Kedai Kopi Langganan

1202 Words
Aku tidak terlalu menyukai kopi, tetapi salah seorang temanku sangat menyukai kopi. Dari situlah aku tahu sebuah kedai kopi yang biasa ia kunjungi. Aku pun ikut berlangganan disana. Kedai kopi ini tidak terlalu jauh dari rumah sakit yang juga menjadi tempatku bekerja. Kedai sederhana yang biasa dikunjungi oleh anak-anak kuliahan. Kedai ini sangat ramai, tetapi hanya buka hingga sore hari saja. Biasanya aku mampir kesini saat jam makan siang. Suatu hari saat aku mampir, aku melihat seorang pekerja baru yang bekerja disana. "mba saya pesan yang ini dan ini ya." Ucapku sambil menunjuk ke beberapa menu favorit yang ingin kupesan. Dan kali ini pekerja baru itu yang memberikan pesanannya padaku. Ia meletakkan sebuah kue pie cokelat dan secangkir kopi espresso. Ku lihat pekerja baru ini cukup cekatan dan baik dalam menangani pelanggan. Entah kenapa aku terus memperhatikannya. Beranjak dari mejaku ia berjalan ke meja pelanggan yang lain, tiba-tiba aku melihat dia memecahkan sebuah gelas saat melayani salah satu pelanggan. Semua pandangan tertuju padanya. Hanya melihat secara sekilas saja, aku tahu itu bukan kesalahan si pekerja baru melainkan ulah si pelanggan nakal yang baru saja memegang tangan gadis itu dengan sengaja. Baru saja aku akan berdiri, tiba-tiba wanita yang sudah bekerja lama lebih dulu di kedai ini turun tangan membantu. Perlahan aku duduk kembali di bangku. Aku masih memperhatikan mereka. Setelah wanita itu datang, kedua pekerja itu terlihat dapat menangani kumpulan lelaki itu. Karena kulihat kondisi mereka baik-baik saja, aku melanjutkan makan dan menikmati pesananku. Sambil menyeruput sisa kopi terakhir, aku pun kembali bekerja. *** Karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, aku tidak berkunjung ke kedai kopi itu selama beberapa waktu. Baru kemudian saat aku datang kembali ke kedai tersebut, pekerja baru itu tidak terlihat. Mungkin ia hanya sedang libur pikirku. Saat pulang bekerja, aku mampir ke sebuah taman untuk sekedar jalan-jalan. Sambil menikmati suasana yang santai, aku memesan satu mangkuk bakso. Sambil mengunyah bakso perlahan, pandanganku mengarah pada sekitar taman. Dari kejauhan aku melihat orang yang tak asing. Dia adalah wanita pekerja baru itu. "sedang apa dia disana?" Batinku. Gerak gerik wanita itu terlihat lemah. Dengan wajah putus asa dan tangan yang memegang bungkusan obat membuatku yakin ada yang tidak beres dengan wanita itu. Lalu tiba-tiba saja ia mengeluarkan obat dalam jumlah yang tidak sedikit dan hendak meminumnya. Aku buru-buru menaruh mangkuk bakso di bangku dan berlari ke arah wanita itu. "hei ! Kenapa malah kau buang obat itu !" "kenapa kau mau meminum obat sebanyak itu ?!" "biarkan saja ! Apa urusanmu !" "ini urusanku !" "Kau pergi saja dari sini, aku ingin mati !" Teriak wanita itu padaku. Saat wanita itu hendak bangun dari bangku, ia jatuh pingsan. Beberapa orang yang ada disana mulai berkerumun disekitarku. Aku dengan sigap menggendong wanita itu dan membawanya kerumah sakit. "dok, pasien yang tadi dokter bawa sudah siuman." "baiklah, terima kasih suster." Aku pun pergi bersama salah satu perawat untuk memeriksa keadaan wanita itu. Sesampainya didepan pintu, aku sempat berhenti dan melihat dari celah kaca pintu, wanita itu sedang melamun. Ku buka pintu ruangan perlahan. "mba jangan banyak bergerak dulu." Wanita itu tak lepas memandangku. "hei, jangan memandangku seperti itu. Aku tahu kalau aku ini tampan, tapi kau tidak perlu memandangiku terus menerus." Candaku agar suasana bisa mencair. Wanita itu pun segera mengalihkan pandangannya. Pipinya memerah mungkin karena merasa malu padaku. "sudah jangan malu, aku sudah biasa ditatap seperti itu kok. Aku periksa dulu ya sebentar." Wanita itu memperhatikanku dengan heran, "kenapa? bingung aku bisa tahu perasaanmu?" Ucapku santai sambil memeriksa wanita itu menggunakan stetoskop. Tiba-tiba saat aku sedang memeriksa, wanita itu mulai berbicara. "hei kamu pasti penipu kan?!" Aku terhenti memeriksanya lalu menyilangkan tanganku, "kamu ini tidak