Bab 8 : Berita Besar

2279 Words
“Anda orang baik Tuan Tom. Anda tak bisa melupakan kejadian 2 tahun silam itu, kejadian itu terus dan terus membayang di kepala Anda, seolah kejadian itu telah menghantui Anda. Anda tak akan bisa konsen mengurus rakyat Anda jika terus menyelam di lubang ingatan kelam itu. Kinerja Anda tak akan baik, perlahan demi perlahan, aib itu tetap akan terbongkar. Kenapa bisa? Jawabannya adalah orang-orang di masa lalu. Saksi-saksi yang menyaksikan langsung kejadian 2 tahun silam itu, tak semuanya akan tetap diam setelah melihat Anda nampak sukses. Lihat! Pembunuh itu kini menjadi seorang gubernur? Lihat?! Semua orang memujinya, mengagung-agungkan dia, lalu mereka melihat diri mereka sendiri di depan kaca, terdiam, kenapa orang baik tidak bisa sukses dan hidup mapan seperti pembunuh itu? Dan akhirnya... mulut mereka terbuka lebar untuk menceritakan kejadian 2 tahun silam itu. Anda bisa lihat sekarang, ini buktinya, saya tau kejadian itu dengan rinci bukan? Padahal saya tak pernah datang ke bar itu, padahal... Anda masih kandidat, belum menjadi seorang gubernur." Tom tertekuk. Benar perkataan Ray. "Tuan, manusia itu adalah makhluk yang selalu mengundang kecewa. Semua penyakit yang sulit dihilangkan, yang tak ada obat medisnya, semua datang dari manusia. Contohnya, patah hati, iri dengki, dendam kesumat." Ray tertawa kecil, lagi-lagi sengaja membuat suasana tidak terlalu kelam. "Lidah manusia itu berbahaya Tuan, dan apa yang lebih berbahaya lagi? Hatinya. Jika seorang manusia punya penyakit hati, lidahnya tak akan pernah bisa berhenti menceritakan semua hal buruk tentang si penyebab penyakit hatinya." "Anda sangat tau sekali itu bukan, Tuan Tom?" Tom terdiam. Tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. "Saya ada satu solusi, sebab Anda adalah orang baik, jadi saya akan membantu Anda." Tom mendongkakkan kepalanya, menatap heran Ray. "Anda mau mendengarnya Tuan Tom?" Tom mengangguk kecil. "Baiklah." Ray tersenyum tipis. "Sebaiknya, Anda mengundurkan diri saja di pencalonan gubernur nanti, minta maaflah pada istri Anda dan terkhusus, adik tiri Anda. Jika adik tiri Anda mau memaafkan Anda, urusan ini rasanya tak perlu dibawa ke pengadilan? Itu jika adik tiri Anda tidak menuntut. Jika ia menuntut? Maka terimalah hukuman Anda. Hal itu tak bisa saya campur tangani. Dan tentang pertanyaan-pertanyaan publik nanti, kenapa sang kandidat utama sampai mengundurkan diri? Saya bisa mempublikasikan bahwa Anda terjerat skandal pembunuhan 2 tahun silam. Sebagai penebus rasa bersalah Anda pada kepercayaan publik. Cukup sampai di situ, tak perlu sampai mengungkit hal lainnya, dan untuk membelah fokus masyarakat pada berita Anda, saya akan memunculkan berita baru yang tak kalah epiknya agar berita Anda cepat terlupakan." "Atau jika Anda serius untuk menebus kesalahan Anda ini, Anda bisa menyerahkan diri langsung ke kantor polisi. Dan masyarakat akan menaruh respek pada Anda, sebab Anda bersedia mengakui kesalahan yang sudah lama berlalu dan tidak diketahui publik-- yah... walau tidak semua orang akan berpikir sepositif itu." Tom diam sejenak, berpikir. "Apa Anda berpikir saran saya ini sama sekali