Bab 12

1422 Words
Tanpa adanya kesedihan, cinta hanyalah sebuah kata yang mudah dipermainkan. Untuk pertama kalinya Kiki berada di tempat yang tak seharusnya tidak dia kunjungi. Akan tetapi setelah sebuah pesan masuk ke ponselnya, mau tidak mau Kiki mendatangi tempat ini. Dengan kelap kelip lampu serta suara musik yang membuat Kiki pusing, dia mencoba mencari Wahid yang dikabarkan sedang berada di sini. Namun di sepanjang kedua matanya memandang, Kiki tidak kunjung melihatnya. Beberapa kali, Kiki mencoba menegur orang yang ada di sana. Tetapi balasan dari mereka hanya sebuah bentakan kepada Kiki. Bahkan ada yang hampir saja menjatuhkan tubuhnya ke arah tubuh Kiki. Sungguh ini terasa benar-benar gila. Dalam pikirannya terus saja berteriak mengapa Wahid bisa berada di sini. Tempat yang bahkan untuk memasukinya saja, Kiki harus membayar sejumlah uang yang seharusnya dia hemat-hemat untuk biaya makannya selama seminggu. "Bang Wahid," suara Kiki ketika tak sengaja dia melihat Wahid tengah duduk dengan pandangan kosong. Kiki langsung menghampirinya, menepuk bahu laki-laki itu yang merasa kaget melihat Kiki mau datang ke tempat ini demi dirinya. "Lo ngapain di sini?" teriak Wahid. "Bang, ayo pulang. Ayo kita pulang, Bang," suara Kiki seperti orang memohon. Tadi memang benar Wahid mengirimkannya pesan. Pesan yang berisikan banyak kata maaf di dalamnya. Mungkin Wahid merasa begitu bersalah, bukan hanya kepada Kiki. Namun dia juga menyesal mengatakan kata menyakitkan untuk ibunya. "Gue masih mau di sini, Ki." "Bang—" jeda Kiki. "Lo anggap gue temen, kan? Lo anggap gue sahabat, kan? Lo anggap gue pegawai lo, kan? Please, sekali ini aja gue mohon sama lo jangan hancurin diri lo karena lo merasa salah dengan orang lain," ucap Kiki yang mampu membungkam Wahid. Bagaimana Kiki bisa tahu perasaannya? "Kalaupun gue bukan orang penting dalam hidup lo. Setidaknya ijinkan gue jadikan lo orang penting dalam hidup gue. Enggak masalah kan, Bang? Kita kenal pertama untuk menjadi teman. Kalau pun sampai akhir kita akan menjadi teman, enggak ada salahnya gue ingatkan lo begini. Benar kan Bang, gue enggak salah? Tegur gue kalau batas pengertian gue lebih dari teman. Marahi gue kalau emang lo enggak nyaman sama semua sikap gue. Tapi sekali ini gue mohon, jangan melakukan hal aneh begini, Bang." Wahid langsung bangkit dari kursinya, menarik lengan Kiki untuk keluar. Jujur saja perasaannya sakit mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kiki. Kiki adalah perempuan baik. Mengapa dia mau direndahkan hanya demi laki-laki seperti dirinya. "Bang," panggil Kiki ketika mereka berdua sudah berada di luar klub malam tersebut. Tubuh Kiki yang hanya sebatas d**a Wahid membuat laki-laki itu menunduk, mengusap air mata Kiki yang entah sejak kapan mengalir di kedua pipinya. "Lo enggak pantes nangis buat gue." "Siapa bilang gue nangis buat lo," jawabnya sambil mengusap asal air mata tersebut. "Gue nangis buat diri gue sendiri. Bukan buat lo." "Kenapa emangnya?" "Gue jadi jijik sama diri gue. Mau-maunya masuk ke dalam tempat itu, terus keluar uang pula. Mending uangnya gue kasih orangtua gue. Tapi demi nolong teman, sahabat, abang gue, gue rela deh. Uang enggak seberapa harganya, karena lo jauh lebih berharga." Tanpa diduga-duga Wahid menarik Kiki ke dalam pelukannya, membiarkan Kiki menangis diiringi debaran jantungnya yang tak menentu. "Terima kasih, sahabat," ucap Wahid. Walau perih semakin menjadi di bagian hati Kiki, gadis itu tidak marah ataupun merasa putus asa. Baginya bila Wahid tak mencintainya pun tak mengapa. Karena cinta bukan hanya perkara balas membalas.   ***   "APAAAAA??? LO KE KLUB MALAM," Teriak Nada kencang. "Terus aja teriak pakai toa. Biar mas Agam dengar!!" kesal Kiki. "Mas Agam enggak di rumah. Katanya mau ketemu bang Wahid tadi." "Ketemu bang Wahid?" "Iya. Enggak ngerti deh urusan kerjaan katanya," jelas Nada. Lalu dia menatap Kiki dari ujung kaki sampai ke kepala, bahkan hingga Kiki merasa salah tingkah akibat tatapan Nada itu. "Lo enggak jadi p*****r kan di sana?" "Nada, otak lo!!! Curiga mulu!! Dulu ke mas Agam lo curiga kalau dia itu mafia. Sekarang gue pergi ke klub malam, lo bilang gue p*****r!!!" "Gitu aja ngambek. Mas Agam aja buktinya abis gue tuduh malah makin cinta sama gue. Lo juga harusnya gitu." "Kan gue bukan mas Agam, Nada." "Iya deh. Terus lo ngapain ke sana?" tanya Nada semakin penasaran. "Ini, lo baca aja."   Terkadang luka yang tak sengaja, lebih menyakitkan dibanding luka yang dibuat atas dasar kesengajaan. Namun bagaimana pun luka itu terbentuk, aku menyesal telah melukaimu. Maafkan aku, maafkan segala sikapku yang telah menyakitimu. Sakitmu kupikir adalah sakitku juga. Bahkan sakit ini kuberikan juga ke orang lain yang bahkan tak bersalah. Sekali lagi kuulangi, maafkan aku. Aku menyesal, Ki. Aku menyesal menyakiti perempuan terbaik sepertimu.   "Dari bang Wahid?" "Iya. Dia kirim gue pesan begitu semalam. Gue panik lah. Langsung gue bales dia di mana, eh dia share lokasinya. Dan lo tahu itu tempat apa? Itu klub malam!!! Gila enggak. Gue pikir keluarga lo lurus semua, Nad. Enggak tahunya kok bang Wahid bisa kenal tempat begitu?" Nada tertawa geli. Mengembalikan ponsel Kiki ke tangan sahabatnya itu. "Kata siapa keluarga gue baik semua? Memang mereka baik. Tapi bagaimana kehidupan awalnya lo enggak tahu, kan?" "Enggak." "Gue sih enggak aneh kalau bang Wahid bisa ada di sana. Setelah hancurnya bang Wahid waktu itu, dia sempat tinggal lama di Jerman. Makanya bisa ketemu mas Agam, Kak Barra. Itu karena mereka satu nasib semua. Kalau mas Agam karena kecewa terhadap orangtuanya. Sedangkan bang Wahid, selain kecewa terhadap kelakuan ayahnya yang baru dia ketahui begitu jelas saat itu. Dia juga baru saja kehilangan perempuan yang benar-benar dia cinta." "Siapa? Istri abang lo itu?" Nada mengangguk cepat. "Iya, kak Farah dulunya itu pacarnya bang Wahid. Lama juga mereka pacaran. Setahu gue dua tahun mereka bersama. Yah walau kak Farah enggak pernah diajak kalau ada kumpul keluarga. Mungkin mereka backstreet waktu itu. Karena yang gue dengar-dengar, tante gue enggak suka latar belakang keluarga kak Farah. Terus juga kak Farah dulunya enggak pakai kerudung. Enggak bisa sholat. Pernah menjadi model tanpa busana." "APA??? KOK BISA?" "Panjang ceritanya, Ki. Kalau lo mau tahu kisah itu, mending lo tanya bang Wahid. Karena gue rasa enggak baik aja kalau gue yang cerita. Dia yang lebih tahu kisah itu, karena dia yang menjalankannya." Kiki mengangguk setuju. Jika waktunya tepat pastinya akan dia tanyakan kepada Wahid tentang masa lalunya.   ***   "AGAM!!! BERHENTI!!!!!" teriak Barra sambil memisahkan kedua sahabatnya itu. Di hadapannya, Wahid sudah tersungkur dengan luka di bagian sisi bibirnya. Dia pun tidak menyangka Agam akan menyerangnya setelah Wahid menceritakan masalahnya kepada kedua sahabatnya. "Lo keterlaluan, Hid. Lo gila!!! Bukannya kita bertiga janji bakalan hijrah bareng!! Tapi lo kenapa masih begini? Dan apa-apaan lo bawa Kiki ke sana. Ke tempat yang enggak seharusnya perempuan itu datangi? Pikiran lo ke mana, HAH??" Sambil mengusap darah di sekitar bibirnya, Wahid tertawa. Dia membalas tatapan marah Agam kepadanya. "Setidaknya gue enggak tidurin dia, Gam. Setidaknya gue nggak segila lo!!!" "ITU DULU, HID. DULU!!!!" Maki Agam menarik kerah baju Wahid dengan kuat. "Gam, udah!!! Masalah enggak akan selesai kalau kalian pakai emosi," lerai Barra. Dia yang baru tiba dari Jakarta sebenarnya tidak ada niat untuk pergi ke Malang hari ini. Tetapi setelah semalam kedua sahabatnya itu ribut pada grup chat mereka, mau tidak mau Barra datang ke sini. Menggunakan penerbangan pesawat yang paling pagi, dan untungnya dia tiba tepat waktu. "Gue benci hidup gue, Gam. Kenapa Tuhan selalu mempermainkan segalanya. Keluarga gue, perempuan yang ada di sekitar gue. Semua hal enggak pernah berjalan sesuai apa yang gue mau. Kenapa, Gam? Kenapa?" Perlahan Agam melepas cengkramannya. Duduk di samping Wahid. Barra pun demikian, memilih duduk di sisi kiri Wahid sambil menjadi pendengar yang baik untuk kedua sahabatnya. "Ilmu agama lo jauh lebih baik dari gue, Hid. Keluarga lo lebih baik dari keluarga gue. Apa pantas gue menasihati lo?" gumam Agam. "Tapi kalau lo masih mau mendengarkan gue, gue cuma bisa bilang enggak ada keindahan sebelum lo menempuh segala hal yang lo anggap sulit. Seperti orang naik gunung. Lo harus bersusah payah dulu baru bisa melihat indahnya pemandangan. Sama halnya seperti hidup. Enggak ada salahnya terjadi kesusahan dalam hidup. Yang salah itu kita yang enggak mau berjuang dalam kesusahan itu." Sejenak mereka semua terdiam mendengar penjelasan Agam. Dalam hati masing-masing, semuanya setuju atas penjelasan itu. Dan bahkan mereka semua akui, tanpa diingatkan lebih dulu biasanya sering kali manusia mengambil jalan yang salah. "Dan satu hal lagi, Hid. Kalau emang lo cinta sama Kiki. Jangan biarkan dia menjadi huruf ba' dalam iqlab. Yang bukan hanya satu-satunya karena kebodohan lo, yang belum bisa menghapus masa lalu lo itu di dalam hati. Paham kan maksud gue?" "Paham enggak, Hid?" ulang Barra seakan-akan menyindirnya. "Kalau lo belum paham, besok gue bawain buku ilmu tajwid gue deh," godanya kembali. "Asem lo pada!!!!" ---- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD