Bab 9

985 Words
"Aduh, maaf, ya, Tante. Cinta sengaja." Sifa dan Anggun langsung menoleh ke Cinta, ketika mendengar permintaan maafnya yang cukup ganjil. Cinta nyengir. "Maksudnya gak sengaja, Tante." Anak perempuanku itu mengambil tisu, membantu Sifa dan Anggun membersihkan pakaian. Aku langsung berdiri, kemudian berjalan ke kasir, membayar minuman, dan keluar dari rumah makan. "Ma! Ayo pulang." Cinta langsung memberhentikan taksi, menggandeng tanganku. "Ini akun f*******: punya si Tante Anggun itu, Ma. Kita lihat foto-fotonya." Cinta dengan lincah menggulir layar ponsel, kemudian menunjukkannya padaku. Ada satu foto wanita dan pria. Sayangnya, mereka menghadap ke belakang, tidak terlalu jelas. Aku menghela napas, menyenderkan punggung ke sandaran kursi. Tidak perlu lagi menebak, sudah pasti itu si Anggun dan Mas Seno. Yang masih menjadi pikiranku sekarang. Siapa Anggun? Aku benar-benar tidak asing dengan wajahnya. Hanya saja, aku tidak mengingatnya. Nanti di rumah aku akan mencari tahu datanya. Kami sampai di rumah. Aku membayar ongkos taksi, kemudian berjalan melewati halaman rumah. Sifa bilang pada Cinta, dia akan pulang sebentar lagi. Biarkan sajalah. "Itu Papa dibiarin tidur disitu aja, Ma?" Aku menoleh sebentar ke ruang makan. "Biarin ajalah. Memangnya kamu mau mindahin ke kamar?" Cinta nyengir, kemudian menggaruk kepalanya. "Ya, enggak mau lah, berat." Saat hampir melangkah ke kamar, aku terdiam. Kembali menoleh ke ruang makan. "Kenapa, Ma?" Cinta juga ikut berhenti, mengikuti arah pandanganku. "Kalau Papa kamu kena demam berdarah gimana? Kan, lebih ribet dibandingkan mindahin." "Iya juga." Kami diam beberapa menit. Akhirnya, aku mengangguk. Kami akan memindahkan Mas Seno ke kamar. Di ruang makan kalau malam, banyak sekali nyamuknya. Sudah berbagai cara kami mencoba memindahkan Mas Seno. Tetap saja kalah. Dua lawan satu, badan Mas Seno terlalu besar. "Cinta punya ide, Ma." Aku menoleh ke Cinta yang langsung berlari keluar ruang makan. Entah ngapain dia. "Kamu makan apa, sih, Mas? Berat banget." Walaupun ditendang ke luar angkasa juga Mas Seno tidak bangun-bangun. Aku mengambil dompet di saku celana Mas Seno. "Minta uang, ya, Mas. Habisnya, kamu kasih aku uang cuma sedikit bulan ini." Aku menarik beberapa lembar uang merah, menyisakan satu lembar. Beberapa detik berpikir, akhirnya aku mengambil semuanya. Hanya saja, ATM Mas Seno tidak ada di dompet. Sepertinya, Mas Seno sengaja tidak menyimpan ATM di dompet. "Pasti di ATM, uang kamu masih banyak, Mas. Daripada uangnya kamu kasih ke pelakor, mendingan aku ambil." Cinta datang, dia membawa satu ember air. Aku menahan tawa saat menerima ember darinya. "Bangunin aja sekalian, Ma." Aku mengangguk, mengangkat satu ember. Dengan gerakan cepat, aku mengguyur Mas Seno. Air langsung membasahi Mas Seno, kemudian mengalir ke lantai. "Banjir! Tsunami! Badai!" Kami berdua berpandangan. Mas Seno mengangkat kedua tangannya. Berteriak-teriak. "Maka nya, jangan tidur di ruang makan, Mas." Aku meletakkan ember, kemudian melangkah meninggalkan ruang makan. Jujur saja, aku sebenarnya ingin meminta cerai dari Mas Seno sekarang. Hanya saja, kehidupanku dan Cinta masih belum terjamin nantinya. Sempat ada rencana untuk membuat toko kue. Biar besok aku tanyakan pada Mas Seno. Aku ingin secepatnya toko itu dibangun. *** Aku menoleh ke samping. Menatap Mas Seno yang sudah terlelap. Sepertinya, obat tidur itu masih bekerja. Beberapa detik, aku menghela napas. Sejak dulu, aku memang bergantung dengan Mas Seno. Sekarang, aku malah menyesalinya. Tanpa persiapan apa pun—meskipun kini aku sudah memiliki rumah dan beberapa tanah atas kepemilikanku, tetapi aku masih belum punya persiapan. Apalagi, sekarang sekolah Cinta biayanya semakin besar. "Ma!" Eh? Aku menoleh ke pintu. Cinta berbisik memanggilku. Kenapa? Aku langsung berdiri, berjalan ke arah Cinta. Anakku itu langsung mengajakku ke ruang tamu. "Kenapa, Sayang?" Sifa sudah pulang sejak tadi. Adik iparku itu langsung masuk ke kamar, dia hanya melirikku, ketika lewat. "Si Tante Anggun udah masuk perangkapku." Aku menatap Cinta lekat-lekat. Dia mengangguk, kemudian menyerahkan ponselnya padaku. [Halo, cantik.] [Hai.] [Masih jomlo gak, nih? Cantik banget.] [Masih, dong. Kamu juga ganteng.] [Oh, ya? Makasih, lho. Kapan-kapan ketemuan, ya. Udah gak sabar mau lihat muka kamu.] [Sekalian aja lamar aku. Kamu juga kayaknya kaya.] Kepalaku langsung menoleh ke Cinta. Dia mengangguk padaku. "Yang nyapa duluan Cinta, Ma. Yang balas ya, si Tante Anggun." Aku berdecak kagum. Cinta berhasil memancing Anggun. Dari pesan ini, dapat disimpulkan, kalau Anggun adalah wanita yang haus dengan kekayaan. "Terus, rencana kamu selanjutnya apa?" tanyaku sambil kembali memperhatikan ponsel. Cinta mengirimkan pesan di aplikasi biru. Dia membuat sebuah akun. Aku menekan akun Cinta. Ada foto cowok disana. "Mengumpulkan bukti, sekaligus buat wanita itu melepaskan Papa. Sekalian biar Papa tahu, selingkuhannya itu bukan wanita baik-baik. Wanita kayak Tante Anggun gak akan pernah bisa diajak bicara baik-baik, Ma. Dia maunya menang sendiri. Merasa dirinya udah benar." Aku terus-terusan menatap Cinta. "Dia juga harus ngerasain sakit hatinya Mama." Eh? Cinta mengatakan itu menggebu-gebu. "Terus Papa kamu?" "Ya, lepasin lah, Ma. Hubungan Mama sama Papa udah susah untuk dipertahanin lagi." Aku mengangguk. Itu memang benar. Mataku terus memperhatikan akun milik Cinta. Beberapa detik, aku baru tersadar foto cowok yang dipakai oleh Cinta. "Ini foto Om Devan, 'kan?" Cinta nyengir, kemudian mengangguk. "Habisnya, Cinta bingung mau pakai foto siapa, Ma." Foto ini efeknya luar biasa. Devan—adik laki-lakiku, menjadi putih, bersih, dan tentunya terlihat ganteng. Padahal, aslinya tidak seganteng ini. Siapa juga yang tidak tertarik, kalau melihat foto Devan yang satu ini. "Efeknya mantap, paman kamu jadi lebih ganteng. Kamu udah bilang belum sama Om Devan?" Anakku mengangguk. Dia tertawa pelan. "Kalau Papa bisa kerja sama dengan Tante Sifa, masa kita juga gak bisa kerja sama dengan Om Devan." Aku menatap Cinta. Dia semakin besar, pola pikirnya sudah dewasa. "Sejak awal Cinta tau, sejak itulah Om Devan juga tahu, Ma. Bahkan, Om Devan udah mau nerkam Papa." Cinta memang dekat dengan Devan. Devan seumuran dengan Sifa, hanya saja dia sudah menikah dan sekarang sudah menjadi duda. Istrinya meninggal satu tahun yang lalu. "Bahkan, Om Devan nawarin bantuan, Ma. Mama tanya aja, deh, sama Paman nanti." Aku mengangguk. Tidak kepikiran juga untuk memberitahukan Devan, justru Cinta yang duluan memberitahukan adikku itu. "Ma." Pandanganku kembali teralih ke Cinta. "Kita sama-sama basmi pelakor itu, ya. Kita pasti menang." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD