Obat Tidur

754 Words
"Aku pergi dulu, Kak." Aku dan Cinta mengintip di depan pintu. Kami sama-sama berpandangan, sudah siap untuk mengikuti Sifa. Tadi, aku sudah mengembalikan ponsel Mas Seno. Dia sama sekali tidak curiga, kembali membaca majalah di tangan. "Sampein salam, ya." Memang benar-benar menyebalkan. Mas Seno membiarkan Sifa keluar malam-malam, untuk bertemu wanita simpanannya. Cinta menoleh ke aku, kemudian mengangguk. Sudah saatnya sekarang, kami yang meminta izin. "Pa, Cinta sama Mama pergi ke supermarket dulu, ya. Mau beli perlengkapan kemping." Tanpa ragu, Cinta meminta izin. Dari wajahnya benar-benar meyakinkan. Mas Seno berdeham. "Yaudah, Papa ikut, deh. Biar sekalian makan di luar." Eh? Aku mengaduh dalam hati. Mas Seno memang sering ikut, kalau kami berdua mau belanja. "Gak usah, Pa. Cinta mau sama Mama aja." Suamiku itu mengusap tengkuknya, dia dan Cinta sama-sama keras kepala, susah untuk salah satu mengalah. "Yaudah, perginya besok aja, deh." Loh? Aku menatap Cinta aneh. Dia barusan mengatakan itu. Harusnya, kami mengikuti Sifa untuk mengetahui siapa wanita simpanan itu, tapi kenapa tidak jadi? Mas Seno tersenyum, kemudian mengacak rambut Cinta. "Besok aja, kalau besok, Papa izinin sama Mama." Setelah kejadian itu, kami makan di ruang makan. Aku berkali-kali melirik Cinta yang sibuk mengambil makanan dari dalam lemari. "Sifa mana, Mas?" tanyaku sambil menuangkan nasi ke piring Mas Seno. "Pergi. Ketemuan sama teman kerjanya." Oh, Mas Seno berbohong kembali. Aku duduk, menyerahkan piring yang suka berisi nasi dan lauk ke Mas Seno. Cinta tidak terlihat, dia sedang ada di dapur, entah ngapain. Aku mengambilkan makanan untuk Cinta. "Kamu kempingnya berapa lama, Cin?" tanya Mas Seno, ketika Cinta mengambil sendok di meja makan. "Satu minggu kayaknya, Pa." Terlihat sekali Cinta sibuk di dapur. Aku duduk di kursi, menatap Mas Seno, sedang tidak napsu untuk makan. Mas Seno terlihat tenang. Ponselnya ada di atas meja makan. "Nih, Pa, minumannya." Cinta meletakkan teh s**u ke atas meja, Mas Seno berterima kasih. Selesai makan, aku membereskan piring, sedangkan Mas Seno masih duduk di ruang makan, menghabiskan teh s**u yang dibuat Cinta tadi. "Pa, Cinta sama Mama boleh pergi keluar, 'kan? Gak lama, kok." Sayup-saup terdengar suara Cinta. Aku langsung membilas tangan, berjalan cepat-cepat ke ruang makan. Anak tunggalku itu duduk di samping Mas Seno. Pandanganku menajam, ketika melihat Mas Seno yang terlihat sekali menahan kantuknya. "Pa? Boleh, gak?" Kepala Mas Seno mengangguk-angguk, kemudian dia tidur dalam beberapa detik, kepalanya di letakkan di atas meja. "Yes!" Cinta bersorak pelan. Dia tertawa menatapku. Tidak biasanya Mas Seno tidur jam segini. Pandanganku teralih ke minuman yang dibuat Cinta tadi. "Cuma Cinta kasih sedikit obat tidur, kok, Ma." Cinta mengambil ponsel Mas Seno pelan-pelan. Kemudian berdiri, mengajakku keluar ruang makan. "Itu cara paling cepat, Ma. Bisa satu abad, kalau mau debat sama Papa, buat keluar rumah malam-malam." Kami sampai di ruang tamu. Cinta menyuruhku duduk sebentar, aku menoleh ke jam dinding. Ini baru setengah jam, setelah Sifa pergi. "Kita tetap keluar, Ma. Cinta udah minta izin juga ke Papa tadi." Iya, Cinta memang minta izin saat Mas Seno hampir tertidur. Sepertinya, Mas Seno mengiyakan saja tadi. "Ayo, Ma." Masalahnya, kami akan kemana? Tidak ada tujuan. Aku mengunci pintu rumah, menyusul Cinta yang sedang menunggu taksi. "Kita kemana jadinya?" tanyaku saat kami sudah naik taksi. Untung masih ada taksi yang lewat. "Sebentar, Ma." Cinta menghidupkan ponsel Mas Seno, aku ikut memperhatikannya ketika membuka aplikasi pesan. Anakku itu menekan kontak milik wanita simpanan itu, kemudian mengetikkan pesan. [Sayang, kamu sama Sifa lagi dimana?] Terkirim. Beberapa detik, Cinta menoleh ke aku. "Papa lebay kayak gitu, gak, ya, Ma? Kok Cinta geli sendiri." Aku tertawa. Melihat ketikan tadi, memang terdengar aneh. Terdengar dering ponsel. Cinta langsung membuka pesan yang masuk. [Rumah makan dekat kompleks perumahan kamu. Kamu mau kesini, Yang?] [Enggak, cuma nanya aja. Dadah, Sayang.] Tidak lupa Cinta menyelipkan emoji hati di akhir pesan. Kami sama-sama berpandangan, kemudian tertawa geli. Cinta menyebutkan tempatnya, supir taksi langsung mengangguk, melanjutkan perjalanan. Hanya butuh waktu lima belas menit. Aku membayar ongkos taksi. Kami berdua melangkah ke halaman rumah makan. Cinta menyerahkan kerudung hitam untukku. Kami masuk ke dalam, mengedarkan pandangan sejenak. "Itu, Ma," bisik Cinta sambil melirik ke arah dua wanita yang sedang tertawa. Aku mengangguk. Kami berjalan ke lokasi yang strategis—kelihatan, juga terdengar percakapan mereka. Namun, kami tidak terlalu mencolok. Anakku langsung mengeluarkan ponsel, dia membuka aplikasi kamera, memperbesar ukuran foto. Dari sini, memang tidak terlalu jelas, hanya wajah Sifa yang terlihat jelas. "Ini, Ma, fotonya." Aku menerima ponsel dari Cinta. Dia berhasil mengambil gambar wanita itu. Terdiam sejenak ketika melihat foto itu. Aku mengusap wajah, kemudian menatap Cinta. "Wanita ini—" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD