Bab 9

1477 Words
Bukan tidak mau memulai hubungan baru. Hanya saja aku belum selesai mengobati luka-lukaku yang lalu. Lama Wahid diam, menunggu panggilannya diangkat oleh Kiki. Sebenarnya dia menghubungi Kiki bukan tanpa alasan. Dia ingin mengkonfirmasi sesuatu yang baru saja diketahuinya. Tetapi lama dia menunggu, panggilannya tak kunjung terjawab. Sebelah tangannya bergerak, memijat keningnya yang kembali pusing memikirkan segala kemungkinan yang terjadi dari informasi yang baru saja dia dapatkan. "Ini bukan takdir, Ki. Ini bukan takdir. Ini namanya perangkap," gumam Wahid pelan. Sekali lagi dia mencoba menghubungi Kiki di sana. Akan tetapi ponsel Kiki terdengar tidak aktif tiba-tiba saja. Ada apa sebenarnya? Kenapa Kiki tak mau menjawab panggilannya? Segera Wahid meraih kunci mobilnya dan bergerak keluar dari ruangan kerja yang terpaksa dia datangi dihari libur karena informasi tidak terduga yang baru saja dia dengar. Di atas meja kerja tersebut, terdapat satu map yang terbuka. Berisi nama-nama karyawan yang akan dipindahkan ke Jakarta untuk mengisi posisi kosong pada kantor pusat di mana Wahid bekerja. Dan salah satu dari 10 nama itu ada nama seseorang yang tak terduga sebelumnya. Risky Savitri ... Karyawan baru rekrutan kantor cabang Malang yang penilaiannya di atas rata-rata.   ***   "Idih, lo sensitif banget sih, Ki. Kenapa panggilan Bang Wahid enggak diangkat? Kan gue pengen tahu kabarnya dia. Siapa tahu dia lagi sama ayah ibu gue," keluh Nada. "Alasan," gumam Kiki. "Lagian kalau lo mau tahu kabar orangtua lo tinggal telepon sendiri. Kenapa harus dari perantara gue sama Bang Wahid?" Nada terkekeh geli, dia mengusap perutnya yang sudah begitu besar sambil menatap Kiki jahil. "Nak, lihat Tante Kiki, salah tingkah dia. Nanti kalau kamu udah keluar, Nak. Udah besar kayak Tante Kiki, jangan ragu untuk bilang cinta, Nak. Siapa tahu kamu bisa sehebat papamu." Kiki mencibir kesal. Ponsel di tangannya nampak sudah tidak aktif karena memang ia sengaja menonaktifkan. Bukan karena dia ada masalah dengan Wahid, namun Kiki tidak mau nantinya Nada akan membuat gosip tentang kedekatan mereka. Karena Kiki tahu Nada sahabat seperti apa. Dia akan dengan senang hati menggoda Kiki menggunakan kabar yang belum tentu benar. "Masih mau belanja lagi enggak?" "Ulululu ... mau hubungi Bang Wahid ya di rumah. Makanya gue disuruh cepet-cepet." "Untung lo sahabatannya sama gue, Nad. Kalau sama orang lain udah habis lo ditinggalin," keluh Kiki. "Kan lo tahu, Ki. Dalam suatu hubungan itu saling melengkapi. Kayak hubungan persahabatan kita," jawab Nada dengan kedua kelopak mata dikedip-kedipkan. Kiki hanya bisa pasrah melihat aksi kegilaan Nada. Baginya hal seperti ini sudah terlalu biasa dilakukan Nada. Bahkan bila Nada tidak bersikap seperti ini, Kiki yang akan merasa kehilangan. "Enggak ngambek, kan?" "Siapa yang ngambek?" "Kirain ngambek karena enggak bisa ngobrol sama Bang Wahid." "Bang Wahid bukan siapa-siapa gue, Nad." "Iya, tahu gue. Enggak perlu jadi siapa-siapa lo dulu kok untuk meminang lo dalam akad. Kayak gue sama mas Agam. Emangnya dia pacar gue? Bukan. Gue malah takut sama dia dulu diawal. Sekarang dia yang takut sama gue." "Terus lo bangga sebagai istri?" "Banggalah." "Nad, udah ah jangan ngomongin mas Agam atau bang Wahid mulu. Dua laki-laki itu enggak pantes kita omongin," keluh Kiki sambil mengimbangi langkah kaki Nada dalam berjalan. "Loh kenapa?" tanya Nada penasaran. "Lo lupa ya kata dosen agama kita waktu semester awal." "Lupa." "Menikah itu bukan jadi ajang pamer. Apalagi pamer kemesraan di depan umum atau di dunia maya. Karena bisa jadi—" "Bisa jadi apa?" potong Nada penasaran. "Bisa jadi apa yang lo pamerkan menjadi napsu untuk orang lain. Siapa yang tahu isi pikiran orang-orang, Nad. Rambut mereka boleh sama hitam. Tetapi hati dan pikiran siapa yang tahu. Lo enggak mau kan mas Agam jadi bahan imaginasi liar gue?" jelas Kiki sambil bergaya layaknya macan yang ingin menerkam mangsanya. "Nooo!! Enak aja berbagi mas Agam. Kiki, lo jahat kalau sampai itu terjadi." "Makanya itu. Jangan ngomongin mereka." "Termasuk bang Wahid. Bang Wahid kan bukan suami gue?" "Iya. Termasuk dia. Karena dia bukan halal untuk kita. Lo dan gue. Dia boleh sepupu lo. Tapi dia bukan mahram lo, Nad. Jadi hati-hati dalam berucap dan bersikap. Apalagi dengan gue. Dia itu orang asing dalan kehidupan gue," terang Kiki cukup dimengerti oleh Nada. "Ya udah kita ngomongin calon baby gue aja ya. Kira-kira baju bayi yang digantung di sana bagus enggak? Ayo ke sana, Ki." ajak Nada berjalan lebih dulu karena terlalu bersemangat. Di belakangnya Kiki tersenyum sambil menggelengkan kepala. Baru saja dia bicarakan cara bersyukur kepada Nada, sahabatnya ini. Tapi tanggapan Nada langsung melupakan hanya karena tergiur dengan napsu dunia. "Dia memang banyak kekurangan. Tapi aku pun jauh lebih memiliki kekurangan darinya," gumam Kiki sebelum mengikuti Nada ke arah salah satu toko bayi.   ***   Agam mendadak bingung ketika membuka pintu kontrakannya lalu diberikan banyak barang. Kedua matanya sibuk menilai Nada serta Kiki yang nampak kelelahan karena langsung mengambil posisi nyaman masing-masing. Waktu memang sudah cukup malam untuk keduanya pulang. Padahal Agam memberikan Nada ijin pergi tidak sampai semalam ini. "Mas Agam, ambilin Nada minum dong." Agam langsung mengangguk paham. Merapikan banyak tas belanjaan, lalu bergerak mengambil segelas air putih hangat untuk istrinya. "Kok air panas sih," protes Nada tidak suka. "Kamu lagi kelelahan. Enggak baik langsung minum air dingin. Setidaknya normalkan dulu suhu tubuhmu." "Ahh, tapi Nada maunya air es!!!" "Ingat kata dokter, Nada. Air es itu hanya akan membesar bayi dalam perutmu." "Lo dengerkan, Ki. Jangan ambil mas Agam dari gue kalau lo belum siap diceramahin begini setiap hari," bisik Nada pada Kiki cukup kencang. "Maksudnya?" tanya Agam dengan kedua alis terangkat. Kadang bila Nada sedang melakukan percakapan dengan Kiki, ia seakan tidak paham sekali maksud serta arti dari percakapan tersebut. Padahal Kiki dan Nada sama-sama makan nasi seperti dirinya. Namun apapun yang mereka bicarakan atau lakukan, Agam seolah berada di dunia yang berbeda. "Itu lo, Mas. Kiki tadi jelasin ke Nada kalau—" "Assalamu'alaikum," "Wa'alaikumsalam," salam semuanya kompak. Baik Agam, Nada serta Kiki nampak kaget melihat siapa yang tengah berdiri menjulang di depan pintu masuk kontrakan tersebut. Ada rasa penasaran serta bingung yang Kiki rasakan sekarang ini. Tetapi dia coba diam, dan tenang dalam menghadapi perasaan hatinya. "Cieeeee. Telepon dimatiin, terus