Shaleta yang menyetir mobil sambil berusaha menenangkan Nayyara yang sedang menangis tanpa bisa dicegah oleh siapa pun. Gadis itu benar-benar meluapkan segala kekesalan hatinya. Shaleta tidak banyak bertanya, dia hanya menebak jika hal ini kembali disebabkan oleh Liam. Sudah Shaleta bilang, mencintai boleh, tapi logika tetap dipakai. Nyatanya ... Nayyara melupakan logika, hatinya yang tulus itulah yang memimpin setiap langkahannya. Sampai akhirnya tidak bisa menakar kadar rasa yang kian banyak setiap harinya. Aman saja kalau orang itu membalas cinta kita, kalau tidak seperti Liam ini bagaimana? Tidak ada rasa lain yang kita dapat selain luka. Nayyara tidak membuka suara, dia pun hanya menangis dalam diam, tatapannya kosong tidak berarah. Shaleta tidak masalah jika Nayyara ingin menangis

