Epiphany

1241 Words
"Semuanya masih terasa seperti mimpi bagiku. Kalau pun ini hanyalah sebuah mimpi, rasanya aku tak ingin bangun dari mimpi indah ini." Batinku berbicara. Rendra menutup teleponnya. "tunggu sebentar ya, orangtuaku akan segera datang. Mereka ingin melihat dan berbicara langsung denganmu." Ucap Rendra padaku, aku hanya mengangguk pelan. Rendra berjalan keluar ruangan setelah itu. Aku tak dapat berbicara sepatah kata pun, pandanganku masih tertuju padanya yang keluar dari ruangan begitu saja setelah menghubungi orangtuanya. Sedikit syok dengan hal itu membuatku merasa haus, ku ambil segelas air putih yang berada di meja. Ku teguk sedikit demi sedikit, perlahan aku merasa sedikit lega. Sudah beberapa hari ini aku berada dirumah sakit, jujur saja aku merasa bosan. Aku beranjak bangun dari tempat tidurku dan berjalan menuju arah jendela. Kulihat pemandangan luar, hari ini langit sangat cerah. Awan putih bertebaran sambil berkejaran di langit yang biru, mata ini begitu dimanjakan oleh pemandangan itu. Mungkin karena selalu berada didalam ruangan, membuatku rindu pada pemandangan luar. Saat sedang serius menatap pemandangan dari jendela, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Aku menoleh kearah sumber suara yang kudengar, akhirnya kedua orangtua Rendra datang untuk bertemu denganku. "namamu benar Mira Dinata?" Ucap lembut Ibu Rendra. "iya Tante..." "Panggil Ibu saja ya. Kalau kamu sudah sehat, kita akan segera melangsungkan pernikahan kalian ya. Bagaimana kalau 2 minggu lagi Mira?" Mendengar hal itu membuatku terperangah. "Ta.. tapi..." "Kamu nggak perlu khawatir, kami sangat senang akhirnya Rendra memperkenalkan seorang gadis yang akan ia nikahi. Kami akan menerimamu dengan baik sayang." Ibu Rendra memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya dan tersenyum hangat padaku. "Besok kamu sudah boleh pulang dari sini, beritahu aku alamat tempat tinggalmu. Aku akan mengantarmu sekalian mengambil barang-barangmu lalu pindah kerumah orangtuaku." Ucap Rendra. "Apa tidak apa? Bukannya nanti akan jadi omongan tetangga kalau aku tinggal serumah denganmu?" "kamu tenang saja Mira, Rendra sudah punya rumah sendiri jadi dia sudah tidak tinggal bersama kami. Anggap saja kamu tinggal dengan keluargamu sendiri ya." Sela Ayah Rendra menjelaskan keadaan yang ada. "baiklah. Terima kasih..." "kami yang seharusnya berterima kasih padamu. Ya sudah kami akan kembali pulang hari ini." Ucap Ibu Rendra dengan ramah. Mereka pun meninggalkanku sendiri di ruangan. Esoknya aku dan Rendra pergi menuju kosanku untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal disana. Tentu kami kesana tidak hanya berdua tetapi ditemani oleh supir. Setelah membereskan barang-barangku, kami pun menuju rumah orang tuanya Rendra. Sampai dirumah orangtua Rendra, aku diantar oleh Ibunya menuju sebuah kamar. "ini kamarmu, anggap saja ini kamarmu sendiri ya Mira. Silahkan mandi dan ganti bajumu, kami akan menunggumu dibawah untuk makan bersama." "baik bu terima kasih..." Aku pun segera mandi dan berganti baju. Setelah itu pun aku turun kebawah. Ternyata mereka sudah menungguku di meja makan. Aku pun duduk di samping Ibunya Rendra. Saat aku melihat makanan di meja makan, tak terasa mataku berkaca-kaca diikuti dengan hidungku yang memerah. "kamu kenapa nak? kok menangis?" "a...aku teringat oleh Ibuku... Ini masakan kesukaanku yang biasa dibuat oleh Ibu..." Jelasku dengan suara parau. Ibunya Rendra dengan sigap menenangkanku, ia mengusap lembut bahuku. "Alhamdulillah kalau kamu ternyata suka sama masakan yang Ibu buat. Yaudah kita makan dulu ya." Aku menghapus air mataku dan mulai makan makanan yang ada di meja. Aku makan dengan lahap, entah ini pengaruh baru sembuh dari sakit atau memang masakan Ibu Rendra yang enak. Apalagi masakan ini mengingatkanku pada Ibu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan kasih sayang keluarga seperti ini. Mereka pun mau menerimaku dengan baik meski keadaanku seperti ini. Selesai makan, aku membantu Ibu Rendra untuk merapikan semua. Meski awalnya Ibu Rendra tidak ingin aku membantunya, tapi akhirnya ia memperbolehkanku untuk membantunya. Sedangkan Rendra langsung pulang setelah makan. Setelah membereskan semuanya, aku pergi ke kamar untuk istirahat. *** Ijab qabul terucap, kini aku sudah resmi menjadi istri Rendra Ramayanto. Resepsi pernikahan kami hanya dihadiri oleh orang terdekat saja. Sebenarnya orangtua Rendra ingin merayakan pernikahan ini dengan meriah, namun aku yang meminta untuk membuatnya secara sederhana saja. Setelah acara selesai, aku dan Rendra pergi menuju rumahnya. Lokasi rumah Rendra cukup jauh dari rumah orangtuanya. "seandainya kalian masih ada disini, melihat anak tercintamu ini menikah, kalian pasti sangat bahagia. Meski aku masih merasa asing dengan lelaki yang ku nikahi ini, tapi aku bahagia Ibu Ayah... Terima kasih ya Allah telah mengirimkan lelaki ini untukku..." Batinku mengingat kedua orangtuaku. Rendra memarkirkan mobilnya didepan rumah. Ia keluar dari pintu mobil lalu membuka bagasi belakang untuk mengambil barang-barang dan akan menaruhnya kedalam rumah. "Mira, kamu kedalam saja duluan ya. Langsung mandi dan istirahat. Pasti kamu lelah seharian tadi, biar aku saja yang membereskan ini." "aku akan membantumu dulu." "sudah nggak apa-apa, membereskan ini tidak akan membuatku kelelahan. Kamu masuk saja ya. Aku berjalan menuju pintu rumah, karena merasa tidak enak aku berbalik lagi menghadap kearah Rendra dan berdiri di depan pintu. Rendra tersenyum lalu memberi isyarat dengan tangannya supaya aku segera masuk saja kedalam rumah. Akhirnya membuka pintu dan segera masuk kamar yang telah diberi tahu Rendra sebelumnya. Saat masuk kamar, interior modern minimalis menyeruak dimataku. Cat biru telur asin berpadu dengan warna putih membuat kamar ini terasa nyaman. Ditambah lagi dengan kasur besar yang bisa di tempati oleh 2 orang sekaligus. Selesai aku melihat-lihat, tak lama Rendra masuk kedalam kamar. Aku terkejut, masih belum terbiasa berada dalam satu kamar dengan laki-laki meskipun saat ini statusnya adalah suamiku. "sudah mandi saja, aku takkan mengintip." Wajahku memerah, Rendra yang melihatku malu tawanya terpecah. Aku pun segera buru-buru ke kamar mandi tak lupa dengan membawa baju ganti. Selesai mandi, aku melihat Rendra sedang berkutat dengan pekerjaannya di laptop. Aku berbaring di tempat tidur. "kamu tidur saja ya, tidak perlu menungguku karena butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Rendra. "baiklah aku akan tidur duluan." Aku pun tertidur. Esok harinya, aku sudah bangun pagi-pagi sekali. Aku bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan untuk Rendra. Setelah siap, aku pergi menuju kamar. Terlihat Rendra sudah rapi dengan pakaian kantornya. Aku dan Rendra pergi bersama menuju meja makan. Kami pun makan bersama. "Mira, kalau kamu lelah, aku bisa menyewakan pembantu untukmu." "tidak perlu, aku tidak lelah kok. Aku senang bisa menyiapkan ini semua untukmu... hmm.. boleh aku memanggilmu dengan panggilan mas? Kau lebih tua dariku, aku ingin menghormatimu sebagai suamiku." "silahkan saja, kalau kau lebih suka memanggilku seperti itu, maka lakukan saja." "baiklah terima kasih." Rendra tersenyum padaku, lalu fokus kembali pada makanannya. Ia makan dengan lahap makanan yang kumasak. "bagaimana rasanya? Apakah enak?" "ini enak sekali, seperti masakan yang dimasak oleh Ibuku. Terima kasih ya Mira." Aku tersenyum senang mendengar hal itu. Ini pertama kalinya aku memasak untuk orang lain selain keluargaku. Aku bersyukur sempat diajarkan memasak oleh Ibuku dulu. Setelah selesai makan, Rendra langsung pamit padaku. "kamu kalau mau jalan-jalan silahkan saja, hubungi supir kalau mau berangkat ya. Kamu bisa pakai kartu yang ada di laci kamar untuk belanja." Aku cium tangannya dan ia berangkat ke kantor dengan mobilnya. Sembari menunggu Rendra pulang dari pekerjaannya, aku mencoba untuk merapikan segala sesuatu yang ada dirumah. Setelah selesai dengan waktu yang cukup lama, aku istirahat dan tertidur di kamar hingga sore hari. Alarm ponselku berbunyi, aku bangun dari tempat tidurku hendak memasak. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata Rendra sudah pulang dari kantornya. "Mira, malam ini kamu nggak perlu masak ya, kita makan diluar saja." "Oh... baiklah, aku akan bersiap-siap dulu." Lelaki ini memang masih asing bagiku, tetapi dia sudah membawa harapan dan pencerahan untuk hidup. Sebelum bertemu dengannya, aku berpikir hidupku menyedihkan dan sia-sia. Tapi dia datang mencoba meyakinkanku bahwa hidupku ini sangatlah berharga. Aku ingin melihatnya bahagia, aku mencintainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD