"Dasar anak tak berguna! Kemana saja kau huh?!" Teriak seorang wanita parubaya kepada seorang gadis yang baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam rumah
"Maaf, Aku tadi belajar di perpustakaan, bu." Jawab gadis itu sambil menundukan kepalanya
"Cepat kerjakan pekerjaan rumah! Bentar lagi rumah ini bau karena tidak ada yang mengurusnya." Ucapnya ketus sambil melemparkan sebuah sapu dengan kasar kepadanya. Gagang sapu itu mengenai kepala gadis itu, membuat gadis itu sedikit mengaduh sebelum akhirnya dengan cepat meraih sapu tersebut dan membuka sepatunya.
Gadis itu bernama Marrie, seorang gadis yang saat ini tengah sibuk belajar untuk menjalani tes masuk Perguruan tinggi. Dia tinggal bersama ayah kandung dan ibu beserta saudari tirinya. karena bekerja sebagai pelaut, ayahnya jarang berada di rumah dan terkadang dia pulang beberapa bulan sekali
Yah seperti ibu tiri pada umumnya, Marrie dijadikan seorang pembantu, sementara itu ibu dan kakanya sibuk menghamburkan uang ayahnya Marrie hanya kebagian 1/4 dari uang yang diberikan ayahnya, padahal ayahnya memberikan uang yang sama kepada tetapi ibunya mengambilnya
Karena suasana rumah yang seperti itu, Marrie membaca novel sebagai pelarian. Sudah banyak novel yang ia baca salah satunya adalah novel yang berjudul 'prince of sorrow' yang menceritakan tentang putra mahkota yang meninggal secara tragis karena penyakit mental.
Plak!
"Dasar anak tak berguna!" Hardik ibunya itu menampar pipi Marrie, membuat pipi putih itu memerah
"Apa kau yang memberitahu ayahmu kalau aku yang mengambil uangmu huh?!" Tanya nya sambil berteriak dan menunjuk - nunjuk Marrie
Marrie hanya bisa diam. "Jawab!" Ibunya itu menjambak rambut Marrie membuatnya meringis kesakitan. "Kau punya mulut kan?!"
"B-bu sakit." Ucap Marrie menahan lengan ibunya, namun ibunya semakin kuat menjambak rambut Marrie dan menariknya menuju kamar mandi
"Ambilkan solatip itu!" Titah ibunya itu kepada seorang wanita yang berparas mirip dengannya, kakak tirinya Marrie.
Ibunya itu dengan kasar mendorong tubuh Marrie ke kamar mandi, sehingga Marrie tersungkur dan menabrak bath up.
"Bekap mulut dia." Titahnya lagi, kakanya berjalan menghampiri Marrie dan dengan kasar menempelkan solatip itu ke arah mulut Marrie, Marrie memberontak namun tangan dan kakinya ditahan oleh ibunya
"Kau harus mendapatkan hukuman karena telah beraninya kau membicarakan hal yang sudah kularang." Ucap ibunya itu tajam, Marrie hanya bisa menangis dan menggelengkan kepalanya
Rambutnya berantakan, pipi kanannya memerah dan membengkak
Plak!
"Ini untuk keberanianmu." Ucap ibunya itu menampar pipi kiri Marrie
Ibu tirinya itu menarik rambut Marrie dan memposisikan kepala Marrie kepada bath up yang sudah diisi air sampai penuh, kepalanya mengarah keatas permukaan air yang penuh tersebut
Kaka tirinya dengan cepat menyolatip kedua tangan dan kedua kakinya Marrie sehingga dia tidak bisa memberontak.
"Dan ini untuk kebodohanmu." Ucap ibunya itu ketika kaki dan tangan Marrie terikat dan langsung menenggelamkan kepala Marrie kepada bath up. Marrie berusaha menolak, namun kekuatan ibu dibantu dengan kaka tirinya itu lebih besar darinya
Marrie diangkat, ditenggelamkan, diangkat dan ditenggelamkan selama beberapa kali. Ia hanya bisa pasrah menerima takdirnya.
"Kuharap, dikehidupan selanjutnya aku dapat hidup dengan tenang." Ucap hati kecil Marrie.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Terlihat seorang anak kecil berambut merah muda yang tengah tertidur dengan tenang dan terdapat handuk basah yang ada di keningnya. Anak itu tubuhnya sangat kurus dan kecil seolah-olah dia tidak pernah diberi makan cukup oleh kedua orangtuanya.
Namun dibalik tidurnya yang tenang itu, tiba tiba anak itu terbangun dengan nafas yang terengah-engah seolah-olah dia sudah mengalami mimpi yang sangat buruk. Handuk basah yang ada di dahinya ikut terjatuh dan membuat anak itu terduduk sambil terlihat kebingungan
"Hah.. Hah.. Hah..." Anak itu terlihat sedang mengatur nafasnya yang tersengal, keringat mengucur sangat deras, dadanya terlihat naik - turun tak karuan
"Fiuhh, mimpi yang sangat buruk." Ucapnya ketika nafasnya sudah agak tenang. Anak itu nampak terkejut ketika melihat kamar miliknya dan semakin terkejut lagi ketika melihat sebuah handuk basah yang ada di depannya, bahkan membuat selimutnya basah
"Apa ini?" Tanya anak itu, sambil menggenggam handuk basah tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika melihat tangannya sendiri
"Lengan anak kecil? Astaga apa ini mimpi?" Ucap anak itu dan menampar pipinya sendiri namun tak ada yang berubah hingga anak itu mencubit dengan keras pipinya sendiri hingga kemerahan dan lagi - lagi tak ada yang berubah, semua masih sama.
Dan ketika anak itu sedang ribut sendiri, tiba - tiba seorang pelayan membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat anak kecil itu sudah bangun. Lantas, pelayan itu berlari keluar sambil berteriak memanggil tuannya
"Rambut merah muda?" Tanyanya sambil memainkan rambut panjang miliknya yang bergelombang
"Sebenarnya ini apa sih?" Ucap anak itu frustasi dan hendak menurunkan kakinya dari ranjang, namun tiba - tiba terdengar suara langkah kaki yang ramai dan terburu buru dan beberapa detik kemudian tiga sosok mendatangi kamar yang cukup luas itu sambil berteriak memanggil nama seseorang
"Teresiaa!!! Syukurlah kau sudah sadar." Teriaknya sambil menangis dan memeluk anak itu
Anak itu hanya bisa terdiam melihat kedua sosok yang sedang memeluknya erat, sedangkan yang satunya lagi tengah berdiri memandang haru mereka dengan memakai pakaian pelayan. Kedua orang tadi langsung dengan cepat memeluk tubuh kecil anak tersebut
"Ibu, ayah?" Tanyanya, yang membuat kedua sosok itu mengangguk dibalik pelukannya
"Iya, kami disini nak." Ucap seorang pria berambut pirang dengan mata biru seperti safir
"Aku tidak tahu harus berterimakasih ke dewa dalam bentuk apa." Ucap seorang wanita berambut merah muda sama seperti dirinya dengan mata hijau emerald sambil menitikan air mata
Perlahan, anak ini mulai memahami situasi yang terjadi. Pertama, tubuhnya kecelakaan dan memasuki tubuh orang lain. Kedua, orang dewasa yang ada di depannya adalah kedua orangtuanya. Ketiga, anak ini terlahir dari keluarga kaya raya melihat bagaimana besarnya kamar ini dan furniture yang dipakai. Terakhir, sepertinya dirinya sedang berada di zaman pertengahan eropa melihat bagaimana pelayan yang masih memakai seragam khas zaman dulu.
"Demam mu juga sudah turun, syukurlah." Ucap ibunya itu sambil mengelus pipi anaknya itu
"Ambilkan aku makanan untuknya." Ucap ibunya itu kepada pelayan yang ada di belakangnya. Dan dengan sigap, pelayan itu langsung berjalan meninggalkan kamar tersebut
"Apa ayah tidak bekerja?" Tanya Teresia kepada ayahnya itu, rambut pirang yang disemar rapi itu terlihat sangat cocok dengan wajah tampannya
Pria itu menggeleng. "Tidak, ayah kan tidak bisa meninggalkan Teresia yang sedang sakit." Jawabnya sambil mencolek hidung Teresia dan membuat anak itu tertawa.
Anak itu masih kebingungan dengan apa yang terjadi, tapi yang jelas kecelakaan yang menimpa dirinya dan mimpi mengenai keluarganya terasa sangat nyata. Di sisi lain, anak itu merasa beruntung juga karena tuhan memberikannya kesempatan ke-2 untuk hidup kembali
Meski dia masih belum mengetahui siapa pemilik tubuh asli ini, terlebih lagi kedua sosok yang tadi memeluknya terlihat sangat asing baginya. Meski begitu, anak itu hanya bisa menikmati alur saja, menikmati anugrah pemberian tuhan.
"Yasudah nikmati saja." Ucapnya dalam hati.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya pria dengan rambut pirang yang disemir rapi tersebut menatap ke arah pria parubaya yang baru saja memeriksa tubuh anak kecil tersebut
"Sepertinya, Teresia sudah lebih baik. Tidak ada tanda - tanda kalau tubuhnya sakit, semuanya stabil." Jawabnya, membuat wanita di samping pria pirang itu tersenyum lega menyenderkan kepalanya lega ke bahu suaminya
"Mungkin ini adalah anugerah dari dewa, tuan." Tambahnya, sambil membereskan peralatan miliknya dan memasukannya ke dalam sebuah wadah
"Syukurlah. Terimakasih." Ucap wanita itu dengan raut wajah sumringah
Ketika semua peralatannya sudah dimasukan ke dalam wadah, pria itu mengangkat tubuhnya. "Aku pamit dulu, Count, Countess" Ucap pria itu dan mulai berjalan meninggalkan mereka berdua di pandu dengan pelayan mereka yang menemani dokter tadi menuju keluar
"Henry, sepertinya dewa benar - benar mendengar do'a kita!" Seru ibunya itu, anak itu nampak ikut tersenyum ketika melihat kedua orangtuanya yang sedang berbahagia
Namun, tiba - tiba dia teringat dengan sesuatu yang membuatnya terdiam untuk berfikir. Count + Henry [karena ibunya tadi memanggil nama Henry] = Count Henry. Cukup dengan satu kalimat itu saja mampu membuat anak itu mengetahui siapa identitas dirinya.
Count Henry dan istrinya Countess Angelina mempunyai seorang putri tunggal yang bernama Teresia Etrama. Putri yang sudah mereka tunggu - tunggu selama 5 tahun pernikahan dan ketika sudah terlahir di dunia sayangnya, memiliki tubuh yang lemah yang sering sakit - sakitan dan yang paling parah yaitu saat ini. Dokter kekaisaran bahkan mendiagnosa Teresia tak bisa hidup lebih lama lagi karena paru - parunya yang bocor akan tetapi, karena keajaiban dewa Teresia kembali membuka matanya.
Itu berarti, dapat dipastikan Marrie bereinkarnasi menjadi Teresia Etrama. Dan dari sekian banyak novel yang sudah Marrie baca, kenapa dirinya masuk ke dalam dunia novel 'Prince of Sorrow' ya walaupun keluarganya tidak ada sangkut paut apapun dengan tokoh protagonis, tapi tetap saja ending dari novel ini bersifat tragis.
Di cerita aslinya, tokoh protagonis hanya sekali bertemu dengan Henry dan itupun muncul di akhir bab. Untung saja, ingatan Marrie cukup kuat sehingga dia bisa mengetahui posisi dirinya saat ini. Akan tetapi, karena Henry hanya satu kali disorot jadi informasi mengenai kedua orangtua Teresia ini sangat minim, dia hanya mengetahui detail mengenai keluarga kerajaan dan orang - orang yang berada di sekitar tokoh protagonis
"Teresia, kau harus tidur. Besok, bibi akan mengunjungimu." Ucap ibunya itu dan menidurkan Teresia, tangan lembut itu menarik selimut putih Teresia dan menutupi tubuhnya
Cup!
Ibunya itu mengecup kening Teresia dengan lembut, Teresia sedikit tersentak sebelum akhirnya menutup matanya. Kecupan yang diberikan Angelina mengingatkannya dengan sosok ibunya dulu, lembut, perhatian, dan penuh kasih sayang. Teresia semakin bersyukur dirinya kembali hidup dan memiliki kedua orang tua yang menyayanginya tidak seperti kehidupannya yang dulu.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