“Ya udah, Dan. Gue cabut dulu, ya.”
“Iya, bang. Hati-hati.”
“Yoi. Duluan, ya, Ra.”
“Iya, bang.”
Kevin sudah lebih dulu pergi meninggalkan cafe yang selesai mereka bereskan, menyisakan Zidan dan Aira yang kini juga siap-siap pulang setelah memastikan semuanya aman.
“Zi, malam minggu nih.” tukas Aira, dia tersenyum lebar menatap Zidan yang kini sudah duduk kembali dihadapannya.
Zidan menaikkan sebelah alisnya, menatap tak minat Aira. “Terus?”
Senyuman Aira luntur seketika. Bicara dengan seorang Zidan yang sangat tidak peka membutuhkan waktu lama, dia harus menjabarkan setiap kode an yang dilontarkannya. “Gue pengen tanya, kenapa cafe Lo gak buka sampai malam sih? Ini kan makan minggu. Pasti banyak yang datang.” Aira kadang juga bingung kenapa Zidan tidak membuka cafenya sampai larut malam di malam-malam seperti ini. Cafe sahabatnya ini selalu tutup di waktu yang bersamaan.
“Gak pengen aja.”
“Loh, kok gak pengen sih? Ini tuh peluang namanya, Zi. Dengan Lo buka cafe Lo lebih malam lagi, kan cuan nambah tuh.”
“Dan, gue kehilangan waktu gitu aja?” tanya balik Zidan yang membuat Aira mengerutkan keningnya bingung.
“Maksud Lo?”
Zidan tak lagi menjawab, dia beranjak menyambar kunci motornya yang tergeletak di atas meja. “Balik, yuk!" Ajak Zidan, kemudian melenggang begitu saja meninggalkan Aira yang mendengus kesal dibuatnya.
“Tungguin ...”
Aira segera menghampiri Zidan, menuju motor lelaki itu yang terparkir sedangkan si empunya tengah mengunci cafe. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zidan balik ke motor dan menyalakan mesinnya. Sudah paham dan hapal betul, Aira pun naik ke motor Zidan Dan, motor itu pun melaju meninggalkan cafe membelah jalanan malam yang cukup ramai.
“Pasar malam atau street food?”
Aira membelalakkan matanya, dia tak salah dengarkan. Dia sedikit memajukan tubuhnya, hendak memastikan. “Maksudnya, Zi?”tanya Aira, dia tersenyum lebar.
“Lo mau kemana? Pasar malam atau street food?”
“Jadi, Lo mau ajak gue jalan malam ini?”
“Mau atau enggak?”
“Ya maulah!”
“Jadi?”
“Lo tahu jawabannya.”
Zidan tersenyum tipis. Dan, saat lampu merah berganti menjadi hijau dia kembali melajukan motornya menuju tempat tujuan mereka.
***
Mereka berjalan menyusuri setiap jajanan pedagang kaki lima. Segala aroma yang ada disini, bisa mereka rasakan. Ramainya kerumunan menjadi musik tersendiri di tempat ini.
“Mau apa?”
Aira tak langsung menjawab, dia mendongak menatap Zidan sambil tersenyum lebar. “Kok tahu sih, gue pilih ke street food? Jajan gitu.”
“Perut lebih berarti. Gue lebih milih isi perut daripada naik ini itu.”
Aira menahan senyumnya saat Zidan mempraktekkan apa yang pernah dia ucapkan. Iya, memang begitu. Kalau ada pilihan naik wahana atau makan? Sudah jelas, dia akan memilih makan. Lagipula, dia itu pemakan apapun. Makanan, ya! Jadi, tak ada pantangan apapun untuknya.
“Kita makan pecel lele dulu, terus beli jajanan deh. Gimana?”
“Gak kebalik?”
“Enggak, soalnya kalau beli jajan dulu gue kenyang nantinya. Sedangkan, gue pengen banget makan pecel lele.”
“Yang bayar?”
Aira tersenyum, membentuk senyum aneh di wajahnya yang dibuat sejelek mungkin. Namun, tetap saja terlihat cantik dan menggemaskan di mata Zidan. Tangannya terulur menepuk pelan kedua pipi lelaki itu.
“Ya, bos Zidan dong!”
“Ok.”
“Ingat, ya. 'Kan gue udah bantuin lo tadi di cafe, ini bayarannya.”
“Hm ...”
“Thank you My Zidan ...”
***
“Zi, sumpah, ya. Ini pecel lele kedua terenak yang pernah gue makan. Apalagi sambalnya, enak banget ...”
Aira tak henti-hentinya memuji makanannya, sedangkan Zidan sejak tadi diam menikmati makannya dengan telinga yang senantiasa mendengar apa yang diucapkan perempuan itu. Benar sebenarnya, pecel lele ini enaknya bukan main apalagi sambalnya. Namun, dia bukan Aira yang akan memuji sesuatu karena menyenangkan hatinya. Dia cukup diam dan menikmati saja. Itu cukup baginya.
Zidan mengendarkan pandangannya, tak sengaja mendapati seseorang yang ternyata diam-diam tengah memperhatikan Aira. Sebenarnya tak apa. Tapi, tatapan nakal pria itu pada Aira lah yang membuatnya tak suka. Ditambah sekarang Aira yang sudah membuka jaket denim nya yang tinggal menyisakan crop top yang cukup membentuk tubuh ramping perempuan itu.
Dia beranjak dari duduknya, membuat Aira mendongak menatapnya bingung. Dia hanya menggeleng, melenggang begitu saja menuju tempat mencuci tangan. Dia selesai dengan makannya. Dan, saat dia kembali. Tatapan pria itu masih tertuju pada Aira.
Dia berjalan menghampiri Aira, duduk di samping perempuan itu yang seketika langsung menutup akses pria itu untuk menatap Aira. Dia juga menyampirkan kembali jaket denim perempuan itu pada pundaknya.
“Zi, kenapa?”
Zidan hanya menggeleng. “Udah, Lo makan aja yang tenang.”
Aira bingung, namun dia tak mau banyak tanya. Akhirnya dia hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Sedangkan, kini Zidan menoleh dan kebetulan langsung bertatapan dengan pria yang memperhatikan Aira tadi. Tatapan tajam dia layangkan untuk pria itu yang langsung terlihat gelagapan.
***
“Zi, makasih, ya.”
Zidan mengangguk, dia mengambil kresek putih yang berisikan jajanan perempuan itu. Aira memang seperti itu. Sudah kenyang namun masih ingin jajan. Tapi, berhubung perutnya sudah tak bisa menampung lagi, dia memilih membungkus jajanan tersebut. 'Kan lumayan untuk dimakan nanti pas tengah malam saat kelaparan.
“Nih.”
“Makasih bos Zidan ...”
Zidan hanya berdehem, dia turun dari motornya berniat pergi menuju rumahnya. Dia memang begitu, berhenti di depan pintu gerbang rumah Aira dan akan mendorong motornya menuju rumahnya yang kebetulan bertetangga. Pintu gerbang mereka kan bertetangga.
“Zi,”
“Hm?”
Aira tersenyum menatap Zidan, membuat detakan di dadanya bergemuruh begitu hebatnya.
“Sekarang gue tahu, alasan Lo kenapa gak buka cafe sampai tengah malam.”
Zidan hanya diam.
“Lo benar kalau kita terlalu meraih cuan, kini bisa kehilangan waktu berharga. Dengan Lo buka cafe sampai tengah malam di malam-malam kayak gini. Itu artinya Lo harus siap kehilangan waktu sama orang-orang berharga. Gak cuma Lo yang kehilangan waktu itu, tapi karyawan Lo juga. Benar 'kan?”
Zidan tersenyum tipis, sangat tipis. Dia mengacak rambut Aira dengan gemasnya.
Aira tersenyum, dia menatap lekat Zidan. “Berarti, gue salah satu orang berharga buat Lo?”
Aira menatap cukup lekat dan lama Zidan yang masih diam dengan pertanyaannya, dia menunggu harap-harap cemas. Sudut bibirnya bahkan terasa bergetar kini.
“Sedikit.”
“Gakpapa, 'kan lama-lama jadi bukit. Gede.”