tidak ada gunanya Tuan Tom? Tidak menyelesaikan masalah bukan? Jika seperti ini, sebaiknya Anda menyerahkan diri dari dulu saja, tak perlu menunggu sampai nama Anda senaik ini." Ray tertawa kecil. Tom menggeleng. "Kenapa Anda sampai membantu saya sebegininya Tuan Ray?" Mata Tom memerah, menahan kesedihannya. Ray tersenyum tipis. "Karena Anda orang baik, Tuan." Tom menggeleng. "Saya bukan orang baik Tuan Ray. Saya sudah memperkosa dan membunuh orang lain, merahasiakan semua ini dari lama agar saya tidak dihukum. Justru Anda lah orang baiknya Tuan, bersedia membantu saya yang bukan siapa-siapa ini. Saya memohon bantuan Anda Tuan Ray, lain waktu saya akan membalas kebaikan Anda. Terima kasih Tuan." Tom mengangguk, berdiri dari duduknya, menjabat tangan Ray. Ray tetap tersenyum tipis, menggeleng, membalas jabat tangan Tom. "Saya bukan orang baik Tuan Tom." Tom tertawa kecil, matanya kini berkaca-kaca, memeluk Ray layaknya seorang sahabat. oOo Hari ini publik ricuh karena mendapatkan berita besar tentang seorang kandidat utama gubernur telah mengundurkan diri dari pencalonannya dan menyerahkan diri ke polisi atas dosa 2 tahun yang lalu. Ditambah dengan skandal perselingkuhan pasangan artis ternama dengan manajernya, sosial media kini penuh dengan kolom komentar, setiap tempat sibuk membahas 2 berita besar itu, termasuk karyawan-karyawan yang sedang di kantor, apalagi ibuk-ibuk di pasar, di gerobak sayur, rempongnya lebih parah lagi. Laki-laki berambut klimis berwarna hitam dengan setelan rapi membungkuk sopan pada Ray. "Selamat pagi Tuan Ray." Ray tak berkedip melihat penampilan baru laki-laki ini, yang seharusnya merupakan penampilan normal laki-laki pada umumnya, namun di laki-laki ini, rasa-rasanya sangat langka. Dram tersenyum sumringah. "Apa penampilan saya sudah terlihat baik untuk bekerja, Tuan?" Ray mengangguk, sekilas tersenyum. "Penampilan yang bagus Dram, semoga kau bisa mempertahankannya," saran Ray. Dram hanya tersenyum tipis, tidak mengangguk pun tidak menggeleng, langsung membukakan pintu untuk Ray. "Ada klien hari ini?" tanya Ray sembari memasang sabuk pengaman. "Tidak ada Tuan." Dram mulai memutar setir, mobil melaju meninggalkan area parkir apartemen. Ray mengangguk, meraih laptopnya, mulai sibuk. Dram melirik Ray sejenak di balik spion, melihat Ray sudah sibuk dengan laptopnya, Dram memutuskan untuk tidak mengajak Ray berdialog, dia fokus menyetir sampai ke perusahaan. oOo Sudah sejak awal dari perusahaan dirintis, Yeye selalu datang duluan dari Ray. Di perusahaan, Yeye benar-benar menganggap Ray sebagai bosnya, menancapkan diri sebagai bawahan, bukan sebagai seorang sahabat. Yeye menghormati dan menghargai Ray, tidak pernah memanfaatkan status persahabatan mereka untuk melakukan hal remeh-temeh atau menunda-nunda pekerjaan yang diberikan Ray padanya-- walau memang benar Yeye suka bersungut-sungut dahulu sebelum melakukan pekerjaannya, tapi itu hanya saat Ray memberi Yeye pekerjaan yang tak ada di job listnya sebagai sekretaris perusahaan. Langkah kaki dua orang yang berjalan mendekat terdengar jelas di telinga Yeye, Yeye melirik ke arah pintu ruangannya, mendapati Ray dan Dram yang sudah berada di bawah bingkai pintu. Dram berhenti sejenak, menutup pintu. Ray terus melangkah, tersenyum tipis menyapa Yeye, langsung masuk ke ruangannya. Dram kembali berhenti sejenak di depan meja Yeye, membungkuk sopan. "Selamat pagi Kak. Semoga hari Kakak cerah." Yeye tersenyum tipis. "Terima kasih Dram, tapi omong-omong, kau dapat hidayah dari mana sampai penampilanmu normal begini?" tanya Yeye tak berkedip saat melihat Dram masuk ke ruangannya tadi. Dram tertawa kecil. "Tuan Ray menyarankan Dram untuk berpenampilan rapi Kak." Yeye ikut tertawa. "Oooo begitu. Ya sudah, silahkan masuk Dram, dia sepertinya suka denganmu sejak dulu." "Eh? Maksud Kakak, Tuan Ray menyukai saya? Tapi saya normal Kak, saya tidak suka laki-laki, begini-begini saya masih suka perempuan." Dram memasang wajah polosnya, memang tidak paham maksud perkataan Yeye. Yeye masih tertawa. "Dia menyukai asisten sepertimu Dram. Lihat! Dia sampai memperhatikan penampilanmu, berbeda sekali saat dia dengan Tio. Kau punya banyak kelebihan Dram, mungkin suatu saat dia akan mengangkatmu sebagai asisten pribadinya, Dram," goda Yeye. Dram menggeleng. "Kecil dulu, Dram memang menyukai pekerjaan seperti ini Kak, tapi Dram tak bisa menjadi asisten pribadi Tuan Ray, karena Dram adalah ajudan kakak besar, dan akan selamanya seperti itu. Dram tak akan pernah meninggalkan kakak besar." Mimik wajah Dram sangat serius saat menyampaikan kalimat itu pada Yeye. Yeye tersenyum takzim melihat Dram. "Jika Tio yang memintamu menjadi asisten pribadi Ray bagaimana?" tanya Yeye, tetap penasaran. "Dram akan mematuhi perintah kakak besar, Kak. Jika itu memang keinginan kakak besar, Dram akan melakukannya." Dram mengangguk mantap, benar-benar setia pada kakak besarnya, Tio. Yeye kehabisan kata-kata, memilih mengangguk. "Ya sudah, silahkan masuk ke dalam Dram, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan pagi ini." Dram menunduk kembali. "Kalau begitu semoga pekerjaan kakak cepat selesai." Dram sudah melangkah masuk ke ruangan Ray, meninggalkan Yeye yang tersenyum senang melihat punggung Dram yang menghilang dari balik pintu ruangan Ray. "Kau tidak sedang mengatai aku bersama Yeye di luar kan Dram?" tanya Ray saat Dram sudah berdiri di samping pintu ruangannya, berjaga. Ray asik membaca dokumen-dokumen yang sudah diletakkan Yeye di mejanya dari kemarin, menandatangani beberapa. Dram diam sejenak, berpikir. "Sedikit Tuan." Ray menghela nafas, dugaannya benar. "Kau tak perlu menungguiku Dram, jika kau ada urusan di markasmu, silahkan pergi dan selesaikan. Aku tau kau sibuk, semua pekerjaan dan tanggung jawab Tio kau yang urus, sedangkan dia sibuk adu otot di luar sana, tak peduli dan tak mau tau dengan urusan di sini." Ray mendengus sebentar, diam-diam Ray juga ingin pergi bersama Tio ke amerika untuk adu otot, tapi sayangnya di sini pekerjaannya sudah menumpuk, bak sampah di tempat pembuangannyq. Jadi Ray sedikit iri dengan Tio. "Atau jika memang tidak ada, kau bisa duduk di sofa sana Dram, kau hanya menganggu pemandanganku dengan berdiri di sana." Dram mengangguk, menurut. Melangkah ke sofa, duduk sopan. Ray melirik sejenak Dram yang duduk takzim di sofa, si keling ini benar-benar penurut. Ray membalik lagi halaman dokumen, membaca sekilas, menandatanganinya. Perihal apa yang membuat Dram sampai begitu setia pada Tio? Kejadian masa lalu apa yang membentuk Dram yang sekarang? Misteri ini rasanya menyenangkan untuk diceritakan, tapi sekarang belum saatnya. Masih banyak permasalahan tentang Ray yang perlu diselesaikan. Baru beberapa menit Ray duduk di ruang kerjanya, menyelesaikan satu persatu tumpukan pekerjaannya, Yeye sudah masuk ke dalam ruangan, raut wajah Yeye serius, melangkah cepat ke meja Ray sambil mengandeng-ngandeng tab nya. "Ray, lihat ini!" seru Yeye melihatkan berita yang ada di tab nya pada Ray. Pupil mata Ray membulat sempurna, Ray mengusap wajahnya, tak menyangka kubik yang telah disusunnya dengan baik jadi berantakan karena dia terlalu mempercayai orang itu, seseorang yang dikiranya memang baik karena nampak menyesali kesalahan yang diperbuatnya. Headline berita terbaru hari ini, menutupi skandal artis besar juga pengunduran diri kandidat utama gubernur. 'Rakyat menolak pengunduran diri Tommy Noaminaka.' Ray membaca isi berita di layar tab Yeye tanpa berkedip. 'Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, itu adalah hal yang wajar. Tommy Noaminaka menerima keputusan dari masyarat dan partai untuk dirinya melanjutkan kembali pencalonan diri sebagai gubernur. Pendukung Tommy Noaminaka semakin banyak, masyarakat menganggap kejujuran paling merugikan bagi Tommy Noaminaka sebagai kepribadian yang sangat diperlukan dari seorang pemimpin. Kejadian asli 2 tahun lalu terungkap, Tommy Noaminaka yang dikenal memiliki daya pikat tinggi bagi para kaum hawa diculik, diberi obat oleh seorang wanita 2 tahun lalu. Tommy Noaminaka dilecehkan lalu wanita itu meminta pertanggungjawaban, sampai mengancam Tommy Noaminaka yang kepalang karena dipojoki oleh seorang wanita yang telah menculik dan melecehkannya, untuk membela diri Tommy Noaminaka melempar sembarang benda pada wanita tersebut, menyebabkan wanita tersebut meninggal dunia. Itu hanya kejadian yang tidak disengaja. Tommy juga sudah mengklarifikasi kejadian itu dalam konferensi pers pagi ini...' Tangan Ray terkepal erat, tak sudi membaca lanjutan tulisan yang tertulis di artikel dalam tab itu. Yeye tidak mau berkomentar, takut salah dan hanya akan membuat Ray semakin kesal. Dram yang juga sudah membaca berita tersebut dari ponselnya sejak Yeye masuk dengan wajah serius lalu memperlihatkan berita besar itu pada Ray, juga telah paham situasinya. Dram segera berdiri, menyiapkan mobil, sebelum Ray memberi perintah pada Dram untuk segera menyiapkan pertemuan, pintu ruangan Ray terbuka. Langkah Dram terhenti, begitupun dengan perintah yang akan diberikan Ray pada Dram yang telah sampai di ujung lidah. Perempuan dengan rok mini dan kemeja polos berwarna biru langit sudah memasuki ruangan, melangkah ke meja Ray. Ray melirik Yeye dan Dram. Yeye dan Dram langsung paham situasi, segera beranjak meninggalkan ruangan. Najwa sudah duduk di hadapan Ray tanpa disuruh, matanya awas menatap Ray. Ruangan itu lengang 2 menit tanpa ada lontaran kata yang keluar dari mulut keduanya. "Kau sudah menghancurkan semuanya." Ray menganguk. "Itu di luar prediksiku, aku tak menyangka dia akan melakukan hal itu." "Kau tak bisa menilai seseorang hanya dari covernya." Ray diam, paham bahwa perempuan yang ada di hadapannya saat ini sangat kesal padanya, juga kecewa berat. "Heh, bukankah kau konsultan politik ternama? Bagaimana kau tidak bisa menilai mimik wajah seseorang? Apa dia serius atau hanya pura-pura!" Nada suara Najwa mulai meninggi. Ray tetap diam. Ray tentu pandai membaca mimik wajah seseorang, dia sudah banyak membaca buku tentang psikologi, bahkan sudah belajar psikologi dari psikolog ternama secara langsung. Pengalaman hidup Ray juga sudah banyak, tentu dari sekian banyak orang di dunia ini, dia termasuk yang terunggul bisa membaca pikiran orang hanya dari raut wajah dan gerak-geriknya. Dan kemarin, Ray benar-benar melihat keseriusan Tom dalam menebus dosa-dosanya, dia benar-benar menyesal, tak ada rencana licik seperti ini dalam otak laki-laki itu. Tapi... kenapa Tom bisa jadi seperti ini sekarang? Apa manusia bisa berubah hanya dalam semalam? Ini rasanya mustahil mengingat kesungguh-sungguhan dari wajah Tom kemarin. "Aku akan menyelesaikan semuanya secepatnya," ucap Ray serius. Najwa mengalihkan pandangannya dari Ray. "Tak perlu. Sudahlah, lupakan saja urusan itu. Lagian, tak ada lagi gunanya mengungkit masa lalu." Nada suara Najwa terdengar sedikit bergetar, dia seperti sedang menahan diri untuk tidak menangis. Ray tak bisa melihat ekspresi wajah Najwa karena tertutupi oleh rambut hitam legamnya nan panjang itu. "Aku berjanji akan menyelesaikan--" "Tidak perlu!" seru Najwa segera menoleh pada Ray. Ray tersentak kaget melihat tatapan tajam Najwa padanya, mata perempuan itu berkaca-kaca. Lengang kembali selama 5 menit. "Tolong... lupakan saja semuanya. Tolong... aku mohon." Najwa sudah menunduk, wajahnya kembali tertutupi oleh rambut hitam legamnya nan panjang, sudah terurai berantakan sekarang. Pupil mata Ray membesar melihat Najwa sampai memohon untuk tidak masuk ke dalam masalah keluarganya lagi. Ray tak mengerti kenapa Najwa tiba-tiba seperti ini. Apa yang membuat perempuan ini juga ikut berubah hanya dalam semalam? "Jangan menangis di hadapanku," ucap Ray datar. Najwa mengusap wajahnya sebentar, segera menyingkirkan rambutnya dari wajah, mendongkak menatap Ray. Walau habis menangis, sorot mata perempuan ini tetap saja tajam. "Aku pergi. Dan kita akhiri saja hubungan pura-pura ini." "Baiklah. Kita akhiri pacaran pura-pura ini." Langkah Najwa terhenti. Dia mengangguk, kembali melanjutkan langkah untuk keluar dari ruangan Ray. "Siapa dibalik semua ini?" tanya Ray. Najwa nampak tercekat, dia segera mempercepat langkahnya keluar ruangan. Pintu ruangan diketok sebelum Najwa sampai di belakang pintu. Yeye melangkah masuk, berjalan cepat ke arah Ray, melewati Najwa. "Ini berita besar kedua, baru keluar 1 menit yang lalu," jelas Yeye, meletakkan tab nya di atas meja agar bisa dilihat oleh Ray. Najwa segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, mencari berita yang baru keluar 1 menit yang lalu sesuai yang dikatakan Yeye. Dram mengawasi dari balik pintu, berdiri tegap, siap menunggu perintah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD