"Apa kau juga membelanya sekarang?" tanya Casandra menatap tajam Steve. Elena tampak lemas, matanya mulai berkunang-kunang. Dan kepalanya terasa sangat berat. Dalam sekejap saja dia sudah tertidur di meja. Steve melonggarkan cengkeramannya. Begitu halnya dengan Amora. Dia melepaskan tangannya dari rambut dan mulut Elena. "Lihat kan. Dia sudah teler. Percuma saja kau cekoki terus dia juga tidak akan bisa menelannya," lanjut Steve. "Aku sudah memesan kamar privat untuk dia, bawalah Elena ke dalam sana, Steve. Dan kita lancarkan rencana keduaku, ingat jaga nafsumu terlebih dahulu, aku perlu mengambil foto telanj*ngnya, setelah itu terserah mau kau apakan dia," sela Casandra dengan senyum licik. "Wow. Kau benar-benar menyimpan dendam pada saudaramu sendiri, Nona," ujar Steve tertawa.

