Evan berpikir keras, bagaimana caranya ia bisa lepas dari perempuan cantik yang menurutnya agak kurang itu."Hhmm, begini saja. Kebetulan saya ada meeting sebentar lagi, bisakah kita tunda pembicaraan ini terlebih dahulu. Kau menginap di hotel mana, Celia?"
"Gue nginep di TP, Lo gak dalam rangka kabur dari tanggung jawab kan?" Celia menelisik wajah Evan dengan serius.
"Laki-laki yang dipegang omongan dan dompetnya, masa seorang Celia tidak bisa menilai orang lain. Anda bekerja di Dirgantara Group, itu perusahaan besar dan kurasa semua orang tahu itu."
Setelah menimbang ucapan Evan, Celia memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan mereka setelah urusannya selesai. "Oke, nanti kita dinner di restoran hotel. Kita ketemu jam tujuh malam, gimana?"
"Oke, jam tujuh di restoran hotel. Hhmm, kopernya boleh saya bawa pulang, kan?" Evan yang sudah berdiri hendak meninggalkan tempat tersebut teringat akan kopernya yang masih ditahan oleh Celia.
"Oke, gue pegang omongan Lo. Kalau Lo kibulin gue, gakpapa. Gue doain Lo gak nikah seumur hidup!" Celia menyerahkan koper milik Evan dengan mengancam pria tersebut. Evan yang mulai paham karakter Celia yang meledak-ledak, hanya mengangguk meyakinkan gadis itu bahwa ia akan menepati janjinya.
"Oke, udah selesai urusan koper. Sampai ketemu malam ini. Saya pergi dulu." Evan berpamitan kepada Celia dan Lala dengan sopan.
Evan setengah berlari ke parkiran mobil bersama dengan asistennya. Janji bertemu dengan klien pentingnya bisa rusak karena urusan dengan gadis cantik yang tidak ia kenal.
"Pakde, kok aku apes bener. Itu cewek cantik banget, sumpah! Tapi asli, ngeselin dan sekarepe dewe!" Evan uring-uringan di dalam mobil. Perjalanan menuju salah satu gedung perkantoran di daerah Pakuwon terasa begitu lama. Evan terus menerus mengumpat kesal, apalagi jadwal yang ia susun rapi untuk hari ini hampir saja berantakan karena tragedi kopernya.
"Sabar aja, Mas. Ada yang lebih penting untuk kita pikirkan. Klien kita ini juga gak kalah ngeselin kalau ada yang tidak sesuai atau cocok dengan kesepakatan. Jadi, untuk sementara kita abaikan dulu gadis menggemaskan tadi."
"Klien juga bukan sembarang klien ini. Gusti, kayaknya aku harus ruwatan lagi, buang sial Pakde!"
"Hahaha, sudah. Sebentar lagi sampai, kita bertemu mereka dulu. Gak enak kalau terlalu lama menunggu."
"Oke, semoga ini jadi hal baik. Aku juga gak nyangka kalau para orang tua jaman sekarang masih mikirin kayak gitu. Bukan kolot, tapi lebih menjaga anak perempuannya saja."
"Kata anak saya, posesif, Mas. Menurut yang saya dengar sih begitu."
Evan dan Roy turun dari mobilnya, bergegas menuju resepsionis untuk bertanya dimana ruangan direktur berada. Ruangan tersebut berada di lantai tujuh, Evan merasa lega setidaknya ia tidak terlambat datang.
“Gini amat cari duit, jantungku mau copot!” Evan berusaha mengatur nafasnya yang tersegal, Roy yang melihat atasannya seperti kepayahan hanya tersenyum saja.
“Kok Pakde malah ketawa, gak ada yang lucu lho disini.” Keduanya baru saja masuk ke dalam lift, Evan sewot dengan tanggapan asistennya, beruntung di dalam lift tersebut hanya ada mereka. Jadi, pembicaraan keduanya tidak di dengar oleh orang lain.
“Anak baik, ada kejutan untukmu,” kata Roy terkekeh sambil menjawab pesan singkat dari ayah Evan.
“Apaan sih, Pakde masih kebawa gadis lucu tadi ya? Jadi aneh begitu,” kata Evan kesal.
“Tapi suka, to? Tadi kan bilang cantik dan menggemaskan.”
“Iya, tapi urusin dia nanti aja, sekarang golek duit! Aku mau nikah dengan pesta yang bagus,” ucap Evan membayangkan indahnya pernikahan dengan menggunakan adat jawa yang pakem.
“Yuk, kerja. Kita yakinkan klien bawel kita.”
Kedatangan Evan dan Roy disambut dengan ramah oleh Vano, saudara sepupu Tara itu memang ditugaskan memimpin cabang Surabaya bersama dengan Nanda. “Duduk dulu, Mas. Pak Tara masih di ruangan sebelah, sebentar lagi datang kok.”
“Makasih, Pak Vano.” Evan dan Roy duduk bersampingan di depan Vano. Tak lama kemudian, Tara yang baru saja menerima telepon dari sang istri masuk ke ruangan tersebut dan berbinar melihat kedatangan orang yang ditunggunya.
“Akhirnya, kamu datang juga. Apa kabar, Nak.” Tara menghampiri Evan dan menyambut pria itu dengan senyum yang mengembang.
“Baik, Pak. Terima kasih sudah percayakan proyeknya ke kami.” Evan sungkan karena ia mendapatkan proyek tersebut karena ditunjuk langsung oleh Tara.
“Ah, gak usah terlalu formal. Ayahmu kapan balik dari Lombok?” Tara memintanya duduk kembali ke kursinya.
“Kalau gak salah tiga hari lagi, Pak. Langsung Jakarta kayaknya,” jawab Evan kepada Tara.
“Oh, jadi kamu nyusul yah. Oiya, mana yang harus saya tanda tangani? Ku harap, proyek itu bisa running minggu depan. Apa bisa?”
“Oh, bisa Pak. Minggu depan, semua alat berat dan pekerja sudah full standby di lokasi, jadi tidak ada yang perlu di tunggu lagi.” Evan menjelaskan kepada Tara jika pembangunan villa yang terletak di wilayah Batu itu siap ia kerjakan.
“Villa itu istimewa buat saya dan Rara, tolong diperhatikan yah. Satu lagi, kita makan siang bareng aja. Kebetulan anak saya ada disini, mungkin masih istirahat di hotel. Anggap aja curi start, kenalan dulu. Gimana?” Tara menganggap Evan adalah pria baik dan bertanggung jawab. Terbukti beberapa kali, pria itu mencuri perhatiannya dalam menghadapi masalah di perusahaan milik keluarganya.
“Baik, Pak. Tidak masalah, tapi Ibu saya gimana? Beliau kan ikut ayah ke Lombok,” kata Evan yang teringat ibunya yang menyusul sang ayah ke Lombok.
“Gak masalah, aku sudah beritahu orang tuamu, hanya makan siang dan kenalan. Setidaknya waktu di Jakarta tidak terlalu kaku.” Tara pun sudah mengirimkan pesan singkat kepada Lala agar membantu Celia bersiap.
“Terima kasih, Pak.”
“Sekarang boleh lah, panggil Bapak. Tapi nanti biasakan panggil papa.”
Tara dan Vano mengajak Evan beserta asistennya makan siang di salah satu restoran di sekitaran Pakuwon. Tempat favorit Rara mencari jajanan ketika berkunjung ke Surabaya itu, menjadi tempat bersejarah baginya. Sesampainya di restoran, Evan berpamitan ke toilet terlebih dahulu.
“Lho, kok Lo ada disini! Kita mau ketemuan malam bukan siang ini. Gue masih sibuk, Bokap gue mau ngenalin itu om-om ke gue. Aduh, gimana konsepnya ini.” Celia panik bukan kepalang karena bertemu dengan Evan di restoran. Evan pun tak kalah terkejut juga dengan pertemuan tak sengaja dengan Celia.
“Maaf Celia, saya kesini juga ada kepentingan, tidak buntuti kamu yang super sibuk itu. Permisi yah,” kata Evan hendak pergi meninggalkan Celia.
“Eh, tunggu. Mau kemana?”
“Toilet, tuh ada tulisannya toilet pria. Mau ikut?”
“m***m! Dahlah, kita temui Papa aja, Mbak.” Celia mengajak Lala menghampiri Vano dan Tara yang sudah lebih dulu datang, memakai dress selutut warna coklat, penampilan anggunnya mengingatkan Tara pada istrinya.
“Papa, maaf lama. Celia habis ketemu orang nyebelin.” Celia mencium punggung tangan Tara dan Vano bergantian.
“Gakpapa, papa juga baru duduk. Ayo sini, duduk dekat papa.” Tara meminta anaknya duduk di sebelahnya, awalnya Celia anteng dan biasa saja, tapi pandangannya yang baru saja bertemu dengan Roy membuatnya dag dig dug.
“Pa, kok dia disini? Bukan dia yang Papa maksud, kan?” Pertanyaan Celia membuat Tara bingung, apa anaknya mengenal Roy sebelumnya, rasanya ia belum pernah membawa anaknya bertemu pria berkacamata di depannya itu.