Perginya Pakde

1232 Words
 “Ibu … ibu, maaf kami sudah landing” suara seorang wanita menyadarkan dari lelapku. Dengan tergesa-gesa aku segera bangkit dan membawa bawaanku. Kulihat aktivitas di bandara sudah sepi, hanya tersisa beberapa orang lagi. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat. Wah sampai rumah jam berapa lagi nih. Pikiranku mulai was was, apalagi dibarengi kejadian-kejadian tadi. Jam segini ga mungkin lagi aku naik bis di terminal, jadi ku putuskan carter taxi argo. Lebih baik korban uang lebih dan aman daripada aku harus kelelahan lagi menanti bis.Akhirnya tibalah di dekat kampungku. Dengan penerangan seadanya, terlihat kampung itu tetap gelap, karena kampungku dan sekitarnya masih belum terjamah listrik negara, jadi umumnya warga menggunakan lampu teplok. Karena mobil tidak bisa masuk kedalam kampungku karena harus melalui jembatan, dan hanya bisa dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Jarak antara jembatan menuju kampungku sekitar 500 meter. Memang tidak jauh tapi perjuangan yang harus ku tempuh mengalahi sensasinya balapan GP. Dan juga jembatan ini satu-satunya jalur yang dapat dilalui menuju kampungku. Sampai di jembatan, ada sebuah pos kamling yang biasanya digunakan untuk berjaga para warga. Tapi malam itu sepertinya lagi libur yang jaga. Aku yang sudah terlanjur sampai, mau ga  mau harus melalui jalur itu. Begitu turun dari taxi hawa sejuk sudah menyelimuti sekujur tubuhku. Padahal aku sudah menggunakan pakaian tebal dan jaket. Mungkin karena kampungku nuansa alam nya masih alami, makanya hawa dingin tetap terjaga. Dari jauh aku lihat ada cahaya di ujung jembatan itu, sepertinya cahaya api sebuah obor. Aku juga kurang jelas karena gelapnya malam. Hanya cahaya itu yang tampak dari kejauhan. Alhamdulillah, akhirnya ada orang juga yang lewat, aku jadi ada keberanian walaupun hanya sedikit. Aku percepat langkahku agar tidak terlalu jauh selisihnya dengan orang yang lewat nantinya. Dengan mengandalkan cahaya dari HP ku, sesekali ku sinari cahaya itu, namun masih belum terlihat jelas. Semakin lama karena langkahku agak cepat, jarak kami semakin dekat. Tapi ada yang aneh, aku merasa ada sesuatu yang ganjil dari cahaya itu. kok semakin dekat cahaya itu membesar, sebesar 2 kali kepala manusia. Biasanya kalau api obor cahayanya tidak sebesar dan seterang itu. Jarak kami semakin dekat, sisa kurang lebih 10 langkah lagi, dan … Dan cahaya itu ternyata sebuah kepala yang tanpa badan. Cahayanya warna merah, seperti api. Astaghfirullah, aku hanya termangu melihat dia lewat berselisih dengan ku. Mulutku tak dapat mengucap sepatah katapun. Hanya kepala dengan rambut panjang yang acak-acakan, dan tulang badan yang disertai isi dalam tubuh manusia, semua isinya terlihat jelas. Dengan bau amis dan darah yang sepertinya masih segar terlihat masih ada dari mulutnya. Sosok itu seorang wanita. Ya Allah semoga dia tidak melihatku, doaku dalam hati. Mataku tidak bisa ku pejamkan, badanku pun tak mampu ku gerakkan, seakan terpaku di tempat. Dalam hati hanya membaca Istighfar dan Shalawat, sambil ku percepat lagi langkahku. Tinggal sedikit lagi langkahku mencapai ujung jembatan. Buggghhh … Aku menabrak sesuatu, entah itu apa. ”Maaf Mba” suara lelaki menegurku. “Maaf, maaf Mas, saya yang salah tadi ga lihat jalan …” kataku terburu-buru. “Lho Mba Meli yo??” kata suara itu lagi, seperti mengenaliku. “Maaf Mas nya siapa ya??” tanyaku “Aku anaknya Pakde Mba, Ade sepupumu si Karyo yang dulu sering temani Mba main di sawah.” “Oalah kamu tho Yo, gelap soale Yo dadi ra keto awakmu, ayo wes kita langsung ke rumahmu aja, nanti kita lanjut ceritanya di rumahmu, Mba sudah lelah seharian ini.” Tibalah aku di rumah padeku. Ya Allah aku langsung disuguhi lagi pemandangan yang menyedihkan. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Hanya air mata saja yang mampu menggambarkan kondisiku saat itu. Aku coba melangkah mendekat secara perlahan lahan agar tidak membangunkannya. Pakde yang dulu ku kenal sangat menyayangiku melebihi rasa sayangnya kepada anaknya sendiri, kini hanya terbaring lemah tak berdaya di sebuah kasur tipis diatas ranjang yang sudah reot. Pandangan beliau hanya menatap kosong keatas. Badan Pakde hanya tersisa tulang, karena baju yang digunakannya begitu tipis juga jadi terlihat jelas barisan tulang-tulang rusuk beliau. Begitu juga dengan bawahannya hanya sebuah sarung tipis yang menutupi. Tidak ada selimut yang menyelimuti tubuh kurus tersebut. Walaupun penerangan di rumah Pakde ala kadarnya. Aku masih bisa melihatnya dan langsung mendekati beliau. Ku duduk perlahan di sisi Pakde. Air mataku terus tumpah, aku berusaha tidak mengeluarkan suara, agar Pakde tidak terbangun. Tapi isak tangisku rupanya membuat ia memang tak bisa ku bohongi, ternyata beliau tidak tidur, dia sengaja tidak tidur begitu karena mendengar aku akan pulang kampung. Sejak lama ia memang sudah menanti ku. “Koe kah iku Mel?” kata Pakde ku dengan nada yang serak dan berat. “Iya Pakde” akhirnya aku ga mampu lagi membendung air mataku, sambil ku peluk Pakde ku. Terasa lepas semua beban dan masalah yang ada di pundakku meski di depanku orang yang kusayangi  lagi sakit. “Sudah nduk, sudah … ini sudah kehendak Allah, kamu sehat aja to, anak-anakmu dan suamimu ora melu to nduk?” Aku belum berucap sepatah katapun, ku coba lambaikan tanganku pada mata Pakde, karena ia bicara tidak focus pada mataku. Dan ternyata Pakde tak bisa melihat juga. Sedihku jadi bertambah lagi. Ada yang tidak terlihat ketika aku tiba di rumah Pakde. Ya, itu adalah istri dari Pakde ku. Sedari tadi aku tidak melihat beliau di sisi suaminya. Aku coba tanyakan pada Karyo, ternyata beliau lagi menginap di rumah saudaranya yang lain. Langsung dahi ku bekernyit keheranan. Bagaimana bisa ia meninggalkan Pakde seorang diri dalam keadaan sakit begitu. Tapi aku coba berpikiran positif, mungkin ada urusan urgent hingga terpaksa ia harus meninggalkan suaminya sementara. Malam semakin larut setelah cukup aku saling lepas kangen dengan Pakde, aku duduk di sebuah kursi di sisi Pakde. Ku berikan selimut yang memang sudah ku bawa dari rumahku. Sambil ku tatap kembali Pakde yang sudah ku anggap seperti ayah ku sendiri. Aku merasa belum mau lepas dari Pakde. Mungkin karena kedekatan emosional ku dengan beliau. Mataku pun tak mampu terpejam meski aku sudah lelah dan mengantuk karena seharian perjalanan tadi. Tapi melihat kondisi Pakde, rasa lelah tersebut seakan sirna. “Allahu Akbar, Allahu Akbar … Allahu Akbar, Allahu Akbar …” suara adzan subuh mengumandang. Hmmmm badanku terasa pegal semua, seperti digebuki orang sekampung. “Hoahhhhmmmm…” hanya beberapa saat waktuku istirahat. Aku lihat Pakde masih terlelap dengan expresi senyum, agak aneh juga ya Pakde ku tidur sambil tersenyum begitu. Terlihat beliau begitu bahagia, menikmati waktu istirahatnya. Beranjak aku dari tempat dudukku. Melangkah ku ke belakang rumah. Suasana subuh itu masih terlihat gelap. Aku ambil air wudhu dari sumur. Byurrr … brrrr ademnya. Sudah lama aku tidak bersentuhan dengan air di kampung asal ku. Karena kota yang sekarang ku diami cuacanya panas terus. Jadi air dingin yang benar-benar alami sudah sangat sulit didapat di kotaku. Selesai wudhu, segera ku jalankan perintah-Nya. “Assalammualaikum Warahmatullah … Assalammualaikum Warahmatullah…” Alhamdulillah selesai sudah ku jalan kan kewajibanku sebagai hamba-Nya. Tiba-tiba terdengar suara lemah dank has “Nduk, terima kasih ya sudah datang lihat Pakde” suara itu terdengar tidak asing di telingaku dan herannya aku tidak terkejut, justru aku merasa senang dan bahagia. Air matapun seketika menetes. “Pesan Pakde perkuat iman mu, jangan pernah tinggalkan solatmu, karena itu semua jawaban dari semua masalahmu” amanat Pakde begitu mendalam. Aku hanya tertunduk menangis mendengarnya. Sebenarnya masih banyak amanat Pakde yang disampaikan, hanya saja aku sudah tak sanggup lagi mendengar dan menyaksikan semua kejadian-demi kejadian, baik yang dialami Pakde dan keluargaku juga. “Yo wes Nduk, Pakde pamitan yo, podo rukun yo Nduk karo sedulur semua … Assalammualaikum” dengan penuh senyuman yang mengiringi kepergian Pakde. “Waalaikumsalam …” sambil berlinangan air mata ku jawab dalam hati. Mengapa harus begini caranya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD