Kata orang musim semi itu adalah musimnya orang untuk jatuh cinta. Meskipun di negara yang ku pijak hanya memiliki ada 2 musim, aku tetap bisa merasakan musim semi itu di hatiku. Bagai bunga yang bermekaran indah saat musim ini tiba, perasaan bahagia ini juga ikut bermekar indah saat cinta itu tiba.
"Rendra, kamu mau pesan apa?"
Tanya Risa sambil melihat-lihat menu.
"terserah kamu saja."
"hah... aku benci kata terserah, ya sudah aku saja yang pilih. Mba..."
Ucap Risa mengarahkan pandangan pada penjaga kedai lalu mengangkat tangannya untuk memesan.
Tak lama penjaga kedai datang,
"iya mba mau pesan apa?"
"aku mau pesan 2 kue pie cokelat dan 2 kopi espresso hangat ya."
"baik mba..."
Sementara Risa sibuk memesan makanan, aku sibuk memainkan ponselku. Tiba-tiba Risa memecah kesibukanku.
"boleh aku bertanya?"
"apa?"
"apa kamu sedang patah hati?"
Aku berhenti memainkan ponsel dan mulai menatap bingung Risa.
"kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"
"hei ayolah, matamu tidak bisa berbohong. Apa kamu di selingkuhi? Atau kamu yang ketahuan selingkuh?"
Aku tak bisa menahan tawaku.
"Rupanya kau bisa tertawa juga."
Ucap Risa tersenyum karena akhirnya bisa melihatku tertawa.
"apakah aku terlihat begitu menyedihkan?"
"iya."
"ck... aku tidak selingkuh dan tidak diselingkuhi. Lagi pula aku tidak pernah berpacaran."
Tiba-tiba pesanan kami tiba. Meski begitu, Risa tidak berhenti memberikanku pertanyaan.
"Bagaimana bisa lelaki setampan dirimu belum pernah berpacaran? Lalu kenapa raut wajahmu bisa menyedihkan seperti itu?"
Aku diam sebentar sambil menyeruput kopi yang baru saja di sajikan.
"adikku meninggal."
Ucapan singkatku membuat Risa terdiam.
"ah... maaf. Aku tidak tahu, aku hanya bermaksud menghiburmu saja."
"tidak apa..."
Aku tak menyentuh kue pie yang sudah ia pesankan untukku, aku bangun dan pamit pergi dari Risa.
"aku duluan... terima kasih atas traktirannya."
"hei tapi..."
Ucapan Risa terhenti dan membiarkanku pergi.
Sejak hari itu, esoknya Risa kembali mengajakku ke kedai kopi itu lagi. Hingga akhirnya kami jadi teman mengobrol yang akrab. Rasa kehilangan adikku perlahan mulai memudar semenjak Risa datang dalam hidupku.
Di lain hari, aku dan Risa bertemu kembali di kedai kopi tersebut.
"Risa, kali ini aku yang akan mentraktirmu."
"Benarkah? Baiklah...hehe..."
"kau mau pesan apa?"
"seperti biasa. Itu menu favoritku disini."
"kue pie cokelat dan kopi espresso?"
Risa mengangguk pelan sambil tersenyum padaku.
Namun tiba-tiba senyumnya segera lenyap, tangannya terlihat tak bisa diam sejak tadi, seolah ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan padaku.
"apa yang mau kau katakan?"
Risa diam sejenak, ia melirik ke arahku sebentar. Ia terlihat agak ragu untuk memulainya.
"adikmu laki-laki atau perempuan?"
"perempuan. Namanya Dinda..."
"hmm nama yang cantik... adikmu itu wanita yang seperti apa?"
"dia wanita yang luar biasa."
"kenapa adikmu bisa meninggal?"
Satu pertanyaan Risa membuat jantungku berdetak kencang. Rasa gugup dan bersalah mulai menghantuiku kembali. Tak sadar dahiku telah dipenuhi oleh keringat. Melihatku terdiam, Risa kembali berbicara.
"kau tak apa? Kalau kau belum siap untuk bercerita, kau tidak perlu menjawabnya."
Ucap Risa sambil perlahan memakan kue pie cokelatnya.
"dia meninggal karenaku..."
Alisnya berkerut, namun dia hanya diam. Ia seperti tahu aku akan melanjutkan perkataanku.
"di hari Ayahmu kecelakaan, sebenarnya aku memiliki janji dengannya. Karena saat itu aku harus melakukan operasi, aku lupa memberi kabar pada adikku. Ia menungguku disana sampai hari sudah gelap. Saat aku buru-buru pulang kerumah untuk segera menemuinya, ia sudah tergeletak tak sadarkan diri di kamarnya."
Ucapku dengan pandangan lurus ke arah meja.
Mendengar itu, Risa menundukkan wajahnya.
"jadi saat kau berusaha menolong Ayahku dan..."
Ucapan Risa terhenti, air matanya menggenang.
"maaf..."
"Tidak Risa, ini semua bukan karena Ayahmu. Hanya saja aku yang bodoh telah melupakan janji yang sudah kubuat dengan adikku. Lagipula aku ingin mengikhlaskan kepergian adikku, ku pikir kejadian itu lebih baik terjadi daripada aku harus terus menerus melihat adikku tersiksa dengan penyakitnya. Ia terus berpura-pura tersenyum untuk menutupi apa yang ia rasakan, dia menanggung semuanya sendiri. Dia yang sakit tapi malah mengkhawatirkan kami yang sehat. Bodohnya anak itu."
Risa menghela napas panjang. Sedangkan aku mencoba memecah suasana ini dengan mencicipi kue pie cokelat yang sedari tadi aku diamkan.
"pie cokelat ini enak. Sepertinya aku akan terus kesini."
Ucapku sambil tersenyum mencoba mencairkan suasana.
"tapi Ren..."
"sudahlah tidak perlu membahas itu lagi. Hah... kenapa jadi kau yang murung? Makan saja kue pie mu atau lihat saja wajah tampanku ini, rasanya manis dan pasti akan menenangkanmu.haha.."
"hehe kau ini kenapa begitu narsis?"
"tentu saja karena aku memang tampan. Bahkan aku punya julukan world wide handsome di kampusku dulu. Apa kau tidak tahu?"
Ucapku sambil tersenyum jahil padanya.
Risa tertawa lepas mendengar candaku sambil memakan kue pie cokelat miliknya.
***
Suatu hari Risa mengajakku datang kerumahnya. Ia sering sekali bercerita tentang Ayahnya padaku dan dia juga sering menceritakan tentangku pada Ayahnya.
"oh jadi ini yang namanya Rendra, terima kasih ya nak sudah menolong saya waktu itu."
"Om tidak perlu berterima kasih pada saya, saya hanya perantara karena Allah yang menyelamatkan om. Lagipula saya hanya menjalankan tugas dan membantu dokter senior saat proses operasi."
"saya hanya bisa mengucapkan terima kasih pada nak Rendra."
Tiba-tiba Ibu Risa memecah obrolan kami sambil membawa sebuah kue lapis keju,
"wah sepertinya kalian serius sekali bicaranya, kita makan dulu saja ya."
Lalu Risa membantu Ibunya untuk menaruh kue itu diatas meja dan duduk di samping Ibunya. Sedangkan aku berada di seberang meja bersama Ayahnya. Kami pun mulai makan bersama.
***
Tak bisa dipungkiri, aku mulai jatuh cinta pada Risa. Namun aku selalu mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku. Aku takut jika perasaan ini nantinya malah menghancurkan hubungan kami. Aku hanya ingin terus bersamanya. Lagipula mungkin saja hanya aku yang menyimpan perasaan ini padanya.
"aku ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri. Menurutmu bagaimana?"
"wah ide yang bagus, aku akan mendukungmu."
Jawabku dengan senyum yang dipaksakan.
"benarkah?"
"iya, lalu kapan kau akan memulai kuliahmu?"
"Kau sama sekali tidak ingin melarangku?"
"Kenapa aku harus melarangmu? Bukankah itu impianmu sendiri?"
"hmm... iya benar juga apa katamu. Baiklah kalau menurutmu itu baik untukku, aku akan segera pergi kesana. Mungkin minggu depan aku sudah mulai mengurus semua keperluan."
"Sebenarnya aku ingin menahanmu pergi, tapi apa hak ku untuk melarangmu? Namun disisi lain hatiku juga tak rela membiarkanmu pergi dariku."
Batinku merasa sedih.
***
Hari ini adalah waktu kepergian Risa untuk terbang ke Inggris. Aku datang kerumah Risa, ia memintaku untuk mengantarnya ke bandara. Entah kenapa aku ingin berubah pikiran. Aku ingin sekali melarangnya pergi.
"Ren, ayo berangkat."
Ucap RIsa yang sudah siap untuk berangkat dengan membawa koper abu-abunya.
"oh iya.. baiklah."
Seusai pamit pada kedua orangtua Risa, kami pun segera berangkat ke bandara. Selama di perjalanan, suasana di mobil begitu hening. Sambil menyetir aku terus saja memikirkan bagaimana caranya untuk menghentikan kepergian Risa. Terlihat lalu lintas macet seperti biasanya. Dan saat sudah masuk tol jalanan mulai lancar. Aku pun mulai melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
"Risa, kapan kamu pulang dari sana?"
Melirik ke arah RIsa sesekali.
"hahaha kamu yang benar saja, aku belum berangkat kesana kamu sudah tanya kapan aku pulang."
"Bagaimana kalau misalnya kamu tetap disini?"
"hmm... kenapa?"
"karena aku ..."
Ucapanku terhenti karena tiba-tiba ada truk yang tak terkendali dari arah depan.
"Ren, awas !!!"
Seketika aku membanting stir untuk menghindari truk yang lajunya tak terkendali itu. Dan akhirnya kami berdua mengalami kecelakaan.
Aku masih sempat membuka mata dan melihat keadaan Risa dengan kepala yang berlumuran darah.
"Risa... Risa..."
Aku ingin bangkit dari kursi kemudi dan menolong Risa, tapi saat itu keadaanku juga sangat lemah. Kepalaku terasa berat dan langsung tak sadarkan diri.
Tiga jam berlalu, aku sudah berada di rumah sakit. Saat siuman, keluargaku sudah menungguku. Teringat keadaan Risa, aku ingin segera menemui Risa namun tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit. Ibuku menahan tubuhku lalu perlahan membaringkanku kembali.
"Risa dimana Bu?"
"kamu istirahat dulu, Risa ada di kamarnya sedang istirahat."
"aku mau kesana Bu..."
"iya tapi kalau kamu sudah baikan ya sayang."
Ibuku mencoba menahanku dan menenangkanku. Setelah melihatku tertidur pulas karena diberi obat penenang, Ibuku keluar ruangan dan menangis. Sedari tadi ia menahan tangis didepanku.
"sabar bu..."
"Pak, aku tidak tega melihat Rendra hampir kehilangan orang yang dia cintai lagi."
"mau bagaimana lagi, kita sudah berusaha yang terbaik. Kita doakan saja semoga Risa bisa pulih."
"aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku pun tak sanggup melihat Risa dalam keadaan koma seperti itu Pak."
Tangis Ibuku pecah, Ayahku memeluknya untuk menenangkan Ibuku.