Dilema

555 Words
Bian menatap gadis berjilbab itu keluar dari ruangannya. Melihat gadis itu menggelengkan kepalanya, Ia coba menerka apa yang dipikirkan gadis itu ketika mendengar pertengkarannya dengan Ristie. Ia pasti berfikir, aku orang yang lemah, mungkin seluruh karyawan di kantor pusat ini menganggapnya lelaki yang lemah. Tapi siapa yang perduli penilaian gadis itu atau mereka? Bian menghela nafas panjang. Ia merasa tidak bisa berfikir. Ia memang sangat mencintai Ristie, ia tidak ingin membuat Ristie kecewa. Bian rela melakukan apapun yang dinginkan Ristie tanpa berfikir, ia tak pernah perduli tatapan aneh dan cemoohan bawahannya saat ia meninggalkan rapat penting di perusahaannya atau membatalkan meeting dengan klien saat Ristie memintanya untuk mengantar kemanapun yang gadis itu mau, bahkan meski cuma untuk merapikan penampilannya di salon! Tapi saat ini ia merasa tak berdaya, Ristie memintanya untuk menemani menghadiri launching produk perancang busana favoritnya sementara klien yang ingin ditemuinya nanti malam Mr. Robert memintanya untuk bertemu langsung dengannya dan tidak boleh mewakilkan kepada siapapun untuk pertemuan yang akan membahas kesepakatan proyek bernilai triliunan itu. Bian merasa kepalanya pusing, ia tidak pernah menolak permintaan Ristie karena itu Ristie selalu bersikap manis padanya tapi penolakannya tadi berujung pada kemarahan Ristie. Sialan! Sementara itu Mumut telah keluar dari ruangan sang Presdir, ia membereskan peralatannya kemudian menuju pantry. Ia membuka lokernya kemudian mengambil sebuah buku dan membacanya. Mumut kemudian mencoret-coret di buku tulisnya membuat resume dari buku yang dibacanya, malam nanti ia bermaksud menemui dosen pembimbing untuk berkonsultasi revisi skripsinya. Mumut sama sekali tak memperhatikan kalau ada salah satu Office Boy yang duduk di sebelahnya. Lelaki itu bernama Hari dan sudah lama suka pada Mumut tapi gadis itu tak pernah menanggapinya. Hari lumayan tampan dan banyak perempuan yang suka padanya. "Rajin amat, Mut," "Eh, kak Hari. Lumayan. kak daripada bengong," "Nanti malam ada acara, nggak?" tanya Hari penuh harap. Ia menebarkan senyum termanisnya untuk membuat Mumut tertarik. "Mau konsul skripsi ke dosen, Kak." Mumut bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari buku yang dibacanya. Ugh... Hari mengeluh dalam hati, betapa sulitnya mendapat perhatian dari gadis ini. Mumut bukan tipe gadis kebanyakan yang suka ngerumpi ketika ada waktu luang. Ia lebih suka membaca entah itu membaca buku atau membaca Al-Quran. "Sudah skripsi, ya? Sebentar lagi Sarjana, dong!" kata Hari spontan. "Iya, do'akan saja semoga diberi kemudahan dan kelancaran." "Kalau sudah Sarjana mau tetap kerja di sini atau di luar?" "Aku belum tau, kalau ada lowongan maunya sih tetap di sini." Hari menggerutu, dari tadi Mumut tetap pada kegiatannya. Matanya tak beranjak dari buku. "Woiii, jangan pacaran saja! Hari kamu dipanggil Bu Padma suruh ganti galon di ruangannya!" Suara bossy Harti mengagetkan mereka berdua. Harti adalah penanggungjawab Pantry. Hari berdiri dengan enggan, sembari bersungut-sungut ia menuju ruangan bu Padma. Harti menatap Mumut yang tampak sedang asyik menulis-nulis di atas bukunya. "Mut, antar nih, minumannya pak presdir ke ruangannya!" kali ini ia memerintah Mumut. Ia meletakan sebuah nampan dengan cangkir berisi kopi di atasnya. Ia selalu melimpahkan tugas itu pada Mumut karena ia ingin bersantai. Harti tak pernah suka kalau ada orang yang menganggur selain dirinya, meski begitu dia sangat baik kepada Mumut bahkan sangat mendukung keinginan Mumut untuk kuliah, dia juga sering membantu Mumut karena Mumut tidak keberatan membantu Harti membawakan minuman Presdir ke ruangannya. Mumut segera merapikan barang-barangnya dan meletakkan semuanya di loker kemudian tanpa bicara dia segera membawa nampan beisi minuman itu ke ruang Presdir. *** AlanyLove
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD