MALAM BERDARAH

884 Words
MALAM BERDARAH - SEKTE LANGIT BIRU TERBAKAR* --- Angin malam berdarah. Itulah yang pertama kali dirasakan para penjaga Sekte Langit Biru ketika mereka melihat bayangan hitam melesat dari arah Jurang Terlarang. Kecepatan itu tidak manusiawi. Tidak ada kultivator di dunia ini yang bisa terbang setinggi itu tanpa pedang terbang atau formasi. Tapi bayangan itu tidak butuh keduanya. Dia hanya mengepakkan sayap dan langit terbelah. Chen Mo berhenti di atas gerbang utama sekte. Tiga ribu meter yang dulu jadi jarak kematiannya sekarang jadi jarak pembalasannya. Di bawahnya gerbang batu setinggi 20 meter dengan ukiran naga biru masih berdiri megah. Di atas gerbang tertulis `SEKTE LANGIT BIRU - TEMPAT ORANG SUCI`. Dia tertawa. Tawanya tidak keras. Tapi seluruh gunung bergetar. Salju di puncak gunung rontok. "Orang suci?" Bisiknya. Suaranya menyebar ke seluruh lembah. "Mari kita lihat seberapa suci kalian." Dia mengangkat satu tangan. Di telapak tangannya muncul bola api hitam. Bukan api biasa. Ini Api Nirvana Iblis. Api yang memakan spiritual energy. Api yang tidak bisa dipadamkan air. Dia melemparnya. Bola itu menghantam gerbang. Tidak ada ledakan. Hanya hening selama satu detik. Lalu gerbang itu meleleh. Batu sekeras baja mencair seperti lilin. Ukiran naga menjerit sebelum berubah jadi abu. Alarm sekte meraung. Lonceng peringatan dibunyikan seribu kali. Dari dalam aula utama para tetua keluar dengan panik. Di depan paling depan berdiri Ketua Sekte Langit Biru. Pria tua berambut putih dengan jubah biru. Di sampingnya Sui Mei. Wajahnya pucat. "Apa yang terjadi?" Teriak ketua sekte. "Siapa yang berani menyerang—" Kalimatnya terpotong. Karena dia melihatnya. Pria dengan sayap hitam. Mata merah. Rambut panjang terbakar api hitam. Tubuh yang dulu dia buang sendiri ke jurang. "Tidak mungkin..." Bisik ketua sekte. "Jurang Terlarang... tidak ada yang kembali..." Chen Mo turun pelan. Kaki telanjangnya tidak menyentuh tanah. Dia melayang satu meter di atas tanah. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hitam yang membakar rumput. "Kau benar." Katanya. Suaranya serak tapi jelas. "Tidak ada yang kembali. Karena orang yang kalian buang... sudah mati." Dia menunjuk dadanya. "Yang berdiri di sini sekarang adalah Chen Mo. Raja Jurang." Seluruh murid mundur. Ketakutan. Aura yang keluar dari tubuh Chen Mo terlalu berat. Terlalu jahat. Ini bukan aura kultivator. Ini aura iblis sejati. Sui Mei menutup mulutnya. Air mata jatuh. "Li Chen...?" Suaranya bergetar. Chen Mo menoleh padanya. Pelan. Mata merahnya menatap lurus ke mata Sui Mei. "Jangan sebut nama itu." Katanya dingin. "Nama itu mati bersamamu saat kau mendorongku." Sui Mei tersentak seperti ditampar. "Aku... aku tidak punya pilihan. Ketua sekte mengancam akan membunuh seluruh keluargaku jika aku tidak..." "Diam." Potong Chen Mo. "Alasan. Aku muak dengan alasan." Dia mengangkat tangan lagi. Dari tanah muncul ratusan rantai hitam. Rantai itu melesat ke segala arah, menembus dada para murid yang mencoba kabur. Darah menyembur. Jeritan memenuhi malam. "Ini baru permulaan." Kata Chen Mo. Ketua sekte akhirnya sadar. Dia mengeluarkan pedangnya. Pedang Langit Biru. Artefak tingkat langit. "Iblis! Kau berani mengotori tanah suci!" Dia melompat. Kecepatannya seperti petir. Tebasan pertama mengarah ke leher Chen Mo. Chen Mo tidak menghindar. Dia menangkap pedang itu dengan tangan kosong. Gagang pedang terbakar hitam di tangannya. "Terlalu lambat." Bisiknya. Dengan satu hentakan dia mematahkan Pedang Langit Biru. Pecahan pedang menghujam ke tanah. Ketua sekte terbelalak. "Bagaimana... bagaimana mungkin..." "Karena kau melawan manusia." Kata Chen Mo. "Aku bukan manusia lagi." Dia meninju. Satu pukulan. Ke dada ketua sekte. Tidak ada darah. Tubuh ketua sekte langsung hancur jadi debu. Dari kepala sampai kaki. Tidak tersisa apa-apa kecuali jubah biru yang jatuh kosong ke tanah. Hening. Seluruh sekte hening. Bahkan angin berhenti. Para tetua yang tadinya mau menyerang langsung berlutut. Gemetar. "Ampun... ampun Raja Iblis..." "Ampun?" Chen Mo memiringkan kepala. "Kalian kasih aku ampun saat aku jatuh ke jurang?" Dia berjalan melewati mereka. Tidak ada yang berani menghalangi. Dia berhenti di depan Sui Mei. Gadis itu tidak lari. Dia hanya berdiri di sana, menangis. "Kenapa tidak lari?" Tanya Chen Mo. "Karena... karena aku pantas mati." Jawab Sui Mei sambil terisak. Chen Mo mengangkat dagunya dengan satu jari. Memaksa Sui Mei menatap matanya. "Kau benar. Kau pantas mati." Jarinya mulai mengeluarkan aura hitam. Aura itu merayap ke leher Sui Mei. Mencekik pelan. Sui Mei tidak melawan. Dia memejamkan mata. Menunggu kematian. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tapi kematian tidak datang. Chen Mo melepaskannya. "Tapi aku tidak akan membunuhmu." Katanya. "Aku mau kau hidup. Aku mau kau melihat. Melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang kau cintai. Melihat sekte ini terbakar. Melihat dunia ini tunduk padaku." Dia mundur selangkah. "Dan setelah itu... baru kau boleh mati." Dia berbalik. Menghadap seluruh sekte. "Bakar." Perintahnya. Dari langit turun hujan api hitam. Atap aula terbakar. Perpustakaan yang berisi 10 ribu kitab hancur dalam 5 menit. Ladang obat musnah. Patung pendiri sekte meleleh. Teriakan. Tangisan. Bau daging terbakar. Dalam satu malam Sekte Langit Biru yang berdiri 2000 tahun... rata dengan tanah. Ketika fajar tiba, tidak ada yang tersisa kecuali abu dan puing. Chen Mo berdiri di atas reruntuhan gerbang. Di belakangnya Sui Mei duduk lemas, hidup tapi jiwanya sudah mati. "Bagus." Kata Chen Mo pada dirinya sendiri. "Langkah pertama selesai." Dia menatap ke arah timur. Jauh di sana ada 8 sekte besar lainnya. "Selanjutnya... giliran kalian." Dia mengepakkan sayap. Dan terbang. Meninggalkan neraka yang dia ciptakan. Di bawah, di tengah abu, Sui Mei berbisik. "Li Chen... maafkan aku..." Tapi yang menjawab hanya angin. Dan api yang masih membakar. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD