"Astaga!" Mas Seno bergumam di sebelahku, dia mengusap wajah. Aku rasa, Mas Seno malu sekali dengan ulah Anggun. Aku tersenyum, kemudian Melarang mas Seno yang hendak menghampiri Anggun. "Biarin aja, Mas. Pulang, yuk. Udah malam." "Pulang sendiri aja sana. Mas mau ada urusan penting." Eh? Aku buru-buru mencengkeram tangan Mas Seno. Dia tidak boleh pergi. Sesekali, aku melirik Anggun yang sudah berdiri. Tidak ada yang mau membantunya. Padahal, Anggun memakai pakaian lumayan bagus hari ini. "Ada Mama kamu di rumah, Mas. Aku tadi kesibu buat jemput kamu." Kali ini, Mas Seno tidak memberontak. Dia menatapku sebentar, kemudian menoleh ke Anggun. "Ayo, Mas." Aku menariknya. Cinta sudah memberikan instruksi untukku mengajak pulang Mas Seno. Dia dan Devan yang akan mengurus Anggun d

