PERANG EMPAT KAISAR

644 Words
PERANG EMPAT KAISAR - DUNIA TUNDUK ATAU MATI* --- Tujuh hari. Itu ultimatum yang diberikan Chen Mo. Tujuh hari untuk 4 benua lain tunduk atau musnah. Hari pertama tidak ada jawaban. Hari kedua utusan dari Benua Barat datang. Kepalanya dipenggal dan dikirim balik dalam kotak. Hari ketiga Benua Selatan membakar bendera Chen Mo di depan umum. Hari keempat Benua Utara mengaktifkan 10 ribu formasi pertahanan. Hari kelima Benua Tengah, tempat Sekte Tersembunyi tinggal, tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya mengirim satu surat. Isinya satu kata: `DATANG`. Chen Mo tertawa ketika membaca surat itu. "Bagus. Mereka mengerti." Dia berdiri dari takhta naga. Di bawahnya 1 juta prajurit bekas kekaisaran sekarang berlutut dengan bendera hitam. "Siapkan pasukan." Perintahnya. "Kita akan mengunjungi 4 benua dalam satu hari." Hari keenam Chen Mo menghilang dari ibukota. Tidak ada yang tahu kemana. Hari ketujuh fajar. Langit di atas 4 benua menghitam bersamaan. Di Benua Barat Kaisar Pedang berdiri di atas tembok kota terbesar. Di belakangnya 2 juta prajurit. "Dia tidak akan berani datang ke sini." Katanya. Kalimatnya belum selesai ketika bayangan jatuh dari langit. Chen Mo. Sendiri. "Kau salah." Katanya. Satu kepakan sayap. 2 juta prajurit terbelah jadi dua. Kota runtuh. Kaisar Pedang mati dengan mata terbuka. Butuh 3 menit. Di Benua Selatan Kaisar Api sedang melakukan ritual pengorbanan 10 ribu gadis untuk memanggil dewa pelindung. Api ritual setinggi 100 meter. Chen Mo muncul di tengah api. "Memanggil dewa?" Katanya. "Aku ini dewa." Dia menelan api itu. Lalu memuntahkannya. Seluruh kerajaan terbakar. Kaisar Api meleleh. Butuh 4 menit. Di Benua Utara Kaisar Es bersembunyi di dalam istana es yang katanya tidak bisa dihancurkan. Chen Mo meninju sekali. Istana es jadi debu. Kaisar Es dibekukan dari dalam. Butuh 2 menit. Dan di Benua Tengah. Di Gunung Tersembunyi. 10 ribu tetua dari Sekte Tersembunyi sudah menunggu. Mereka bukan sekte biasa. Ini sekte yang sudah hidup 100 ribu tahun. Yang melatih para dewa. Pemimpin mereka, Tetua Tertinggi, sudah hidup 50 ribu tahun. Tahap Half-Step Immortal. "Chen Mo." Kata Tetua Tertinggi. "Kau melangkah terlalu jauh." Chen Mo mendarat di tengah mereka. "Dan kalian terlalu lama diam." Pertarungan dimulai. 10 ribu tetua tahap Deity Transformation menyerang bersamaan. Langit retak. Bumi terbalik. Laut menguap. Chen Mo bertarung 1 lawan 10 ribu. Dia terluka. Pertama kalinya sejak bangkit. Darah hitam menetes dari sudut mulutnya. "Bagus." Katanya sambil menjilat darahnya sendiri. "Lama tidak merasakan sakit." Dia meraung. Aura iblisnya meledak. Seluruh gunung hancur. 10 ribu tetua mati. Tinggal Tetua Tertinggi. "Kau monster." Kata Tetua Tertinggi sambil batuk darah. "Dunia tidak akan membiarkanmu." "Dunia?" Chen Mo berjalan mendekat. "Akulah dunia sekarang." Dia mencengkeram kepala Tetua Tertinggi. "Ingat nama ini. Chen Mo. Raja Jurang. Kaisar Segala Benua." Kepala itu meledak. Hening. Dalam satu hari 4 benua jatuh. 4 kaisar mati. 10 juta orang mati. Dan satu orang berdiri di atas semuanya. Malam itu Chen Mo kembali ke Ibukota Naga Langit. Dia duduk di takhta. Di bawahnya Sui Mei berlutut. "Seluruh dunia sudah tunduk." Kata salah satu jenderal baru. Chen Mo mengangguk. "Bagus." Dia menatap Sui Mei. "Kau lihat? Ini hasil dari pengkhianatanmu." Sui Mei tidak menjawab. Dia sudah tidak bisa bicara. Jiwanya hancur. Chen Mo berdiri. "Umumkan. Mulai besok seluruh benua akan disatukan. Satu hukum. Satu raja. Namaku." Dia berjalan keluar istana. Ke balkon tertinggi. Di bawahnya seluruh dunia berlutut. 1 miliar orang. Berlutut pada satu nama. "Chen Mo." Dia mengangkat tangan. Langit yang tadinya hitam sekarang merah. Bulan darah muncul. "Era baru dimulai." Bisiknya. "Era Iblis." Di kejauhan di dasar laut terdalam, di dimensi lain, sesuatu membuka mata. Sesuatu yang lebih tua dari Tetua Tertinggi. Sesuatu yang merasakan kebangkitan raja baru. Dan tersenyum. "Akhirnya." Bisik suara itu. "Permainan dimulai." Tapi Chen Mo tidak mendengar. Dia terlalu sibuk menatap dunianya. Dunia yang dia rebut dengan darah. Dunia yang sekarang miliknya. Dia mengepalkan tangan. "Selanjutnya... surga." Dan petir menyambar. Menandai awal dari perang yang lebih besar. Perang melawan langit itu sendiri. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD