Langit seakan runtuh, bumi bergetar hebat. Dunia pun terasa sunyi dan mencekam, hingga membuat Ben bertanya di dalam hati.
'Sebenarnya apa yang salah? Ada apa dengan semuanya? Apa kurangnya aku? Dan mungkinkah semua ini hanya kesalahpahaman semata?'
Ucapan satpam, perilaku lembut dan santun dari Binar selama beberapa waktu terakhir ini, membuat Ben gagal meledakkan semua amarahnya.
Walaupun ia percaya bahwa mata dan hatinya tidak mungkin salah, saat melihat perempuan yang sama persis dengan Binar. Istrinya memang berada di dalam mobil mewah bersama seorang laki-laki asing yang sama sekali tidak ia kenali.
Namun tiba-tiba saja, Ben memiliki rasa prihatin yang tinggi dan wajah Binar, ketika memohon maaf. Semua terbayang kembali dan hal itu membuat Ben memutuskan untuk mencari tahu tentang Binar sekali lagi.
Ben menghela napas panjang, lalu berlari cepat menaiki anak tangga. Kemudian ia membongkar peralatan milik Binar.
Laki-laki bertubuh atletis ini membuka seluruh lemari pakaian dan membongkarnya. Ada satu yang membuat ia berpikir lebih kritis, yaitu kenapa Binar menyimpan sebuah tas sandang sederhana di sudut lemari paling bawah.
Kedua mata Ben tertuju pada bagian tersebut dan ia langsung menarik tas yang bukan terbuat dari kulit, serta tampaknya hanya memiliki harga sekitar Rp.80.000,- hingga Rp.100.000, - saja.
Perlahan, Ben membuka kancing bagian paling besar dan di sana ia melihat sepasang pakaian yang biasa Binar kenakan ketika siang hari. Yaitu baju kaos berwarna putih dan celana jeans.
'Kenapa ia memisahkan pakaian ini dengan pakaian yang lainnya?' tanya Ben tanpa suara, lalu ia membuka bagian lainnya.
Di bagian dalam tas tersebut, Ben menarik selembar kertas yang ternyata sebuah surat. Dengan cepat, ia membacanya.
Surat tersebut adalah surat perjanjian yang pernah Binar baca di depan sang mama. Itu merupakan bukti kongkrit bahwa sebenarnya Marta hanya korban dari kejahatan dunia.
Ben mulai bingung dan ia memikirkan tentang hubungan Marta dan Binar? Lalu siapa Marta dan kenapa Binar membawa surat ini dan menyimpannya di sini? Rasanya, terlalu banyak rahasia yang Binar simpan darinya.
Setelah itu, Ben kembali menelisik dalam isi tas Binar dan ia tidak menemukan apa pun kecuali sebuah dompet sederhana yang berisikan uang kurang dari Rp.300.000, - dan ini bukanlah jumlah yang biasa Binar miliki.
Perasaannya kembali terusik dan Ben memutuskan untuk mencari ponsel milik Binar. Ia melakukan panggilan telepon berulang kali hingga mendengarkan suara yang berasal dari dapur. Dengan cepat, ia langsung berlari kembali ke arah lantai dasar.
Ben memegang erat ponsel Binar yang tidak memiliki background, foto-foto cantik istrinya. Padahal, biasanya Binar wajib memakai foto terbaik untuk menghiasi layar telepon genggam tersebut.
Ben semakin curiga dan ia langsung memeriksa seluruh nomor telepon yang terdapat di dalam ponsel itu. s
Semua semakin terasa aneh bagi Ben. Sebab, di dalamnya tidak ada siapa pun, tidak ada apa pun kecuali namanya dan Dayu.
Semakin penasaran, Ben memutuskan untuk menghubungi Dayu untuk mengetahui apakah kontak tersebut dimiliki oleh seorang perempuan atau laki-laki.
"Halo, Binar? Kenapa? Apa ada masalah? Apa laki-laki itu menyakitimu?" tanya Dayu tanpa memberikan kesempatan Ben untuk menjawab karena ia khawatir dengan kondisi sahabatnya itu.
Semakin bingung, Ben memutuskan untuk memenggal sambungan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Dayu untuk sebuah pertemuan besok pagi, di restoran tengah kota.
Saat itu, Dayu menjawab tidak perlu restoran untuk bertemu. Bagaimana kalau warung pinggir jalan saja? Yang terpenting, tidak terlalu jauh dan rumah Binar.
Baru kali ini Ben bertemu dengan orang-orang yang menolak untuk menikmati hidangan mewah dengan fasilitas super dan ia semakin ingin tahu tentang semua yang terjadi.
