Bab 5-PCAM

1113 Words
Bab 5-PCAM “Jadi tadi tuh, Rizal nembak gua lagi. Dia bilang mau menjalin hubungan sama gua secara diam-diam dan gua di minta untuk memikirkan nya secara mateng, jangan sampai salah mengambil keputusan.” “Bener tuh apa yang Rizal bilang, loe harus mikirin semuanya secara mateng,” ucap Rahel. Vera mengangguk pelan, cinta Rizal kepada Vera memang tulus bahkan Vera bisa merasakannya. Tapi sampai saat ini Vera sama sekali tidak memiliki perasaan apapun sama Rizal. “Gua juga sebenernya gak mau nyakiti hati cowok, apalagi cowok sebaik Rizal,” ucap Vera. “Iya, Rizal itu cowok yang ganteng, baik, tulus. Pokoknya paket lengkap deh, jangan sampe loe nyiain seorang cowok seperti Rizal,” ucap Tiara yamg di sertai anggukan oleh Rahel. “Bener tuh,” ucap Rahel. Seketika Vera mulai berpikir lagi, sedari tadi Vera belum menemukan jawaban apapun. Ini yang sangat di malaskan oleh Vera jika mengenal cinta untuk itu ia tidak mau mengenal cinta tetapi semua orang pasti akan mengenal cinta. “Berita tentang loe nolak Rizal aja jadi trending topik loh.” “Iya gua tau,” ucap Vera. …. Rizal datang di tempat biasa Band Santuy berlatih, Rizal datang lebih lambat dari biasanya karena tadi ada beberapa hal yang harus Rizal urus terlebih dahulu. “Darimana aja loe Zal?” tanya Wanda. “Dari kantor bokap tadi sebentar,” sahut Rizal. Band Santuy terdiri dari Rizal yang sebagai vokalis, Wanda sebagai pemain piano, Anton sebagai pemain drum dan Zaki yang sebagai pemain gitar. Mereka menghampiri Rizal yang terduduk di sofa sembari menyenderkan kepalanya sepertinya Rizal sedang dalam masalah. “Loe ada masalah Zal? Cerita sama kita, siapa tau kita bisa bantu. Yakan bro?” ucap Zaki. “Enggak ada kok, cuman ada masalah kecil tapi gak papa!” Seketika mereka terdiam mungkin Rizal ingin memprivasi masalah yang di alaminya, untuk itu mereka semua tidak memaksa Rizal untuk bercerita. “Gimana loe sama Vera? Tetep masih berusaha buat mendapatkan hati Vera?” tanya Wanda. “Ya masih dong, gua gak bakalan menyerah buat mendapatkan hati Vera,” ucap Rizal dengan penuh percaya diri. Seketika semuanya bertepuk tangan, mereka sangat kagum karena Rizal yang tidak mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. “Gua salut sama loe, tetap semangat jangan kendor!” ucap Anton. Mereka semua tertawa, setelah itu mereka mulai berlatih. Band Santuy sudah terkenal di kalangan muda, karena suara Rizal yang sangat bagus dan enak saat di dengar serta ketampanan mereka semua. Kebanyakan yang menonton Band Santuy saat tampil adalah perempuan, karena hanya ingin melihat ketampanan dan juga mendengar suara Rizal yang begitu memabukkan hati. Keesokan harinya….. Vera sudah berada di kampus lebih pagi dari sebelumnya, hal itu membuat Tiara dan Rahel cukup terkejut melihatnya. “Loh, tumben banget loe Ra dah berangkat ke kampus?” tanya Tiara. “Mana Rizal?” tanya Vera. Bukannya menjawab pertanyaan Tiara, malah tanya keberadaan Rizal seketika Rahel mengerti kenapa Vera datang lebih cepat dari sebelumnya. “Loe mau kasih jawaban sekarang?” tanya Rahel. “Iya gua gak mau, karena ini. Gua jadi mikirin hal ini terus jadi gak fokus sama Pendidikan gua,” ucap Vera yang terdengar sangat muak. Tiara melihat sekitar, tidak ada keberadaan Rizal disini biasanya Anton berangkat bersama dengan Rizal tetapi kali ini tidak. Anton sudah berangkat tetapi Rizal belum terlihat batang hidungnya. “Sepertinya Rizal berangkat agak siangan, lihat aja dia sama sekali belum terlihat di kampus. Padahal Anton dah berangkat,” ucap Tiara. “Kalau gitu, gua gak usah berangkat lebih pagi kayak gini,” ucap Vera sembari berjalan pergi masuk ke dalam kelas. Tiara menyusulnya, tetapi tidak dengan Rahel ia mencari keberadaan Rizal tetapi sama sekali tidak ada. Ini adalah pertama kalinya Vera mencari Rizal. “Kemana sih Rizal, biasanya juga berangkat pagi,” gumam Rahel. Setelah beberapa menit menunggu Rizal tetapi tidak muncul-muncul juga, Rahel menelfon Rizal untuk cepat datang ke kampus. “Loe dimana?” tanya Rahel saat telefon mereka terhubung. “Gua, lagi di perjalan ke kampus,” sahut Rizal. “Cepetan loe datang ke kampus, Vera lagi nungguin loe nih.” Mendengar itu, Rizal langsung mematikan telefon dan menginjak gas mobil. Pasti Vera akan menjawab perasaannya sekarang tapi Rizal tidak ingin Vera menjawabnya sekarang ini masih terlalu cepat nanti Vera bisa salah dalam menjawab. Setelah sampai di kampus, Rizal langsung berjalan masuk ke dalam kelas karena Rizal yakin jika Vera dan juga temannya berada di dalam kampus. “Tuh…, Rizal udah datang,” ucap Tiara. Perlahan Vera berjalan menghampiri Rizal ia ingin mengakhiri semuanya jangan sampai hanya karena masalah sepele membuat Vera jadi tidak bisa fokus karena terus memikirkannya. Tetapi saat Vera hendak berbicara, Rizal mencegah Vera untuk berbicara. Rizal sudah tau apa yang hendak Vera katakan. “Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang! Kamu bisa menjawabnya nanti, setelah semuanya benar-benar mateng.” Dengan terpaksa Vera menyetujui perkataan Rizal, ia sangat capek dengan semuanya. Tapi memang benar apa yang di katakana Rizal. Vera harus memikirkan semuanya mateng jangan sampai menyesal karena salah dalam mengambil keputusan. “Okey, gua akana memikirkan nya lagi,” sahut Vera. “Sekarang kembali ke tempat, Dosen sudah datang!” pinta Rizal. Di sepanjang Dosen menjelaskan, Vera sama sekali tidak mengerti apa yang Dosen jelaskan sejak tadi. Padahal Vera sudah berusaha keras untuk mengerti tetapi tetap saja Vera tidak mengerti. Ia terus saja memikirkan Rizal bahkan rasanya kepalanya mau pecah saja. “Ayok dong Ra, loe pasti bisa!” gumam Vera. Melihat Vera yang terlihat aneh, Rizal menepuk bahu Vera dan tentu membuat Vera menghadap ke belakang. “Are you okay?” tanya Rizal. “Okay,” ucap Vera dengan mengangguk sembari tersenyum. …… “Loe pulangnya sendiri Ra?” tanya Tiara. “Ya iyalah mau sama siapa lagi,” sahut Vera sembari terkekeh. Saat sudah berada di parkiran, tiba-tiba mata Vera membelalak. Ia sangat terkejut karena tidak mendapati sepedah motornya berada di parkiran. “Perasaan tadi sepedahku ada disini, kok sekarang gak ada!” ucap Vera dengan sangat panik. Vera mencari di seluruh parkiran, tetapi ia tidak menemukan sepedah motornya sampai saat Vera melihat sepedah motornya di bawa kabur oleh seseorang laki-laki yang bukan anak kampus. “Loe mau bawa sepedah gua kemana!” teriak Vera. Vera belari mengejar sepedahnya, ia melepaskan kedua sepatunya lalu melemparkan sepatu nya ke seseorang yang mencuri sepedahanya tetapi nihil. Lemparan Vera tidak mengenai sasaran sungguh membuat Vera sangat kesal. Dengan berlari tanpa mengenakan alas kaki, Vera terus berlari mengejar sepedah nya. Tidak perduli dengan semuanya, ia tidak mau kehilangan sepedah motornya nanti jika tidak ada sepedah motor Vera berangkat ke kampus dengan menggunakan apa. “Woy!!! Berhenti!!!” teriak Vera. Keringat Vera sudah membajiri tubuhnya, tetapi Vera sama sekali tidak perduli dengan itu, Vera terus berlari sangat kencang. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD