02. Cocok, ya sama Zidan [2]

1521 Words
“Zi,” Zidan menaikkan sebelah alisnya, dia menatap Aira yang duduk disampingnya. Perempuan itu telah selesai membereskan semuanya dan sudah siap untuk pulang. “Kita gak pulang bareng, ya.” “Kenapa?” “Mau pulang sama Raka. Gakpapa kan?” tanya Aira, dia tersenyum lebar. Zidan terdiam, dia hendak melarang namun dia tak mau membuat Aira curiga karena dirinya sering membuat perempuan itu tak jadi pergi dengan laki-laki lain. “Kalau gue bilang jangan, gimana?” tanya Zidan dengan begitu datarnya. “Kenapa jangan? Alasannya apa?” Zidan punya alasan, yaitu dia tak suka Aira berdekatan dengan laki-laki lain. Tapi, dia tak mungkin mengatakannya begitu saja. Dia tak mau sampai rasa sukanya pada perempuan itu menghancurkan semuanya. Dia mengendikan bahunya. “Ya udah.” putus Zidan kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Aira yang hanya menghela napas menatap kepergian lelaki itu. Zidan melangkahkan kakinya menyusuri koridor menuju parkiran siswa. Dia bisa merasakan begitu banyak sekali tatapan yang tertuju padanya. Dia Zidan, manusia yang tak peduli dengan pendapat orang. Jadi, dia berjalan biasa saja tanpa merasa terganggu sedikitpun. Toh, sebenarnya itu sudah biasa dia terima. “Zidan!” Zidan menghentikan langkahnya saat namanya dipanggil, dia menatap Jihan yang berjalan menghampirinya. Alisnya dia naikkan sebelah, mulutnya terasa malas hanya untuk sekedar bertanya. “Aira mana?” “Sama Raka.” Jihan mengerucutkan bibirnya. Dia ada perlu dengan kelompoknya yang kebetulan bersamaan dengan Zidan dan Aira juga. Dia ragu hendak mengatakannya, tak ada Aira disini. Lagipula, dia tak terlalu dekat juga dengan Zidan meksipun mereka sering kali satu kelompok bersama. Melihat kegusaran Jihan membuat Zidan bertanya. “Ada apa?” tanya Zidan, dia bertanya demikian karena Jihan yang terlihat ragu-ragu berkata padanya. Jihan tersentak, dia menyodorkan kertas bertuliskan semua hal yang harus mereka kerjakan. Zidan diam, menunggu apa yang akan diucapkan Jihan selanjutnya. “Lo ingatkan tugas kelompok dari Pak Young. Ini kan tugas kelompok dan deadline nya besok siang. Sedangkan kita belum ngerjain sama sekali. Edo hari ini gak masuk sekolah, dia sakit. Jadi, kita bertiga harus ngerjain sekarang.” Zidan terdiam, nampak mempertimbangkan. “Ya udah, kita kerjain.” “Dimana?” ”Rumah gue aja, kebetulan gue punya alat print.” Jihan mengangguk kikuk, “Oke. Ya udah, nanti gue langsung ke rumah lo.” “Lo bawa kendaraan? “Gue pesan ojol.” “Bareng gue aja.” Jihan terkejut. Dia tak salah dengarkan? Zidan baru saja menawarinya tumpangan? Tunggu, itu tawaran atau perintah sebenarnya? Entahlah, yang jelas dia terkejut mendengarnya. Padahal Zidan anti sekali dengan namanya perempuan, terkecuali Aira, ya. Tapi, lelaki itu mengajaknya begitu saja. Meskipun dengan wajah datar seperti biasa. “Tapi ...” “Biar cepat, buruan!” Dan, tak ada yang bisa Jihan lakukan selain mengangguk. Dia yakin, kepulangannya dengan Zidan kini bisa menjadi trending topic di sekolah mereka. Dia yang merupakan perempuan kedua yang dibonceng Zidan selain Aira. Oke, Jihan. Kita lihat besok akan seramai apa. *** “Kenapa?” Aira tersentak, dia tersenyum menatap Raka. Raka ini salah satu anak basket, most wanted sekolah juga. Cowok yang juga diincar para siswi di sekolah mereka. Tubuh jangkung, kumis tipis dan kulitnya yang eksotis. Benar-benar pujaan semua wanita, termasuk dirinya. Meskipun kalau disandingkan dengan Zidan, mereka sama saja. Ada nilai plus untuk keduanya. Zidan dengan lesung pipinya dan Raka dengan sikap humorisnya. Aira menggeleng, tersenyum. “Enggak, gakpapa kok.” bohong Aira, dia masuk ke mobil Raka. Lelaki itu ternyata romantis juga, membukakan pintu untuk dirinya. Sebenarnya, pikirannya masih mengingat apa yang dilihatnya tadi. Jihan, temannya yang pergi bersama Zidan. Sebuah kemajuan disaat Zidan mau memboncengi orang lain selain dirinya. Dia senang, seharusnya. Tapi, entah kenapa dia merasa risih melihatnya. No ... Dia seharusnya tak risih. Ya, dia senang. Senang! “Jadi, kita mau nonton apa hari ini?” tanya Raka, dia melirik sekilas Aira dengan senyum mempesonanya. Oh, iya. Mereka berniat pergi menonton di bioskop, rencana ini untuk mengganti rencana malam Minggu yang gagal karena Aira membatalkannya yang entah karena apa Raka tak tahu. Karena itu pula, Aira tak pulang dengan Zidan seperti biasa. “Kita nonton—” Ting! Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Aira menghentikan ucapannya, dia menatap tak enak Raka. “Bentar, ya.” ucap Aira, dia menatap ponselnya yang menunjukkan sebuah pesan dari Jihan. Pesan yang mengatakan kalau mereka harus mengerjakan tugas kelompok untuk deadline besok siang. Aira meringis, menatap tak enak Raka yang kini mengerutkan keningnya. “Kenapa?” “Sorry, ya, Rak. Kayaknya kita gak jadi lagi deh.” “Why?” “Gue lupa, gue harus kerja kelompok sekarang sama Jihan di rumah. Sorry banget ...” Raka kecewa, namun mau bagaimana lagi. Dia tak mungkin memaksa, bisa ilfeel Aira padanya. Belum apa-apa sudah memaksa, belum ada status sudah melarang. Akhirnya yang dia lakukan hanya mengangguk, mengiyakan. “Ya udah, gue anterin Lo pulang aja, ya.” ucap Raka yang tentunya diangguki Aira. *** Aira bergegas keluar dari rumahnya, berlari menuju rumah Zidan setelah seragam atasnya dia ganti dengan kaos. Dia tersenyum, menyapa bunda Zidan yang tengah mengurus tanaman dihalaman depan rumah seperti biasa. “Sore, Ibun ... Zidan ada kan, Bun?” “Sore, Ra. Ada kok, di dalam sama temannya. Lagi ngerjain tugas katanya. Kamu juga mau?” Aira mengangguk. “Iya, Bun. Kita kan satu kelompok. Cuma, tadi aku urusan bentar jadi telat deh.” Bundanya Zidan mengangguk-angguk. “Yaudah, sekalian nanti kamu ajak makan dulu ya, Zidan sama Jihan. Soalnya bunda udah ajak, malah nanti-nanti.” “Siap, ibun! Ya udah, Ara masuk, ya.” “Iya.” Aira segera bergegas masuk, dia berjalan menuju ruang keluarga, tempat dimana biasanya Zidan membawa teman-temannya. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat betapa seriusnya mereka berdua. Apalagi dengan kecerdasan Jihan dan ke fokus an Zidan pada suatu hal. Mereka berdua bahkan terlihat sangat dekat, dekat sekali. Senyuman pun tercetak di bibirnya. Entah apa maksud dari senyumannya ini, senang atau miris. Dia tak tahu. Tapi, entah kenapa dia enggan menghampiri mereka. Mengingat, momen langka seorang Zidan berdekatan dengan perempuan lain selain dirinya. “Gue cabut aja deh.” gumamnya pelan. Baru saja dia hendak pergi, namanya sudah dipanggil terlebih dahulu. “Ai,” “Aira ...” Aira tersentak, dia langsung tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya. Dia langsung berlari pelan menghampiri mereka saat Jihan memintanya menghampiri mereka, kemudian duduk disamping Jihan yang lesehan diatas karpet berbulu lembut itu. “Lo darimana aja sih? Lama banget.” “Ya, sorry Zi. Tadi jalanan macet banget.” “Alasan.” Aira mengerucutkan bibirnya. “Sorry lah ... Ya udah, mana nih yang harus gue kerjain?” “Udah mau selesai kali. Tinggal bikin print out aja.” jawab Jihan. “Yah ... Gimana dong?” “Kebiasaan! Ya udah, nanti besok Lo aja yang persentasi ke pak Young. Nanti gue kirim file aslinya.” ucap Jihan yang tentunya diangguki Aira. “Nah, boleh-boleh. Nanti gue baca-baca dan gue akan mempresentasikan dengan baik hasil kerja kalian.” “Ya udah, selesai deh. Tinggal di print aja.” “Ya udah, mana sini.” “Eh, makan dulu, yuk! Kata Ibun harus makan dulu, udah di siapin.” ajak Aira, dia mengajak dengan semangat mereka berdua. Seolah disini dia tuan rumahnya dan Ibun adalah bundanya. Padahal bukan. “Eh, enggak deh. Gue pulang aja, ya. Di rumah pasti nyokap gue udah masak juga.” tolak Jihan, dia sebenarnya mau saja. Tapi, mengingat Mama nya di rumah yang pasti sudah memasak kan makanan untuknya, di menolak. “Yah ... Sayang banget.” “Next time aja, ya." Ucap Jihan, dia membereskan semua buku-bukunya kemudian beranjak. “Ya udah, gue cabut, ya. Itu jangan lupa, besok bawa.” lanjut Jihan sambil melirik Zidan yang tengah mem print out hasil kerja kelompok mereka. Zidan hanya berdehem, mengangguk. “Ya udah, yuk gue antar!” Aira mengantar Jihan ke depan, menghampiri bunda yang baru selesai dengan tanamannya. “Tante, aku pulang dulu, ya. Makasih sebelumnya udah ditawarin makan disini. Tapi maaf. Aku gak bisa tante. Takutnya di rumah Mama udah masak makanan buat aku.” Bunda Zidan tersenyum simpul, menatap takjub Jihan. “Ya ampun ... Iya, gakpapa. Tante ngerti kok. Pasti kamu gak mau bikin Mama kamu kecewa kan karena makanannya nanti gak dimakan? Tante ngerti kok. Tapi, lain kali bisa kan makan disini? Kamu suka nya apa? Biar Tante masakin kalau kamu kesini lagi.” Aira hanya bisa diam dan tersenyum menatap bagaimana senangnya Bunda Zidan pada Jihan. “Apa aja Tante, aku gak pilih-pilih orangnya.” “Ya udah, nanti Tante masakin menu andalan tante.” “Makasih, Tante. Ya udah, aku pamit, ya. Ojol nya udah di depan. Assalamualaikum ...” “Waalaikumsalam, hati-hati, ya ...” “Iya, tante.” Aira dan Bunda Zidan menatap kepergian Jihan sampai perempuan itu tak terlihat lagi bersama ojol tersebut. Aira memutar tubuhnya menghadap Bunda Zidan yang terlihat begitu senang. “Ibun kayaknya senang banget?” “Iya, dong. Bunda senang, Zidan dekat sama perempuan lain. Kan, selama ini bunda lihatnya Zidan sama kamu terus. Dan ... Jihan kayaknya baik, ya. Sopan gitu anaknya.” Aira tersenyum kikuk, dia mengangguk. “Iya, bun.” “Cocok, ya sama Zidan.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD