“Tidak! Kamu tidak akan pergi ke mana pun!” Dedrick menatap April dengan begitu tajam, bahkan tagan kekarnya sudah mencengkeram erat pergelangan tangan April, hingga membuat sang pemilik meringis kesakitan. “Dedrick sakit..” ringis April seraya menatap Dedrick mengiba. Tangannya terasa begitu sakit dan April yakin akan meninggalkan bekas kebiruan nantinya. “Dedrick, saya mohon kamu tenang.” Rudi mencoba untuk menenangkan Dedrick agar menantunya itu tidak terbawa emosi dan akhirnya dapat mencelakakan putri kesayangannya. “April, kamu nggak boleh gitu, kita bicarakan semuanya baik-baik. Kamu sedang emosi.” Aina mencoba untuk membujuk April. namun, yang Aina tahu, April sangat susah untuk dibujuk, apalagi jika keinginannya sudah bulat. “Kenapa Mama sama Papa justru membela Dedrick? Po