Dayu menyetujui pertemuan tersebut. Namun ia mengatakan tidak bisa bertemu pagi hari. Sebab, ia sudah janjian untuk menemui detektif swasta lainnya, demi mencari keberadaan mama Marta.
Ketika mendengarkan nama tersebut, Ben semakin penasaran. Tapi ia tidak bisa mempertanyakan saat ini, karena khawatir Dayu akan curiga dan menolak untuk bertemu dengan dirinya.
Dari semua kejadian aneh ini, Ben menyimpulkan bahwa Binar yang ada bersamanya saat ini, mungkin saja bukan istrinya. Atau perempuan itu terlalu picik sehingga mampu mengatur segalanya dengan baik.
Binar ingin terlihat begitu hebat dan sempurna di mata Ben, sementara di belakang, dia tidak ada bedanya dengan perempuan jalang.
Hanya ada satu cara untuk memastikan pikiran dan tuduhan hati Ben tersebut. Yaitu dengan mengambil sebuah resiko yang mungkin saja bisa salah.
Namun jika benar, maka Ben akan mengambil tindakan atas kebohongan dan tipu muslihat perempuan yang begitu ia cintai tersebut.
Tanpa mengganti pakaian, Ben keluar dari rumah dan kembali meminta bantuan kepada satpam untuk mencari Binar.
Ia juga menelpon sahabatnya yang berdinas di kantor polisi untuk menyebar anak buahnya hanya untuk mendapatkan Binar.
'Aku tidak ingin lagi dipermainkan seperti bocah kecil yang bodoh. Malam ini, semua harus dibongkar!' kata Ben tanpa suara dan ia tidak peduli dengan apa pun, kecuali kemarahan dan kebenciannya.
Satpam dan Ben bergerak cepat untuk mencari Binar. Saat itu, Ben menggunakan mobil pribadi lainnya yang memang hanya terparkir di rumah dan digunakan untuk hari libur saja.
Di sisi Binar, perempuan itu tampak bingung. Ia pun hanya melewati jalanan yang pernah dilewati ketika pergi bersama Ben ke pasar tradisional.
Saat itu, Ben juga menyusuri jalan tersebut. Seakan firasatnya terjalin halus dengan Binar yang sebenarnya sangat menyedihkan.
Setelah melewati jalanan sekitar 30 menit dengan kecepatan sedang, Ben melihat Binar dihadapannya dengan langkah malas dan tubuh yang lunglai.
Seketika, perasaan iba muncul di dalam hatinya dan jiwa Ben juga berbisik bahwa ia harus berbelas kasih kepada perempuan yang berada di hadapannya tersebut.
Ben meninju setir mobilnya karena tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Lalu ia turun dan langsung menghadang tubuh Binar.
Binar yang saat itu terus saja menundukkan kepala, seakan di tanah banyak sekali duri dan pecahan beling yang mengancam keselamatannya.
Tubuh mungil Binar menabrak Ben dan ia langsung meminta maaf tanpa mampu menengadahkan kepalanya.
Saat itu, Ben menyadari bahwa perempuan yang berada dihadapannya itu, benar-benar tengah terpukul hebat.
"Ikut aku sekarang dan pulang!" perintah Ben dan itu berhasil mengangkat wajah Binar yang tampak pucat dengan mata yang sudah basah.
"Ben?"
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu! Aku sangat ... ,"
Ben ingin melanjutkan ucapannya. Tapi saat itu, air bening menetes begitu saja dari kedua bola mata Binar yang cantik.
Ketika melihat hal tersebut, Ben tidak mampu melanjutkan perkataan kasarnya terhadap Binar.
Padahal, saat ini ia sangat ingin mengatakan bahwa dirinya sangat membenci Binar dan tidak sudi jika perempuan itu menyebut namanya.
"Jangan biarkan aku mengatakannya untuk yang kedua kali!" kata Ben sekali lagi yang sama sekali tidak menyebut perempuan tersebut dengan panggilan apa pun.
Namun jauh di dalam hatinya, Ben ingin sekali menghapus air mata perempuan yang sudah beberapa hari terakhir ini memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Binar yang sadar akan kesalahannya. Sekarang merasa siap untuk menerima hukuman apa pun, dari laki-laki yang sudah ia permainkan tanpa sengaja.
Dengan langkah berat, Binar mengikuti Ben untuk masuk ke dalam mobil. Saat ini, ia duduk di kursi belakang. Tidak seperti biasanya, mendampingi Ben di kursi depan.
'Tuhan, bagaimana ini? Aku tidak mampu menipis semua perasaan terhadap perempuan yang sudah mengikis jiwaku. Rasanya, ingin sekali melemparnya hidup-hidup ke jurang. Tapi, untuk mencengkram tangannya saja aku tidak mampu.'
Sama halnya dengan Ben yang berkata di dalam hati. Binar juga melakukan hal yang sama. 'Tuhan, bersama tenggelamnya matahari senja tadi, tolong redakanlah kekecewaan dan kemarahan di dalam hatinya karenaku. Sabarkanlah ia.'
Mungkin kah Tuhan akan memberikan jalan bagi keduanya untuk saling terbuka. Bagi Binar, dengan amarah dan tatapan kejam pun tidak masalah. Asalkan ia mendapatkan satu kesempatan untuk menjelaskan segalanya kepada Ben.
Setelah menemukan Binar dan tiba di rumah, Ben menelepon semua orang yang ikut membantunya dan mengatakan bahwa Binar sudah ditemukan.
Lalu ia melempar ponsel di atas sofa ruang tamu dan meminta Binar untuk masuk ke dalam kamar. Ben yang masih tampak kesal, membuat Binar terus ketakutan.
Setelah Binar masuk ke dalam kamar, Ben mengikuti langkahnya. Tanpa sengaja, tangannya tersenggol kunci pintu yang terbuat dari besi dan kembali berdarah.
"Ben ... ." Binar yang menyaksikan darah segar mengalir di tangan Ben, langsung berdiri dan membantu tanpa memperdulikan apa pun.
"Biarkan saja!" bentak Ben, tapi Binar tidak perduli. "Lepas!" Ben mendorong tubuh Binar ke atas kasur, tapi Binar kembali bangkit untuk membantunya.
Binar menahan ketakutan dan air matanya demi menghentikan darah segar yang mengucur deras. Ia tidak perduli dengan bentakan ataupun pukulan yang bisa saja Ben hadiahkan untuknya.
Melihat kegigihan dan keperdulian Binar, Ben melemah. Lalu Binar mengatakan sesuatu yang semakin membuatnya tidak berdaya.
"Lakukan apa saja yang kamu ingin! Tapi setelah aku siap membalut lukamu."
Dengan tangan yang terus bergetar, Binar membersihkan luka yang masih basah tersebut. Ia sama sekali tidak tahu, apa yang sudah terjadi kepada Ben.
Binar mengikat kain kasa dengan rapi, lalu terduduk sambil mengatur napas yang berantakan sejak tadi. Setelah kejadian tersebut, keduanya terdiam sejenak tanpa saling menatap.
"Tunggulah di sini!" pinta Ben, lalu ia turun ke dapur dan menyiapkan jus untuk Binar.
Jus ini bukanlah bentuk permintaan maaf Ben kepada perempuan yang selalu baik dihadapannya tersebut. Melainkan usaha untuk membuktikan kebenaran tentang Binar.
Setelah gelas terisi penuh, Ben membubuhkan obat perangsangg ke dalam minuman tersebut dan mengaduknya sampai rata.
Sebenarnya, bukan ini yang Ben inginkan. Tetapi ia tidak sanggup lagi menunggu esok dan ingin segera mengakhiri kesakitan dan kegelisahannya.
Sesampainya di hadapan Binar, "Minumlah! Setelah ini, ganti pakaianmu! Ada yang ingin aku bicarakan."
Binar yang tidak ingin lagi mencari masalah, langsung menuruti perintah Ben dan menghabiskan jus tersebut hingga tandas.
"Sudah." Binar memberikan gelasnya kepada Ben yang duduk di hadapannya dan menatap tajam sejak tadi.
Ben berdiri dan membuka lemari pakaian. Lalu ia mengambil dan meletakkan lingeriee berwarna merah maron di sisi Binar.
Agar Binar nyaman, seperti biasanya, Ben keluar dari dalam kamar dan menunggu pada anak tangga yang paling atas.
Tak lama, Binar memberanikan diri untuk menyusul Ben dan duduk di sampingnya.
Sekitar 10 menit saling mengunci bibir. "Tadi sore, aku melihatmu menggandeng tangan lain dengan mesra."
"Apa?" jawab Binar terkejut.
"Lalu, kamu mencium laki-laki itu dengan brutal."
"Tidak, Ben. Aku tidak melakukannya," timpal Binar dan ia sama sekali tidak berbohong.
Ben tersenyum simpul, mengejek dirinya sendiri. "Sebodoh itukah aku menurutmu?"
"Ben ... ."
"Sudahlah! Nyatanya, aku masih sangat membutuhkanmu. Meskipun sakit dan luka ini akan terinfeksi."
Binar terdiam, tanpa berani menyentuh Ben. Lalu ia menghitung waktu. 'Seandainya sudah pulang, tidak seharusnya Bintang menikmati waktu sebebas itu.'
Keduanya saling menatap ke bawah. Seolah di sana ada pemandangan yang tidak boleh terlewatkan.
Sekitar 20 menit, Binar merasa ada tiupan angin dingin di sekujur tubuhnya dan itu membuatnya terbawa.
Binar mengusap lehernya perlahan. Ia seperti merasakan jari jemari tangan Ben menggerayangi tubuhnya. Lambat laun, seluruh tubuh Binar menggeliat sendiri dan Ben paham artinya.
'Berhasil!' Ben langsung menggendong Binar ke dalam kamar dan melanjutkan rencananya.
Kerinduan yang dalam, bercampur emosi. Berhasil membuat Ben menggila.
Ia melakukan apa yang sudah sejak lama ia inginkan. Yaitu menjelajahi seluruh tubuh Binar hingga perempuan tersebut meminta permainan panas kepadanya.
Tanpa sadar, Binar terus mengeluarkan suara erotis dari bibirnya dan semua itu menambah syahdu perasaan Ben.
Dari balik cahaya remang-remang, Ben menikmati kemolekan tubuh istrinya yang sama sekali tidak terlihat bertambah susut, walaupun sudah melakukan diet ketat, katanya.
Namun Ben tidak perduli, karena Binar saat ini adalah impiannya. Dengan gelora yang membara, Ben menikmati setiap lekuk tubuh istrinya yang tampak indah.
Setelah 10 menit memberikan pemanasan, Ben memutuskan untuk mendaratkan pesawat pribadinya.
Saat itu, entah dari mana asalnya. Tiba-tiba saja, degup jantung Ben berdetak kencang. Rasanya, malam ini lebih mendebarkan daripada malam pertama.
Namun di balik itu semua, hasrat menuntunnya untuk menikmati tubuh istrinya yang sudah menggeliat bebas di atas tempat tidur.
Ben meletakkan tombak miliknya dengan tepat. Lalu mendorongnya dengan kuat. Saat itu, ia bisa merasakan sakit dan berat pada ujung tombaknya.
Belum bisa berpikir jernih, Ben terus menerjang selaput dara milik Binar dan menghabiskan kerinduannya dalam hentakan yang menyenangkan.
Binar menjerit manja. Ia tersenyum ketika Ben mulai mengaduk pinggulnya dengan liar. Bagi Binar ini adalah pengalaman pertamanya.
Sayangnya, Binar dalam kondisi yang tidak sadar penuh. Sedangkan untuk Ben, kali ini adalah malam teristimewa yang tidak mungkin ia lupakan.
"Ben ... ."
Suara Binar yang manja semakin menyiksa Ben. Hingga laki-laki bertubuh kekar, yang biasanya memainkan tubuh lebih dari 30 menit. Malam ini hanya mampu bertahan, kurang dari sepuluh menit. Tampaknya, Ben terlalu bahagia dan terpuaskan.
Jauhar milik Ben menembak tajam dan membasahi rerumputan tipis milik Binar. Saat itu, ia kembali bertanya di dalam hati.
'Sejak kapan Binar memiliki hiasan yang menggoda seperti ini.'
Yang Ben ketahui, Binar istrinya tidak suka memelihara rambut tipis yang sebenarnya sangat Ben sukai.
Setelah mengatur napas, Ben menarik pinggulnya dan saat itu, ia melihat sebagian tombaknya, sudah diselimut dengan darah segar.
Mata Ben terbelalak. Ia tidak percaya bahwa perempuan yang berada di hadapannya tersebut, bukanlah istrinya.
Untuk memastikan penglihatannya, Ben menghidupkan lampu yang berada di sisi meja tidak jauh dari tempat tidur mereka.
Tidak salah lagi, perempuan yang berada di hadapannya, masih suci dan ia bukanlah Binar, istri Ben.
Ben terduduk lemas di ujung tempat tidur. Sekarang, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan.
Sebab, Ben begitu yakin bahwa ia sangat mencintai dan menginginkan perempuan yang berada di hadapannya tersebut.
'Siapa kamu?'
Bersambung.
Tukar Ranjang akan aku up, tanggal 1 bulan depan hingga tamat ya. Jangan lupa tab love dan komentar, Makasih.