Hawa sejuk yang dibawa oleh rinai hujan di luar sana, tidak mampu menyerap udara panas yang menyelimuti ruangan bernuansa putih itu. Suasana tegang dan mencekam tercipta dari aura gelap yang dipancarkan oleh tiga orang yang berada di dua kubu berbeda. Satya masih berdiri dengan kedua tangan terkepal kuat di sisi tubuh, rahang mengetat dan mata yang memerah. Kali ini bukan pada Selva, tetapi pada keadaan yang membuatnya berada di persimpangan yang sulit dipilih. Sedangkan, Selva mematung di tempatnya. Berdiri dengan kaki lemas dan pandangan kosong. Ia merasa jiwanya terombang-ambing di antara alam bawah sadar. Perkataan sang ayah sukses merenggut seluruh pasokan udara yang ada di sekitarnya. Hingga ia harus bersusah payah mengisi paru-parunya yang kian mengempis. Selva mengakui jika semu