pernah diajari sopan santun dan terima kasih oleh orangtuamu ya? Baiklah aku akan pergi dari sini supaya kamu tidak perlu melihat penipu tampan sepertiku. Jangan lupa minum obatmu." Sebelum aku berbalik keluar ruangan, wanita itu terlihat menundukkan kepalanya. Aku pun berjalan menuju keluar ruangan sambil menaruh tanganku di saku celana. "kedua orangtuaku sudah meninggal." Deg... Langkah kakiku terhenti sebentar. Aku terhenti karena kaget dan merasa bersalah mendengar hal itu, aku pun mempercepat langkahku agar wanita itu tidak merasa risih dengan kehadiranku diruangan itu. Aku pergi lebih dulu meninggalkan perawat diruangan itu. "apa wanita itu tidak mempunyai keluarga?" Saat sore hari, aku berniat untuk memeriksa beberapa pasien dirumah sakit. Saat melintasi kamar wanita itu, aku mendengar teriakan minta tolong. Aku segera membuka pintu tersebut. Kulihat wanita itu meronta-ronta saat dirinya ditarik oleh satu dari kumpulan penagih hutang yang wajahnya sudah kukenali. Sontak lelaki tadi yang menarik tangan wanita itu segera melepasnya. "Ada apa ini?" "Kau siapanya perempuan ini hah? Pacarnya?" "Itu bukan urusanmu, kalau kalian sudah selesai menjenguk silahkan pulang. Tidak perlu mengganggu pasienku !" "Ini urusanku anak muda ! Kau tidak tahu dia itu memiliki hutang yang banyak? Dan hari ini aku sedang menagih hutang padanya. Kalau dia tidak membayarnya maka dia harus bekerja padaku!" "sudah berapa kali wanita ini di teror penagih hutang? Pasti hidupnya sangat tertekan." Batinku. "Berapa hutangnya?" "haha sombong sekali kau! Baiklah kalau kau mau membayarnya, aku akan sangat senang." Wanita itu mencoba melerai pembicaraanku dengan mereka. "Kau tidak perlu ikut campur urusanku!" kata wanita itu menunjukkan ekspresi marah. "Ah itu kau dengar sendiri kan? Dia tidak ingin kau membantunya. Sepertinya dia ingin sekali bekerja padaku." Aku pun berjalan menuju wanita itu. "bisa kah kau diam sebentar?" Ucapku sambil mendekatkan wajahku padanya. Setelah berbicara padanya sebentar, aku berbalik arah pada lelaki penagih hutang itu. "sebutkan berapa hutangnya!" "baiklah kalau kau memaksa, kau harus membayar sebanyak 2 milyar." "2 milyar? Sebenarnya itu hutang apa? Bagaimana bisa ia membayar hutang sebanyak itu kalau ia hanya menjadi pekerja di kedai kopi itu? Belum lagi dia sudah tidak punya orangtua. Hah... masih banyak pertanyaan yang ingin ku ajukan padanya..." "Baik akan kubayar hutangnya, tapi sebagai gantinya kau tidak boleh mengganggu perempuan ini lagi. Kalau kalian masih mengganggunya, maka aku akan membawa urusan ini pada yang berwajib." "haha kau beruntung Mira, kali ini kami akan pamit. Awas saja kalau kau tidak membayar hutangmu, kau tidak akan kulepaskan !" Lalu kumpulan penagih hutang itu pun pergi meninggalkan ruangan. "apa kau sudah gila ?! Kenapa kau malah ikut campur urusanku? Aku tidak ingin belas kasihan darimu !" Ujar wanita itu dengan meninggikan suaranya. "melihatmu ingin bunuh diri mengingatkanku pada adikku yang tak sempat ku selamatkan saat ia bunuh diri di kamarnya. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku pada adikku dulu. Maafkan aku, aku ingin menolongnya..." "menikahlah denganku." Kalimat singkat itu membuatnya terdiam membeku. Dia terlihat kaget mendengar kata-kataku. "u.. untuk apa kau menikahiku? Kau pun tidak tahu apa-apa tentangku !" "aku hanya ingin menikahimu. Kau bisa hidup tenang bersamaku tanpa perlu dikejar oleh para penagih hutang itu." Kepalanya tertunduk, ku lihat air matanya terjatuh di lantai. "kau tidak perlu melakukan itu. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi didunia ini, aku perempuan yang menyedihkan dengan banyak hutang. Hidupku ini sudah tak berharga lagi. Tolong hentikanlah candaanmu itu." Ucapnya putus asa. "aku serius... Aku yang akan menyiapkan pernikahannya. Itu pun kalau kau setuju. Akan kuberi kau waktu 2 hari untuk berpikir. Tenang saja, hutangmu tetap akan aku lunasi besok meski kau menolak lamaranku ini." Setelah itu aku langsung pergi dari ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD