Maafkan Aku

1089 Words
Namaku Rendra Ramayanto. Aku menjadi seorang dokter karena ingin menyelamatkan adikku yang bernama Dinda. Dia menderita penyakit leukimia. Selain itu, Ayahku adalah seorang direktur rumah sakit dan memiliki rumah sakit di beberapa wilayah. Saat ini aku menjabat sebagai wakil direktur dan akan ditugaskan menjadi pengganti Ayahku saat ia memasuki usia pensiun. Sewaktu kuliah, adikku selalu menyemangati saat aku belajar. Dia selalu ingin tahu apa yang sedang ku pelajari. Dia juga sering mengajakku ke sebuah taman yang sering ia kunjungi. Meski ia ke sana hanya mau memberi makan kucing, aku senang sekali bisa menemaninya seperti itu. Aku hanya ingin membuat dia bahagia dan aku akan melakukan hal apapun untuk itu. "mas Ren sini, lihat deh induk kucing itu lahap sekali makannya." Aku menuruti perkataan adikku dan berjalan menuju sebuah kandang kucing yang ada di taman itu. Kandang kecil yang terbuat dari kayu itu terlihat baru dibuat. Adikku sibuk memberikan makan pada induk kucing itu. Setelah makanannya habis, induk kucing itu kembali pada tiga anaknya untuk menyusui mereka. "lucu ya mas, aku juga ingin deh punya anak seperti induk kucing ini." Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Aku senang bisa melihatnya tersenyum seperti itu. Meski adikku tahu ia mengidap leukimia, ia tidak pernah kehilangan senyumnya. Aku berharap itulah perasaan ia yang sesungguhnya. Aku tak ingin ia menutupi apa yang ia rasakan, apapun itu. "mas, nanti ke sini lagi ya kalau mas pulang dari rumah sakit." "iya insya Allah mas usahakan ya. Soalnya sedang koas dirumah sakit Ayah." "baiklah, akan Dinda tunggu. Pokoknya aku akan menunggu sampai mas datang. Kalau mas tidak datang, aku akan marah." Ucapnya sambil tersenyum manja padaku. *** Hari ini aku dan Dinda akan mengunjungi taman itu lagi. Paginya aku berangkat ke rumah sakit seperti biasa. Dan karena ada praktik, aku bergantian dengan yang lain untuk berjaga. Saat itu ada pasien kecelakaan, aku dan timku membantu dokter senior yang akan mengoperasi korban kecelakaan tersebut. "tolong bantu Ayah saya dok..." Pinta seorang perempuan pada salah seorang dokter senior sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan dirumah, Dinda sudah bersiap-siap dari sore hari. Ia pamit pada Ibuku dan pergi ke taman bersama supir. "Ibu, aku pamit dulu ya mau ke taman. Aku sudah janjian sama mas Rendra untuk pergi kesana. Aku pergi dulu ya." "baiklah sayang, hati-hati ya." Selesai operasi, aku baru ingat kalau hari ini punya janji dengan adikku. Aku terlalu fokus pada operasi tadi hingga tidak mengingatnya. Bahkan aku tidak mengabari apapun padanya. Aku pun segera pergi ke taman. Di taman, adikku yang sedari tadi menunggu hingga hari mulai gelap pun membuat supir pribadi kami khawatir. Perlahan adikku menitikkan air mata. "mas kemana sih? Apa dia lupa dengan janjinya padaku? Apa dia sudah tidak peduli lagi denganku? Kenapa dia tak mengabari aku sampai detik ini? ." Supir yang dari tadi menunggu pun keluar dari mobil untuk menghampiri dan membujuk adikku pulang. Adikku terlihat sudah menggigil kedinginan. Setelah beberapa saat akhirnya ia menyerah untuk menunggu dan segera pulang kerumah. "Pak, jangan beri tahu kalau aku menangis ya." Ucap Dinda saat hampir sampai kerumah. Ia segera menghapus air mata di wajahnya. "tapi non..." "aku sudah nggak apa-apa kok. Dan jangan bilang apa-apa sama orang rumah kalau aku hari ini menggigil kedinginan karena menunggu mas Rendra datang. Aku tidak ingin mereka khawatir." Ucap adikku dingin dan langsung keluar dari mobil. Sesampainya dirumah Ibuku tersenyum menyambut kehadiran adikku, ia hanya membalas dengan senyuman tipis lalu segera pergi ke kamar. Wajahnya tidak terlihat seperti habis menangis, padahal sepanjang perjalanan ia terus menangis. Saat masuk kamar, adikku sibuk mencari obat-obatan yang ditaruh di laci kamarnya. Sebenarnya selama ini adikku merasa sangat pesimis akan hidupnya. Ia selalu tersenyum didepan Ayah, Ibu dan aku hanya karena tidak ingin membuat kami semua khawatir. Ia memendam semuanya sendiri. Ditambah lagi dengan kejadian hari ini, ia berpikir pada akhirnya semua perjuangannya untuk sembuh adalah hal yang sia-sia. Ia merasa sudah tidak diperdulikan lagi. Karena sudah merasa putus asa, ia menenggak banyak obat yang sudah ia kumpulkan. "maafkan aku..." Aku yang baru saja sampai di taman, tidak melihat tanda-tanda kehadiran adikku disana. Aku sungguh merasa bersalah karena melupakan janji hari ini. Karena tidak menemukan adikku di taman, aku segera kembali kerumah. Firasatku tidak enak. "Ibu, apakah Dinda sudah pulang?" "sudah, baru saja masuk ke kamarnya. Ada apa? Kok kamu buru-buru gitu." "nggak Bu, ya udah aku ke kamar Dinda dulu ya." Aku segera pergi menuju kamar Dinda. Aku mengetuk pintunya. Sudah ku ketuk pintu berulang kali tapi masih tidak ada jawaban. Karena tidak ada jawaban aku mencoba membuka pintu kamar adikku, ternyata kamarnya terkunci. Aku langsung panik dan menggedor pintu. "Din... Dinda... tolong buka pintunya... Mas minta maaf lupa kasih kabar ke kamu." "Dinda... Dinda... buka pintunya.." Pintu sudah di gedor dan dipanggil pun masih tidak ada jawaban, hal itu membuatku panik. Aku mencoba mendobrak pintu dengan bantuan supir yang dipanggil Ibuku. Setelah beberapa kali di dorong, pintu pun terbuka. Aku terkejut melihat adikku terbujur kaku dengan mulutnya yang berbusa. Aku lekas berlari memegang adikku, tak kalah paniknya Ibuku langsung pingsan. Saat dirumah sakit, Ayah yang langsung turun tangan untuk menangani adikku. Aku pun turut membantunya. Beberapa saat kemudian, aku harus menerima kenyataan bahwa adikku sudah terlambat untuk di selamatkan. Kami satu keluarga tidak pernah tahu bagaimana keadaan Dinda yang sebenarnya. Akhirnya supir pribadi kami baru berani buka mulut karena selama ini Dinda selalu menyuruhnya untuk tidak memberi tahu pada siapapun keadaannya. Hatiku makin sesak saat mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sejak kejadian itu aku menutup diri dari dunia luar. *** Beberapa waktu kemudian setelah dibujuk Ibuku berkali-kali, akhirnya aku baru mau melanjutkan masa koas yang sempat kutinggalkan. Aku kembali beraktivitas seperti biasanya, namun tetap saja aku terlihat seperti mayat hidup. Tidak memiliki semangat hidup dan belum bisa memaafkan kesalahanku sendiri. "hei, kamu kenapa? Wajahmu kok murung begitu?" Tiba-tiba sapa seorang wanita saat aku sedang duduk sendiri di kantin rumah sakit. Ia menaruh makanannya di mejaku dan menyantap makanannya begitu saja dihadapanku. "Terima kasih ya sudah membantu menyelamatkan Ayahku saat kecelakaan waktu itu." Wanita itu lanjut berbicara dan tersenyum padaku. Aku yang sedari tadi cuek saat wanita itu datang, baru menyadari kalau dia adalah wanita yang menangis tersedu-sedu saat Ayahnya kecelakaan. "iya sama-sama..." jawabku singkat sambil mengangkat nampan makanan dan ingin pergi dari hadapan wanita itu. "hei kamu mau pergi kemana? Namaku Risa. Namamu siapa?" Ucapnya yang membuat langkahku terhenti. "aku Rendra..." Lalu aku pergi dari hadapan wanita itu. Keesokan harinya Risa menghampiriku lagi saat di kantin. "apa kamu menyukai kopi?" "tidak." "kenapa? Aku sangat menyukai kopi." "Tidak suka saja." "Baiklah, bagaimana kalau kita pergi ke kedai kopi yang ada di seberang rumah sakit?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD