Lintang memejam erat, ketika mendengar suara yang sudah sebulan ini tidak mengganggunya. Ia mengumpat dalam hati, karena sudah tidak bisa pergi ke sudut mana pun. Sementara Rama yang kini ada di depannya, tetap berdiri di tempat tanpa berniat berlari menghampiri sang papa. “Lintang?” Geraman pelan seketika keluar dari mulut Lintang. Ia mendongak menatap Fajar yang sudah berdiri, dan tampak sedikit bingung. “Tante, ada papa,” kata Rama berbicara pelan, dan kembali mengalungkan satu tangannya di leher Lintang yang masih berjongkok. “Lintang.” Suara tersebut terdengar semakin dekat. Dengan terpaksa, Lintang melepas tangan Rama dari lehernya kemudian berdiri. Tidak ada senyum yang Lintang lempar ketika melihat Raga. Ia hanya menatap datar, seraya mengusap puncak kepala Rama yang berdiri d

