Sinar mentari pagi menyembul malu-malu dibalik tirai jendela, membuat seorang wanita yang sedang bergelung di dalam selimut tebal pun mengerjapkan kedua matanya. Wanita yang tak lain adalah Syafira merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku, perlahan-lahan ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh itu berarti masih ada waktu satu jam setengah untuk Syafira bersiap-siap, langkah kakinya membawa dirinya menuju depan pintu kamar. Dengan perlahan dibukanya kunci itu dan kemudian keluar dari kamar menuju dapur. Seperti biasanya, sebelum ia berangkat ke kantor ia akan membuat sarapan untuknya dan untuk Relix. Terlepas dengan semua kesibukannya itu, Syafira tetaplah seorang istri yang memiliki kewajiban menyiapkan kebutuhan suaminya. Tangannya dengan

