6. Pilihan Sulit

773 Words
Setelah tigapuluh menit dalam perjalanan sampailah mereka dirumah Melodi. " Kok sepi sekali ya Ngga, mana gelap tadi didalam rumah...pada kemana ya.." " Sudah pada tidur kali...yuk turun" Erlangga menggamit lengan Melodi menuju ke arah pintu. Tok..tok .tok... Tidak ada jawaban. Melodi semakin gelisah. " Kemana ya Ngga..." tanyanya dengan wajah sangat penasaran. " Coba buka saja pintunya " jawab Erlangga sambil tersenyum " Baiklah.." Ceklek... " Selamat Ulang Tahun......!!!!!!!" Suara teriakan itu bersamaan dengan Melodi yang menyalakan lampu. Melodi diam terpaku ditempatnya, dia tak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. " Selamat ulang tahun , sayangku..semoga hidupmu selalu bahagia.." Kata Sang Ibu samabil memeluk putrinya. " Makasih mama...I love you.." jawab Melodi sambil membalas pelukan Ibunya. " Love you too sayang.." balas sang Ibu sambil mengurai pelukanya. " Ih mama gantian dong, aku juga mau ngucapin selamat ulang tahun". Rengek Radit. " Iya..iya.." " Selamat ulang tahun kakakku yang cantik yang baik, yang...ehmmm..." Radit tampak berfikir " yang terbaik semuanya. dan jangan lupa beliin hadiah yang aku tubjuki. kemarin ya.." katanya sambil cengar- cengir " Hey yang ulang tahun siapa...kenapa kamu yang minta hadiah...ih..males ah..gak asik..." Melodi cemberut, dan membuat seisi ruangan tertawa. " Eh sudah, sudah..ayo tiup lilinnya..." lerai sang ayah yang dari tadi terdiam. Acara kejutan itu berlangsung meriah, walau saja keluarga Melodi dan ditambah Erlangga. Setelah selesai acara makan malam, Ayah memanggil melodi dan semuanya duduk diruang tengah rumah Melodi. Bu Dina menyiapkan minuman dan camilan sekedarnya. " Ma, terimakasih ya surprise ya" " Terimakasih sama Erlangga dong. kan dia yang mengingatkan Ibu, dan Ibu meminta tolong dia untuk menahan mu sementara supaya kejutan ini bisa disiapkan" jelas Bu Dina panjang lebar sambil melempar senyum kearah Erlangga yang hanya terdiam dari tadi. " Ah Angga..Makasih ya.." kata Melodi sambil mengguncang lengan Erlangga manja. " Sama- sama" sahut Erlangga sambil tersenyum. " Melihat kalian Papa sangat bahagia, serasa papa punya tiga anak, Erlangga , Melodi, dan Radit" Kata pak Hardi sambil tersenyum melihat kearah mereka bertiga bergantian. kemudian melanjutkan bicaranya " Mumpung ada Erlangga, Papa mau menyampaikan sebuah berita untuk kalian, karena kamu sudah Papa anggab sebagai bagian dari keluarga ini ngga.." " Terimakasih Om..." Erlangga tersenyum. " Mel...ini untukmu..apakah kamu siap mendengarnya, sebenernya ini sudah lama papa simpan, sengaja menunggu waktu yang pas." Kata Pak Hardi lagi. " Apaan sih pa...jadi penasaran " Semua hening menunggu Pak Hardi berbicara. Mereka jadi tidak berani bercanda karena melihat wajah Pak Hardi yang tampak serius dan seperti menahan suatu beban. " Mel,, sudah dari sejak dua tahun lalu, Papa menyimpannya, dan sekarang Papa sampaikan. Kamu tahu Om Prayoga kan..?" tanya Hardi. " Iya pa..kenapa dengan Om Prayoga?" Melodi balik bertanya ke Ayahnya. " Anaknya Arrey sudah pulang dari studynya di Paris. Dan Kami sepakat untuk menjodohkan kalian " Kata Pak Hardi dengan penuh penekanan. Dan tak terbayangkan reaksi Melodi dan Erlangga. Mereka seperti tersambar petir disiang bolong. Kaku tegak ditempat tak bergerak saking kagetnya. " Mel, kamu tahu Om Prayoga sudah banyak membantu kita, mulai dari pendidikanmu sampai untuk memenuhi kebutuhan rumah kita " Hardi menarik napas berat kemudian melanjutkan lagi. " Selama ini Papa tidak pernah meminta apapun dari kamu, Dan ini untuk pertama kali Papa minta ke kamu untuk menyetujui perjodohan ini, demi Papa" Bukanya Pak Hardi tidak tahu dengan kedekatan Melodi dan Erlangga, tapi memang dia tidak pura- pura tidak tahu dan mengganggap mereka kakak beradik. Semua itu karena janji dan hutang budinya kepada keluarga Prayoga. Melodi lemas ditempatnya, inginmenangis tapi air mata tidak bisa keluar. Dia sudah tidak mampu untuk menahan beban tubuhnya dan langsung terkulai disamping Erlangga yang masih tampak membeku ditempatnya " Melodi" " Kakak" Teriak Bu Dina Dan Radit berbarengan membuat Erlangga terlonjak dan langsung menoleh kearah Melodi yang terkulai tak sadarkan diri disampingnya. " Mel....sadar Mel...." kata Erlangga gugup sambil menepuk-nepuk pipi Melodi. "Tolong bawa kekamar Ngga " pinta Bu Dina yang terlihat sangat panik, Airnya matanya meluncur bebas membasahi pipinya. Erlangga mengangkat tubuh Melodi kekamar. Dia menatap wajah Melodi. Perasaanya campur aduk tidak karuan. Sungguh ini pilihan yang sangat sulit. Baik untuk dirinya ataupun Melodi. Direbahkan tubuh Melodi diranjang. Dipandanginya wajah pucat Melodi. Dia tersenyum getir. " Terima Kasih ngga, kamu boleh pulang sekarang, biar Ibu yang merawat Melodi." kata Bu Dina. Sebenarnya dia tidak tega melihat keadaan Erlangga dan Melodi. Tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak bisa menghindari semua kejadian ini. " Kalau begitu Angga permisi Tante" " Hati- hati nak" kata Bu Dina sambil menepuk bahu Erlangga. " Terimakasih Tante"..jawab Erlangga sambil melangkah gontai menuju pintu keluar dan berpapasan denga Pak Hardi dan dokter yang baru saja datang. Erlangga hanya mengangguk dan langsung menjalankan motornya membawa berjuta kehancuran dan kepedihan hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD