Nayyara terbangun dari tidurnya, dia mengernyit dalam sambil memijat pelan pelipisnya saat merasakan pusing di kepala. Nayyara mengambil napas, lalu menghembuskannya panjang. Rasanya seluruh badannya sakit semua, tulang-tulangnya terasa seperti patah di beberapa bagian. Teramat melelahkan. Tangannya yang masih lemas mengusap pelan kelopak matanya, retina mencoba menyesuaikan pencahayaan dan kondisi ruangan tempatnya saat ini berada. Di mana? Hanya itu yang terbesit dalam pikiran Nayyara ketika mencoba menyenali setiap bagian kamar tersebut. Perlahan, Nayyara ingin menggerakkan tubuhnya, namun langsung mengerutkan dahi bingung. Mata Nayyara yang tadinya biasa saja, kini melotot tidak sekira. Liam berada di sampingnya, menghadap padanya, tertidur dengan sangat damai di sana dalam keadaan l