disamperin ke Malang. Pengorbanannya lebih besar dari mas Agam," sorak Nada tanpa tahu kondisi. Agam nampak kesal atas sorakan istrinya itu. Dia mendekat dan menyalami kedatangan Wahid. "Malam-malam begini dari Jakarta lo?" Wahid mengangguk paham, dia melirik Kiki sambil tersenyum. "Iya," "Dia mau kejar Kiki, Mas. Tadi kan bang Wahid telepon tapi hpnya Kiki langsung matiin. Pasti dia datang karena khawatir deh." "Nad. Apa-apaan sih," bisik Kiki tak suka. "Beneran lo khawatir sama Kiki?" tanya Agam memastikan. Lagi-lagi Wahid tersenyum, mengambil posisi duduk di lantai sambil membuka kedua sepatunya. "Lo masih aja percaya sama kata-kata Nada." "Dia istri gue. Ya jelas gue percaya," suara Agam tak suka. "Oh iya gue lupa," tawa Wahid geli. "Mampus lo, Bang," kesal Nada. Karena merasa ditunggu penjelasannya oleh ketiga orang tersebut, Wahid mencoba meluruskan segala dugaan yang timbul. "Gue ke sini karena ada urusan besok." "Urusan sama Kiki kan?" goda Nada. "Bukan." "Terus apa?" tanya Nada kecewa. Sekilas Wahid melirik Kiki dari sudut matanya. Perempuan itu menunduk diam tanpa bisa Wahid lihat ekspresi di wajahnya. "Masalah kerjaan." "Di Malang?" tanya Agam tak yakin. "Iya. Kantor cabang gue baru buka 2 bulan ini di Malang. Dan belum ada peresmian. Senin ini akan ada peresmiannya." Agam dan Nada saling lirik dengan banyak pertanyaan yang keduanya samakan. Entah apa yang dikatakan Wahid benar atau tidak. Karena dia belum mendengar apapun di grup chat keluarga Al Kahfi. "Ammah juga ke sini?" tanya Nada memastikan kebenaran itu. "Dia bilang akan datang. Tapi gue enggak yakin," jawab Wahid santai. Tubuhnya dia luruskan di lantai beralaskan tikar rotan dalam kontrakan tersebut. Kedua tangannya dia jadikan bantal untuk sandaran kepalanya. Bahkan Wahid sengaja menutup kedua matanya seolah malas menjawab pertanyaan lain dari Nada dan Agam. "Nad, gue balik dulu ya. Senin gue kerja," ucap Kiki pelan. "Hati-hati, Ki. Mau dianterin Bang Wahid enggak?" Kiki melihat Wahid yang nampak kelelahan, lalu menggeleng cepat ke arah Nada. "Enggak usah." "Gue pamit ya Mas Agam." "Makasih banyak ya, Ki." "Sama-sama. Assalamu'alaikum," salam Kiki mencoba tidak peduli dengan Wahid yang masih saja diam tak bergeming. Awalnya hatinya merasa berbunga-bunga. Melihat kedatangan Wahid di malam hari seperti ini, Kiki pikir laki-laki itu mengkhawatirkannya. Ternyata tidak. Wahid datang ke Malang karena urusan pekerjaan. Bukan karena urusan hatinya. Kiki tahu perasaannya ini hanya napsu sesaat. Menginginkan Wahid menjadi imam dalam hidupnya bagaikan sebuah ilusi yang tak mungkin terjadi. Bahkan dia sendiri ragu menjaga perasaan indah ini di dalam hatinya. Karena menjaga sholatnya yang lima waktu saja sulit, apalagi menjadi perasaan cinta sepanjang waktu. Karena itu Kiki mencoba tidak terlalu memikirkan semuanya. Kalau memang Wahid jodohnya maka semakin jauh kaki melangkah, hati akan semakin dekat. "Percuma sering komunikasi, kalau sampai detik ini enggak ada kata sehidup semati," gumam Kiki merasa bodoh atas tingkah lakunya sendiri. Dia tetap berjalan maju tanpa sedikitpun menengok ke belakang, padahal di belakangnya ada seseorang mengikutinya tanpa suara sedikitpun. "Sorry." ------- Continue.. Yang semangat komennya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD