak datang ke area kampus lagi karena ia yakin Fabian akan terus memintanya pergi ke sana untuk membeli ini dan itu. Hari ini saja Elisa sudah tiga kali pergi ke kampus untuk membeli makanan-makanan yang dipesan Fabian.
“Semoga Tristan tidak datang lagi ke sana,” harap Elisa dalam hati.
Tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan selama hidup bersama laki-laki tampan yang kaya raya tersebut. Sekuat tenaga wanita cantik itu berusaha mengusir bayangan-bayangan kala dipukul, dianiaya bahkan disiksa setiap malam di ruangan khusus milik sang suami, yaitu ruangan khusus untuk melampiaskan semua fantasi gila saat berhubungan badan dengannya.
Hidup dua tahun bersama laki-laki kejam, sungguh menyiksa batinnya. Elisa berharap tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki gila itu lagi seumur hidupnya.
"Mudah-mudahan aku bisa mengumpulkan uang yang banyak untuk mengurus surat perceraianku dengan Tristan. Semoga saja dia tidak mempersulitku nanti."