Rentenir Cinta Yang Buruk

1511 Words

Rasa malu dan bersalah ternyata seperti pohon jika disimpan. Mereka akan terus tumbuh dan berkembang, kian susah dicabut, serta semakin kokoh. Kini rasa itu selebat hutan. Apalagi sejak kemarin, terus saja disirami dengan air mata. Wajah papa pun tampak sembab pagi ini dan beliau seperti siput kecil yang takut menatap langit. "Pa, sarapan ya?" ajak Binar. "Papa sudah boleh makan yang lunak seperti bubur ini." "Papa tidak selera makan, Binar." Binar tersenyum, "Apa Binar harus menari kecil seperti dulu, demi meminta papa untuk makan dikala sakit?" "Wah, waktu itu ya? Dan hanya kamu yang berhasil membujuk Papa." Mata papa kembali berkaca. "Papa?" "Sejak dulu, kamu lembut seperti sutra. Itu sebabnya Papa lebih sayang kepadamu. Kalau meminta sesuatu, kamu selalu merayu. Sedangkan Bintan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD