Bab 6

1414 Words
Semua ini masih perkara masalah hati yang sampai saat ini masih kucoba memilih dengan hati-hati "Udah kok, bagus. Kenapa sih lo enggak percaya diri banget sama tampilan lo?" tanya Nada sembari membuka mulutnya lebar-lebar tanda dia masih mengantuk. "Ah, lo aja nilainya masih setengah merem gitu. Lihat dulu dong, Nad. Gue bagus enggak pakai baju ini untuk interview?" Nada mencoba membuka kedua matanya lebar-lebar. Memerhatikan gerak gerik Kiki yang terlihat dalam video call mereka. Wajah polos Kiki yang biasanya tidak full make up, sudah benar-benar berubah. Bahkan rasa-rasanya Nada akan kesulitan untuk mencari pori-pori di wajah Kiki. Lalu pakaian yang membalut tubuh sahabatnya itu sangat tidak cocok dipakai untuk pergi interview. Karena jika Nada perhatikan lebih detail, pakaian yang Kiki kenakan adalah sebuah kebaya dengan burkat dibagian depan. Lantas yang menjadi pertanyaan apa benar Kiki ingin pergi interview, ataukah Kiki ingin menunggu lamaran seseorang? "Ki, mending lo ganti baju deh. Lo mau ngelamar kerjaan apa nunggu dilamar seseorang?" ucap Nada terkesan mengejek. "Kenapa emangnya? Jelek ya? Ini baju terbaik yang gue punya. Nanti kalau gue cuma pakai baju sederhana, gue bakalan minder abis, Nada. Karena dari apa yang gue denger nih, kepercayaan diri timbul dari penampilan yang kita kenakan. Kalau dari penampilan aja gue udah enggak PD gimana gue mau sukses interviewnya?" "Bukan gitu Ki, tapi—" "Lo enggak akan tahu, Nad. Ini adalah harapan gue satu-satunya. Kalau gue bisa diterima perusahaan besar ini kehidupan keluarga gue pasti berubah. Bokap sama nyokap gue enggak perlu capek-capek lagi cari uang di kampung." "Ki, pakaian enggak dihitung lo bakalan diterima apa enggak," "Gue enggak mau ambil kesalahan, Nad. Yang penting lo doain gue aja sukses dan lulus interviewnya," lirih Kiki sebelum mematikan sambungan video call mereka. Ada perasaan bersalah muncul ketik layar ponsel Nada sudah kembali gelap. Dia tahu cara penyampaian maksudnya telah salah. Dan dia berpikir wajar jika Kiki kesal atas kata-katanya. Dengan sebuah kata maaf diawal kalimat, Nada mengirimkan pesan kepada Kiki jikalau kata-katanya telah menyinggung perasaan Kiki. Dan Nada setulus hati mendoakan sahabatnya itu bisa mendapatkan hasil terbaik. "Untuk sahabat terbaikku. Jangan ragu tuk melangkah, karena doaku selalu ada untukmu."   ***   Sepanjang jalan menuju gedung kantor yang diinformasikan, Kiki selalu saja menggerutu. Mulai dari kendaraan umum yang bergerak terlalu lama karena mencari penumpang, hingga perkara sepatu yang sedang ia pakai saat ini. Memang ketika akan meraih kesuksesan pasti selalu saja ada kendala yang datang menghampiri. Termasuk yang dialami Kiki pagi ini. Dalam informasi panggilan interview lalu, bahwa Kiki harus tiba di kantor ini sebelum jam 9 pagi. Namun dengan segala masalah yang datang, serta sepatunya yang rusak tidak bisa dikenakan lagi, Kiki harus terlambat satu jam lamanya untuk sampai di kantor ini. Saat memandang gedung berkisar 5 lantai itu dari luar, Kiki ingin sekali menangis. Semua persiapan yang telah dia lakukan hancur total. Wajahnya yang sudah sejak subuh dia poles rapi, kini sudah terhapus oleh keringat yang bercucuran. Belum lagi bajunya sudah tak serapi diawal, membuatnya sangat ragu untuk melangkah. Di tangan kanannya ada tas plastik berisikan sepatu lamanya yang telah rusak. Sedangkan sepatu yang membalut kedua kakinya kini hanya sepatu karet yang kebetulan tadi dia beli ketika melewati pasar. Walau tampilannya sudah tidak karuan, namun tak ada satu orang pun yang mempedulikannya saat dia mendekati gedung itu. Hingga seorang satpam menghampirinya, mencoba tersenyum ke arah Kiki yang mungkin ia pikir adalah seorang gelandangan. "Maaf Mba, ada yang bisa dibantu?" "Saya ... saya." Kacau, pikir Kiki. Ia lupa harus bertemu siapa saat ini. Otaknya seakan buntu karena tertimpa masalah yang terjadi sebelum ia datang ke sini. "Mba," tegur satpam itu lagi. "Ada yang bisa saya bantu?" "Saya," cicit Kiki lemah. Rasanya ia ingin pulang saja saat ini dan melupakan janji interview dengan perusahaan tersebut. Dari pada dia harus tampil di depan umum dengan kondisi mengenaskan, pastinya sedikit banyak akan mengurangi penilaian yang ada. "Mba mau interview ya?" tanya satpam tersebut saat Kiki mencengkram kuat amplop cokelat berisi data dirinya. Dengan cepat Kiki mengangguk yang dibalas sebuah senyuman oleh satpam itu. "Ditunggu di lobby saja, Mbak. Sudah ada 5 orang yang akan melakukan interview juga," ucapnya sambil mengarahkan Kiki ke arah lobby. Dalam hati Kiki mulai tenang. Satu rintangan telah terlewati. Namun lagi-lagi ada saja yang kembali Kiki khawatirkan saat melihat 5 orang lainnya nampak cantik dan berwibawa menunggu panggilan interview tersebut. "Udah pasti enggak diterima," gumam Kiki pada dirinya sendiri.   ***   "Bu, bisa kan ketuk pintu dulu sebelum masuk?" protes Wahid pada sosok Umi yang tersenyum penuh arti. "Kayak sama siapa aja pakai ketuk-ketuk segala. Kamu enggak makan siang, Sayang?" tanya Umi sambil mengambil posisi duduk di depan Wahid. "Puasa, Bu." "Alhamdulillah. Pantas semalam enggak tidur di rumah, malu ya ibu godain kalau mau puasa hari ini," goda Umi dengan senyum gelinya. "Wahid semalam lembur, Bu. Jadi enggak enak kalau tengah malam Ibu keganggu sama Wahid," ceritanya. Umi mencibirkan bibirnya, ia nampak menilai wajah serius putranya itu. Benar-benar sangat mirip dengan ayahnya dulu. Yang tidak pernah lelah untuk mencoba dan terus berusaha menjadi lebih baik. Tetapi Umi juga tidak menutup matanya, bahwa fisik tubuh Wahid sangat mirip dengan suaminya, Hans. Hingga terkandang bila ia merindukan suaminya tersebut, Umi akan meminta Wahid untuk tidur bersamanya. "Ibu enggak makan siang?" "Ibu lagi tunggu anak ibu untuk ajak makan siang bareng," kodenya genit. Seketika Wahid tersenyum. Hal-hal seperti ini yang membuatnya mengingat seseorang dari sosok ibunya sendiri. "Wahid banyak kerjaan, Bu." "Alasan kamu mah. Cuma sama kamu aja rayuan ibu enggak pernah berhasil. Ibu rayu ke Syafiq selalu berhasil, kalau sama Shaka ibu enggak perlu rayu dia yang udah lebih dulu deketin ibu. Tapi sama kamu, ibu merasa kamu menjaga jarak dari ibu. Kenapa?" "Siapa yang menjaga jarak, Bu. Wahid hanya—" "Tatap ibu dan katakan kamu baik-baik aja." Wahid menghentikan aktifitasnya, dengan segera ia memandang ibunya yang penuh ekspresi kekhawatiran. Lalu kemudian dia tersenyum, "Wahid baik-baik aja, Bu." "Alhamdulillah, bagus kalau begitu. Kalau kamu baik-baik aja, lusa bisa temani ibu untuk mengecek cabang baru yang ada di Malang, kan?" "Bukannya di Malang belum ada progress kapan diresmikan. Masih terkendala banyak masalah dan—" "Ibu sudah mengurus semuanya. Memangnya hal apa yang enggak bisa dilakukan oleh seorang ibu? Bahkan kebahagiaan utama anaknya selalu ibu lah yang paling tahu." "Oke. Wahid temani." "Kalau begitu sekarang temani ibu makan." "Bu, Wahid puasa." "Enggak ada tapi-tapi, kamu bisa memerhatikan semua pekerjaanmu. Tapi masa memerhatikan ibumu sendiri kamu enggak bisa," sindir Umi tajam. Karena tidak mau dicap sebagai anak pembangkang, Wahid akhirnya menuruti kata-kata Umi untuk menemaninya makan siang. Setidaknya walau pekerjaannya terabaikan, namun perempuan yang paling dia cintai bisa bahagia atas perlakuan sederhananya.   ***   Jemari mungil itu bergetar sambil menekan beberapa kombinasi nomor pada layar ponsel. Air mata di kedua pipinya sudah membasahi. Antara sedih dan juga senang, akhirnya hatinya merasa lega. Ternyata semua pengorbanannya tidak sia-sia. "Assalamu'alaikum," salam Kiki pada sosok yang dia hubungi di seberang sana. "Wa'alaikumsalam, iya Ki. Kenapa?" "Gue diterima, Nad. Gue diterima. Walau ya mereka sempat komentari pakaian gue yang salah tempat dan waktu, tapi gue bahagia, Nad. Makasih banyak atas doanya ya. Harusnya dari awal gue dengerin lo, Nad. Gue nyesel sumpah. Maafin gue ya," cerita Kiki panjang lebar. "Alhamdulillah, gue ikut senang, Ki. Tapi lo nyesel kenapa?" "Mungkin kalau dari awal gue dengerin lo, nilai gue dimata orang-orang yang tadi interview gue pasti sempurna. Tapi karena kebodohan gue, mereka menemukan kekurangan gue. Coba gue dengerin lo untuk ganti pakaian yang lebih nyaman, coba gue langsung mengerti waktu lo bilang masalah sepatu cari yang enak dipakai. Ternyata gue juga yang mengalami susahnya. Hehee ... sekali lagi maaf ya, Nad. Memang tadi pagi di mata gue, lo tuh enggak ada apa-apanya. Kerja aja belum, berani-beraninya komentarin gue. Tapi sekarang gue sadar banget. Gue udah bodoh menilai lo dari apa yang gue lihat aja. Padahal gue enggak pernah tahu kelebihan lo yang lain, yang bahkan gue enggak pernah bisa miliki," ungkapnya sedih. Raut wajahnya berubah kesal karena mendengar celetukan kurang ajar dari Nada. "Lagian lo, berani-berani enggak ikutin keputusan istri jaksa. Mau disidang emangnya, lo?" "Iya ... iya, lo memang istri jaksa. Udah ah males gue kalau lo udah bawa-bawa status!!!" tutup Kiki pada sambungan ponselnya. Bibirnya terus saja menggerutu sambil menusuk-nusuk layar ponsel yang sudah menghitam tanda panggilannya dengan Nada telah diakhiri. "Baru jadi istri jaksa aja bangga!!!" kesalnya. Tetapi dalam sekejab raut wajah kesal itu berubah ceria kembali. Dia ingin memberitahu seseorang mengenai kebahagiaannya ini. Akhirnya gue keterima kerja, Bang. Makasih atas semua doa dan nasihatnya. Tapi sebelumnya gue mau tanya, Bang. Kapan ya kira-kira gue keterima jadi istri yang baik? ---- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD